Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Tolong Aku!


__ADS_3

"Sudah selesai bicara?" Suara berat pangeran Arshlan terdengar agak lemah.


Pluk


Sang pangeran memeluk putri Estelle yang berada beberapa sentimeter di hadapannya.


"Hmmm ... hmmmm ...." Napas pangeran Arshlan terdengar berembus keras. Sesekali ia menggeram dalam pelukan putri Estelle.


"P-pangeran! Pangeran Arshlan! Jangan mes*m padaku! Berani-beraninya kau!" Putri Estelle memukuli punggung sang pangeran dan sebelah tangannya berusaha mendorong dada pangeran Arshlan.


"Pangeran Arshlan!" jerit putri Estelle.


"Hmmmm ... hmmmm ...." Sang pangeran tak menjawab, hanya deru napas tak beraturan yang terdengar dari mulut pangeran Arshlan.


Karena pangeran tak menjawab, sementara deru napas pria yang sedang meletakkan dagu di bahu sang putri itu semakin berat dan mengeratkan pelukannya.


Putri Estelle berhenti memukuli pangeran Arshlan. Apa ini bagian dari sandiwara sang pangeran?


Putri bertanya-tanya dalam hati. Ia ragu saat hendak menaikkan tangannya dan membalas pelukan pangeran Arshlan.


Sang pangeran memeluknya dengan erat, seakan ada isyarat untuk meminta sebuah perlindungan.

__ADS_1


Putri Estelle berjingkat sejenak saat meraba bagian belakang kepala pangeran Arshlan yang dingin.


Sang putri melirik ke sebelah kanan, tempat pangeran Arshlan meletakkan dagu di bahunya. Ia bisa merasakan sesuatu yang cukup basah menempel di telinganya. Dirinya baru menyadari jika itu berasal dari dahi sang pangeran yang berkeringat.


"Pangeran?" Putri Estelle masih belum berani menyimpulkan semua dugaan dalam pikiranny. "Apa yang terjadi padamu?"


Setelah sekian banyak tuduhan dari sang putri untuk pangeran, ia baru berani bertanya apa yang sudah terjadi sekarang.


"Biarkan aku ... memelukmu," ucap sang pangeran lirih.


Putri Estelle terdiam. Rasanya ia ingin melepaskan diri dari sang pangeran, namun ia juga tak tega melihat kondisi pangeran Arshlan seperti ini.


Biasanya ia melihat pangeran Arshlan selalu kuat. Semangat dan keberaniannya selalu menebar ke setiap orang yang ia temui. Walau setiap bertemu dengannya, tingkah usil pangeran Arshlan selalu menyebalkan.


Suhu dingin menyapa setiap ujung jemari putri Estelle yang menyentuh kulit leher bagian belakang pangeran Arshlan.


Perlahan, putri menarik sebuah garis menyusuri lekuk leher pangeran Arshlan yang terasa lembab oleh keringat.


"Beristirahatlah di dalam," ujar putri Estelle pada pangeran Arshlan.


Sang pangeran tak menjawab, ia juga merasa dirinya memang butuh istirahat untuk memulihkan tenaga dalamnya.

__ADS_1


Putri Estelle mengajak sang pangeran untuk masuk ke kamarnya dibantu oleh para dayang. Dia menatap wajah pangeran Arshlan yang dipenuhi keringat dingin.


Sang putri pun memutuskan untuk meninggalkan pangeran Arshlan agar beristirahat di kamar miliknya.


Greep!


Putri Estelle menghentikan langkah karena seseorang memegangi lengannya.


"Apa kau sedang membuat drama agar aku tetap tinggal di sini menemanimu? Jangan mimpi!" Judesnya sang putri telah kembali.


Namun pangeran Arshlan menarik tangan putri Estelle, sehingga sang putri hampir terjatuh dan wajahnya berada di dada pangeran Arshlan.


"Apa aku harus selalu sambil memelukmu, agar kau mau mendengarkanku?"


Pertanyaan sang pangeran membuat putri Estelle terpaku. Pria itu selalu berhasil membolak-balikkan hatinya dan membuat jantungnya berdebar-debar. Melebihi dari candu akibat kafein dalam segelas kopi.


"Tolong bawakan aku rumput mandelish dan ginseng hutan!" pinta sang pangeran.


Rumput mandelish dan ginseng hutan adalah tumbuh-tumbuhan untuk membuat resep herbal yang dapat membantu seseorang memulihkan tenaga dalam.


"Kau memerintahku? Aku tidak mau!"

__ADS_1


"Kalau begitu aku tidak akan segera pulih dan akan terus tidur di kamarmu. Bagaimana, kau suka?"


__ADS_2