Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Gawat


__ADS_3

"Nenek dengar kalian baru saja menghabiskan waktu bersama?" tanya ibu suri Theresa pada sang putri.


Saat itu, putri Estelle sedang berdandan dengan menggunakan gaun malamnya. Seorang dayang membantunya menyisir, mengeringkan dan merapikan rambutnya. Sementara seorang lainnya sedang mengoleskan krim perawatan untuk malam hari bagi seorang putri.


"Nenek?"


Mendengar suara ibu suri, putri Estelle langsung menoleh dan seluruh dayang menghentikan aktivitasnya.


"Jadi, iya?" tanya sang ibu suri sekali lagi.


"Maksud nenek?" Putri Estelle berpura-pura seolah ia tak tahu.


"Apa kau dan pangeran Arshlan telah berkencan, cucuku?"


Putri Estelle membelalakkan matanya seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Ti-tidak."


Sementara itu, para dayang malah saling tersenyum mendengar pertanyaan nenek.


"Sssh!" Tuan putri melirik pada dayang-dayangnya dan meminta mereka untuk diam.


"Aku dengar, pangeran Arshlan sebenarnya masih belum sembuh sepenuhnya. Menurut dokter senior istana, setidaknya sang pangeran akan mengalami hipotermia jika ia kehilangan tenaga dalam."


Ibu suri berjalan mendekat pada putri Estelle.


"Kehilangan banyak tenaga dalam bagi seorang pendekar, bisa berakibat fatal jika tidak segera diisi kembali. Tenaga dalam pada tubuh pendekar, ibarat tulang untuk orang biasa, jadi dia-"


Putri Estelle mendengarkan perkataan neneknya, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu dan memutuskan untuk pergi.


"Aku pergi dulu, Nek!" pamit sang putri.


"Tuan putri, rambutnya!"


Sang putri melepas sendiri jepit terakhir pada rambutnya. "Ini!" ujarnya sambil meletakkan jepit rambut tersebut pada tangan dayangnya.

__ADS_1


"Kau mau ke mana? Orang tua ini sedang berbicara," protes sang nenek karena cucunya pergi di saat ia sedang berbicara


"Maafkan aku, Nek! Tidak ada waktu lagi."


Sang putri berjalan terburu-buru keluar dari kamarnya. Ia pun hendak menuju ke dapur istana.


Hening.


Seluruh dapur istana yang sangat berisik karena aktivitas memasak, tiba-tiba menjadi hening begitu kedatangan putri Estelle.


"Apa ada yang bisa kami bantu, Tuan Putri?" para koki istana membungkukkan badannya.


Sang putri masuk ke dapur tanpa menjawab. Ia menuju ke arah rak bahan makanan dan mencari-cari sesuatu.


"Ada yang tuan putri butuhkan?"


Sang putri yang sedang berjongkok di depan rak pun berdiri kembali. Ia mengedarkan pandangan untuk menemukan yang ia cari.


"Kalian lihat rumput mandelish dan ginseng hutan yang kudapat hari ini?" tanya sang putri.


"Apa kami buatkan lagi ramuan untuk pangeran Arshlan?" tanya pegawai dapur itu lagi.


"Kau sudah membuat dan memberikan untuknya?"


"Emmm ... itu ... belum, Tuan Putri."


Sang putri terlihat panik. "Kalau begitu cepat buatkan!" seru putri Estelle.


Semoga dia baik-baik saja!


Tak perlu menunggu lama, ramuan itu sudah tersedia di hadapan sang putri. Ia pun membawa sendiri ramuan itu ke tempat pangeran Arshlan.


Tok tok tok

__ADS_1


Putri Estelle mengetuk pintu kamar pangeran Arshlan. Dia tampak sedikit gugup.


Tok tok tok


"Pangeran! Aku membawakan ramuan untukmu!" teriak sang putri.


Aduh! Kenapa aku bilang begitu, nanti dia besar kepala karena tau aku yang mengantarnya.


"Ehmm ... ehm ...." Putri Estelle mengulanginya lagi.


Tok tok tok


"Oke! Ini akan sangat jarang terjadi dan aku tidak akan mengulang lagi hal ini. Pangeran! Aku membawa ramuan ini untukmu!"


Ini sangat aneh, dia tidak kabur, kan?


Tok tok tok


"Ini nenekku yang menyuruhku! Jadi aku akan minta pengawal menggebrak pintu jika kau tidak membukanya!"


Putri Estelle mengangguk pada pengawal agar mendobrak pintu.


Brak!


Jangan-jangan benar dia sudah pergi.


Raut wajah sang putri tiba-tiba sedih karena melihat ranjang pangeran Arshlan kosong.


"Ada di mana pangeran Arshlan?" tanyanya pada pengawal yang berjaga di pintu luar.


Sang putri terus melangkah ke dalam. Lalu ia pun terkejut saat matanya melihat sesuatu di atas lantai.


"Pangeran?"

__ADS_1


*


Sang putri mah gengsinya tinggi. Haiiih, orang cantik mah bebas.


__ADS_2