
"Selamat pagi, Pangeran Arshlan. Silakan duduk di kursimu." Ratu Allura mempersilakan sang pangeran yang baru datang.
Salah satu pelayan langsung menari sebuah kursi dan mempersilakan sang pangeran untuk mendudukinya.
"Yah, semoga kau suka dengan makanan sederhana kami." Sang ibu suri merendah seraya menunjukkan hidangan-hidangan lezat hasil masakan para koki di dapur istana.
Pangeran Arshlan tersenyum dan mengangguk. Makanan-makanan sederhana yang dikatakan ibu suri ini terlalu mewah baginya.
Karena di Yorksland, dirinya sering mengatur makanannya. Ia tak pernah memakan makanan yang banyak mengandung lemak jenuh, karbohidrat di luar perhitungan kadar kebutuhannya, setiap kalori yang masuk selalu ia perhitungkan demi menjaga kestabilan tenaga dalamnya.
Seekor ayam yang dibakar tanpa bumbu ditambah dua potong ubi rebus dan beberapa jenis sayuran mentah, ia makan setiap hari. Tanpa perasa atau tambahan lainnya. Paling hanya sesekali ia mencicipi makanan seperti itu, untuk selingan.
"Kemana sang putri, dia belum terlihat ke mari?" tanya ibu suri Theresa yang melihat kursi makan milik sang putri masih kosong.
Ratu Allura pun tak tahu ke mana pergi putrinya. Tidak biasanya ia terlambat untuk sarapan pagi seperti sekarang ini.
"Pelayan, coba kalian panggil putri untuk segera bergabung sarapan di sini. Semuanya telah berkumpul menunggunya!" titah sang ratu pada pelayan.
__ADS_1
Namun seorang dayang istana datang dan menyela. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Putri Estelle sedang di dapur. Dia berpesan harap menunggu sebentar lagi karena ia akan segera bergabung."
Sang ratu sedang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa dia sedang memasak sesuatu?" tanya ibu suri.
Sang dayang tersenyum seraya membungkukkan badannya tanpa menjawab pertanyaan Yang Mulia Ratu.
Tak sampai lima menit berselang. Putri Estelle datang bersama para dayang mengiringinya dari belakang.
"Apa yang kau bawa itu, Tuan Putri? Apa makanan dari para koki ini kurang untukmu?" tanya sang ratu penasaran.
Sementara itu, dayang-dayang putri Estelle membawa ubi rebus dan juga sayur-sayuran mentah yang sudah dicuci bersih.
"Berdasarkan informasi yang kudapat, pangeran Arshlan tidak memakan makanan seperti ini, Bu, Nek," ujar putri Estelle sambil tersenyum pada sang pangeran.
Sementara itu, pangeran Arshlan menatap putri Estelle dengan aneh.
__ADS_1
Apa aku sedang bermimpi?
Pangeran Arshlan meragukan apakah yang ia lihat di depannya benar sang putri? Sang putri yang selalu bersikap acuh dan judes padanya, kini membawakan makanan khusus untuknya.
Meski ia mengangkat alisnya untuk menunjukkan ekspresi ragu dari hatinya, namun sang pangeran tetap tersenyum dan memperlihatkan rasa bahagianya.
"Dari mana kau tahu semua ini, sayang?" tanya ibu suri.
"Aku ... aku mencari tahu semuanya, Nek." Putri Estelle menjawab pertanyaan ibu suri seraya duduk di kursi yang telah ditarik oleh dayangnya. Kursi itu adalah kursi yang berhadapan dengan milik pangeran Arshlan.
"Bagus sekali. Bagaimana, Pangeran? Cucuku ini sudah terlihat sebagai istri yang baik, bukan?" ujar ibu suri sekali lagi.
Meski pangeran Arshlan meragukan apa yang ia lihat, namun ia tetap menganggukkan kepala atas pertanyaan ibu suri.
"Iya, benar, Yang Mulia. Dia memang permaisuri idaman."
Setelah mendengar ucapan dari sang pangeran, putri Estelle pun menanggapi ucapan sang pangeran. "Bukankah sudah sewajarnya, Nek? Jika aku harus TERLIHAT BAIK sebagai calon istrinya?"
__ADS_1
*