Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Kemarahan Raja


__ADS_3

Pucat pasi!


Begitu wajah sang Raja saat ini. Tangannya yang merogoh ke dalam saku tiba-tiba langsung basah oleh keringat dingin. Jantungnya seakan melemah dan kehilangan tenaga untuk berdegup lagi.


"Antony ...!" panggil Raja Gerald dengan suara berdesis menahan rasa geram.


"Iya, Yang Mulia?" Antony langsung mendekatkan tubuhnya pada sang Raja.


"Susuri semua tempat dan jalanan yang kita lalui tadi, termasuk di kamarku! Cari kalung pemberian kakakku sampai ketemu!" titahnya dengan mengeraskan rahang menunjukkan kekesalannya.


Antony yang masih belum paham apa yang terjadi, hanya bisa mengangguk mencoba mengiyakan perintah Rajanya. Sembari dalam hatinya bertanya-tanya. Bukankah kalung itu selalu dibawa oleh Yang Mulia? Apa Yang Mulia menjatuhkannya di suatu tempat?


Dari kejauhan, ibu suri Paula yang sedang mengobrol mendapati ekspresi tak menyenangkan dari wajah anaknya. Ia langsung berinisiatif untuk menyusul putranya itu.


"Ada apa, Gerald? Apa yang telah terjadi? Ibu melihat wajahmu sangat masam tak sedap sekali dipandang," ujar ibu suri dengan nada yang kalem.


Raja Gerald menatap ibunya, ia terdiam tak berani menceritakan kebenarannya.

__ADS_1


"Gerald ...," panggil ibu suri penuh khawatir.


"Siapa yang memberikan baju ini untuk kita?" tanya Raja Gerald tanpa menjawab pertanyaan ibu suri.


"Putri ... Estelle ...," jawab ibu suri ragu-ragu. "Apa ada masalah dengan bajunya?" tanyanya lagi.


"Apa maksudnya. Memberikan. Baju. Dengan. Saku yang robek. Untuk Raja?" ujar Gerald dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


Terlihat rahangnya menegang, membentuk pahatan-pahatan tegas yang semakin terlihat menonjol dan kemerahan karena amarah. Kedua alisnya menukik ke bawah hingga bertaut satu sama lain.


Ibu suri sangat terkejut. Memang, memberikan sebuah barang untuk anggota kerajaan tidak boleh sembarangan. Itu yang selalu menjadi pesan mendiang suaminya dulu. Mengingat dirinya yang selalu ingin menerima pemberian orang lain tanpa ada pengawasan ekstra ketat.


"Emmm ... Gerald, anuu ... bukankah itu hanya-"


"Hanya saku yang robek? Ibu? Dia adalah anggota kerajaan dan memberikan baju yang rusak untuk anggota kerajaan lain, bukankah itu merupakan suatu penghinaan?" geram sang Raja dengan memotong perkataan ibunya.


Ibu suri tak mampu melanjutkan kata-katanya. Apa yang dikatakan anaknya memang benar. Bahkan dirinya sendiri, jika ingin memberikan hadiah untuk anggota kerajaan lain, selalu ia yang turun dan memeriksanya sendiri.

__ADS_1


Tapi ... apa benar Putri Estelle yang terlihat sangat polos dan manja itu memiliki niat untu merendahkan Raja Gerald?


Ibu suri Paula benar-benar tak memiliki pikiran buruk ke arah sana.


"Semuanya bisa dibicarakan baik-baik, Gerald! Dia tidak ada niat menghinamu seperti itu," bujuk ibu suri mencoba menenangkan.


"Apa ibu tau?" Kali ini Raja Gerald menengok ke arah ibunya dan menatap ibundanya dengan tatapan penuh amarah. "Aku kehilangan kalung milik kakak!"


Ibu suri Paula terkejut akan tatapan anaknya yang biasanya sangat lembut dan penuh kasih menjadi sangat meradang seperti itu. Itu adalah yang pertama kali ia terima dari seorang Gerald.


Ia balas tatapan putra semata wayangnya dengan tatapan berkaca-kaca. "Apa hanya karena sebuah kalung kau tega memarahi ibumu?" Air mata ibu suri Paula terjatuh dan dia pun langsung bangkit meninggalkan pesta yang belum usai.


Para tamu undangan bertanya-tanya, kemana perginya tuan rumah yang mengundang mereka. Mengapa mereka ditinggalkan kala pesta belum berakhir?


Baginda Raja yang tak ingin menjadi pusat perhatian juga langsung pergi diikuti oleh Antony dan para pengawal pribadi meninggalkan taman lilac P&G.


Para dayang dan pengawal lainnya, sibuk membereskan para tamu yang mencari-cari ibu suri.

__ADS_1


*


__ADS_2