
"Bukankah sudah sewajarnya, Nek? Jika aku harus TERLIHAT BAIK sebagai calon istrinya?" Putri Estelle menunduk, namun bola matanya bergerak ke atas untuk menatap pangeran Arshlan yang duduk tepat di hadapannya.
Ibu suri dan ratu Allura tersenyum, mereka menangkap jika hubungan sang putri dan pangeran Arshlan bergerak ke arah yang lebih baik.
"Ya sudah! Kalau begitu, mari kita berdo'a." Ibu suri menangkupkan kedua tangannya dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga juga pangeran Arshlan.
"Selamat makan, semoga Tuhan memberkati hidangan ini."
Masing-masing pelayan membukakan piring untuk setiap anggota keluarga. Kemudian seperti biasa, mereka akan mengambil makanan kesukaan yang ditunjuk oleh setiap anggota keluarga.
"Ah, kau tidak perlu mengambilkan makananku, aku bisa mengambilnya sendiri." Sang pangeran menolak pelayan yang hendak mengambil makanannya.
Sang pelayan hanya membungkuk lalu ia pun mudur dan mempersilakan sang pangeran mengambil sendiri makanannya.
Semua makanan yang putri Estelle bawakan untuk pangeran telah berada di dekatnya, hingga ia tak merasa kesulitan untuk mengambilnya sendiri.
Sang pangeran mengambil potongan besar daging ayam dan membawanya ke atas piring miliknya. Mereka semua makan sesuai dengan porsi yang telah disesuaikan.
__ADS_1
"Sebenarnya ... ada yang ingin saya katakan pada kalian," ujar ratu Allura di tengah makan bersama.
Ibu suri menatap pada ratu Allura seraya meletakkan sendok dan garpunya.
"Katakan! Ada apa?" tanya sang ibu suri.
Ratu Allura mengambil minum dan meneguknya. Setelah itu baru ia melanjutkan bicara.
"Ini mengenai keadaan Paula, Bu." Ratu Allura menatap lekat sang ibu suri.
"Iya, aku mendengar beritanya. Apa dia benar-benar tak sadarkan diri hingga saat ini?" tanya ibu suri Theresa dengan raut wajah yang sedih.
"Ya Tuhan, itu pasti sangat berbahaya," ungkap putri Estelle.
"Energi hanya bisa dibersihkan energi. Untuk saat ini, aku masih belum bisa membantu melakukan pembersihan energi, karena tenaga dalamku belum pulih. Lagipula, hamba ingin mengobati Yang Mulia Ratu Allura terlebih. Mungkin mahaguru Respati, atau ibuku, memiliki energi yang cukup untuk membantu kondisi ibu suri Paula," timpal sang pangeran memberi tanggapan.
"Kau sebaiknya pulihkan dulu kondisimu, Ananda! Tak perlu, apalagi dengan kondisiku." Sang ratu menangkap niat baik calon menantunya. "Terima kasih sudah khawatir padaku. Tapi ... bukan itu yang ingin kubicarakan saat ini."
__ADS_1
Ratu Allura menatap orang-orang yang ada dalam ruangan itu satu per satu. Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya.
"Ibu, Putri, Pangeran. Aku akan pergi ke Raisilian." Ratu Allura terdengar mantap, ia bukan meminta izin, karena tekadnya sudah bulat.
"Ibu ...?" Sang putri cukup terkejut.
"Tapi, Yang Mulia, kondisi anda?" Bahkan pangeran Arshlan pun khawatir pada kondisi ibu dari putri Estelle ini.
Sang ratu tersenyum menatap keduanya, ia pun berkata kembali. "Kalian tak perlu khawatir akan kondisiku! Aku baik-baik saja sekarang!"
"Allura ...," panggil ibu suri Theresa.
"Iya, Bu?"
"Aku tidak bisa melarangmu, tapi ... kuharap kau juga perhatikan kesehatanmu. Bukankah akhir-akhir ini pernapasanmu kembali terganggu?" Ibu suri Theresa memberikan pendapatnya.
"Ibu tak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa." Ratu Allura mengusap punggung tangan milik ibu suri.
__ADS_1
"Kerajaan ini, aku titipkan sementara pada putri Estelle. Pangeran Arshlan, aku harap kamu bantu dia ...."
*