Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Haruskah Menikah?


__ADS_3

"Jadi, bukankah usul ibunda bagus, Gerald? Jika kau ingin dipanggil Papa oleh Kevin, maka menikahlah dengan Eli!" ucapan itu begitu lancar keluar dari mulut seorang Paula -sang ibu suri.


Raja Gerald memalingkan wajah dari sang ibu, sejenak ia bertatapan dengan Eliana. Ia juga melihat gadis itu tertunduk malu-malu. Ini salah!


"Aku permisi!" Sang Raja pergi tanpa mendengarkan lagi perkataan ibunya. Ia tak mau lagi membahas masalah panggilan itu, jika ujung-ujungnya dirinya diminta menikah.


Raja Gerald berpindah menuju ke ruang kerja pribadinya. Di sana sudah ada Antony yang menunggunya kembali.


Apa harus dengan menikah? Itu kan hanya sebuah panggilan dari Kevin pada diriku. Apa salah sebagai paman yang mengurusnya sejak ia masih bayi, aku hanya memosisikan diriku sebagai papanya? Sebagai pengganti Gerry, papa kandungnya! Kenapa ibu menuntutku menikahi Eli?


Raja menggerutu dalam hatinya. Ia duduk pada kursi kerjanya dengan wajah yang tidak santai.


Sambil setia berdiri di samping Sang Raja, Antony hanya diam bagai tiang bernapas. Ia paham gelagat jika Raja mudanya kali ini sedang tidak dalam suasana hati yang baik.


Truuk truuk truuk.

__ADS_1


Jari-jari Gerald selalu diketuk-ketuk pada meja setiap ia sedang menyelami pikirannya sendiri. Sementara itu, sebelah tangannya menopang dagu.


"Antony!" seru Sang Raja.


"Iya, Yang Mulia," jawab Antony dengan menyondongkan tubuhnya sedikit ke arah Sang Raja.


"Pindahkan Eliana ke kamar yang lain!" titahnya.


Antony masih diam saja, sebagai penasihat, ia berhak menyuarakan pendapatnya. Namun sepertinya, apa yang dikatakan oleh Raja Gerald saat ini bukanlah untuk meminta pertimbangannya, tapi merupakan suatu perintah.


"Apa Nona Eli melakukan sebuah kesalahan Yang Mulia?" tanya penasihat Raja tersebut.


Raja Gerald diam saja. "Aku perintahkan kau bukan untuk banyak bertanya!" tegas Yang Mulia tanpa menatap Antony. Ia pasang rahang yang mengeras dan tajamnya sorot mata.


"Baik Yang Mulia," jawab Antony.

__ADS_1


Sang Penasihat itu sadar, jika Sang Raja saat ini masih berada dalam usia muda. Meski secara pemahaman mengenai tata negara dan politiknya baik, namun Sang Raja masih memiliki sifat impulsif.


Tak sedikit rencana brilian yang disusun oleh Raja Gerald, harus melenceng akibat kemampuannya dalam mengolah emosi. Namun di sinilah peran besar Antony bekerja. Sebagai orang yang lebih tua, ia selalu sadar ketika Sang Raja mengambil keputusan terhadap sesuatu sedang dalam keadaan amarah. Maka Antony harus mengantisipasi banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi, terutama kemungkinan terjadinya penyesalan di hati Sang Raja sendiri.


"Antony!" seru Sang Raja lagi.


"Iya, Yang Mulia," jawab Antony.


"Apakah sebuah kerajaan harus memiliki seorang Ratu?" tanya Raja Gerald, kali ini otot-otot kemarahan di wajahnya sudah berkurang.


"Itu adalah sebuah keharusan Yang Mulia," jawab Antony.


"Kalau begitu ... aku tidak perlu menikah, kan? Karena ibunda juga masih memiliki aura sebagai Ratu di Raisilian." Gerald berkesimpulan.


"Yang Mulia Ibu Suri, sudah bukan menjadi seorang Ratu lagi. Maka segala keputusan, Yang Mulia Ibu Suri, tak bisa mengikutinya lagi," jelas Antony. "Lagi pula, Yang Mulia harus memiliki seorang putra atau putri mahkota untuk memimpin kerajaan kita," lanjut pria penasihat tersebut.

__ADS_1


"Kalau begitu bagaimana kriteria yang baik untuk memilih seorang Ratu?"


__ADS_2