Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Malu


__ADS_3

Pernikahan ratu Eliana dan raja Gerald berlangsung dengan meriah. Putri Estelle datang ke acara tersebut dan menjadi pendamping utama untuk pengantin wanita. Bagaimanapun juga, dia adalah saudara sepupu terdekat dengan calon ratu Eliana. Sehingga, dengan senang hati putri Estelle mendapat peran tersebut. Walau peran baru ia dapatkan berdasarkan pemberitahuan dayang tadi pagi.


Namun, jika ada pendamping utama pengantin wanita, maka akan juga pendamping utama pengantin pria, siapa lagi jika bukan sang pangeran tampan, gagah, perkasa, layaknya kuda putih, Pangeran Arshlan.


Melihat wajah pangeran Arshlan berkali-kali, membuat putri Estelle muak. Ia merasa kesal dan sangat membenci kebetulan-kebetulan kali ini.


“Tadinya, kau tidak ada dalam daftar pendamping pengantin wanita, mengapa sekarang kau muncul?” Suara pangeran Arshlan terdengar meledek setelah pesta usai.


Putri Estelle yang sedang berjalan merasa diajak bicara oleh seseorang yang berada di belakangnya. Dengan keras ia menjawab, “Semua ini tidak ada urusannya denganmu! Mau aku jadi pendamping pengantin wanita, kek, mau aku jadi pengantin wanitanya, itu semua tidak ada urusannya denganmu!” Putri Estelle pun membalik badannya.


“Oh, jadi seperti itu, kalau begitu selamat atas tugas barumu di istana, Shui!”


“Ah, terima kasih, pangeran Arshlan. Aku baru memulai tugasku nanti, setelah raja dan ratu usai bulan madu.”


Malu.

__ADS_1


Begitu dalam pikiran putri Estelle. Dia mengira sang pangeran berbicara dan sedang meledek dirinya, ternyata pangeran Arshlan berbicara dengan wanita lain.


“Kalau begitu, aku permisi, Pangeran.” Wanita yang dipanggil Shui itu meninggalkan posisinya dan berjalan ke arah putri Estelle. Dia membungkuk memberi hormat pada sang putri, dan berlalu meninggalkan koridor tersebut.


Putri Estelle termangu. Ada wanita yang seakrab itu dengan pangeran Arshlan? Bahkan dia menyebut dirinya dengan sebutan ‘aku’ di depan sang pangeran.


Hal tersebut terkunci dalam pikiran putri Estelle. Biasanya, rakyat akan menyebut dirinya ‘hamba’ bila sedang berbicara dengan anggota keluarga kerajaan. Sang putri termangu, tanpa sadar pangeran Arshlan pun berjalan mendekat ke arahnya.


“Ada apa? Kudengar kau berbicara sesuatu tadi.” Pangeran Arshlan semakin mendekat ke arah sang putri. “Seperti ada kata-kata tentang pengantin wanita yang samar-samar aku dengar dari sini,” ujar pangeran Arshlan seraya menunjuk ke arah bibir putri Estelle dengan telunjuknya.


Dengan sengaja ia menyentuh bibir merah muda nan ranum itu dengan salah satu jarinya, lalu ia mengusap bibir lembab nan berkilau milik sang putri dengan satu sapuan ibu jari.


Putri Estelle bergidik karena bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang. Dia sedikit memundurkan langkahnya dan memukul tangan sang pangeran agar menyingkir dari bibirnya.


“Menikahlah dengan wanita tadi!  Kalian terlihat cocok.” Sang putri berbalik dan berusaha meninggalkan sang pangeran.

__ADS_1


Namun ….


Sreeet!


Pangeran Arshlan menarik dengan lembut tangan putri Estelle hingga sang putri jatuh ke pelukannya.


Sempat terkejut karena tiba-tiba, putri Estelle spontan memeluk sang pangeran dan dengan senang hati pangeran Arshlan membalasnya.


“Tadi kau cemburu pada Shui, kan?” Senyum jahil terbit dari wajah sang pangeran. “Dan sekarang kau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dengan tiba-tiba memeluk leherku?”


Putri Estelle menyadari posisinya sangat tidak menguntungkan. Ia buru-buru melepaskan diri dari pangeran Arshlan. “Bukankah dirimu yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan?” Sang putri berlari menjauh dari pangeran Arshlan.


“Menjauh dariku, dan kejarlah wanitamu tadi!”sentak putri Estelle sambil berbalik dan berjalan menjauh dari sang pangeran.


Pangeran Arshlan tersenyum, rasanya ingin menertawakan tingkah putri Estelle yang terlihat malu-malu sejak tadi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2