Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Melihat Kembali


__ADS_3

"Kalau kau tidak bisa sembuhkan ibuku, keluar!" teriaknya. "Semuanya keluar!"


Sang putri berteriak dan meraung-raung sendiri.


Para dayang akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut, begitu pun sang dokter.


"Kalau begitu, hamba permisi, Tuan Putri." Dokter itu berbalik dan meninggalkan putri Estelle perlahan-lahan.


Apa maksudnya, roh ibu dipenuhi energi hitam? Aku harus bagaimana?


Dalam hati sang putri merasa panik. Tangannya bergetar dan basah penuh oleh keringat.


"Kenapa kau tidak keluar?" tanya putri Estelle pada seseorang yang tertinggal di dalam sana. Siapa lagi jika bukan pangeran Arshlan. Sang pangeran masih mematung, ia merasa miris karena tak bisa berbuat apa-apa untuk wanita di hadapannya ini.


"Keluar!" Sang putri juga menghardik pangeran Arshlan. Ia pun berdiri dan menatap tajam pada pria di hadapannya. "Aku bilang keluar! Kau juga harus keluar!" Sang putri menunjuk pada pintu kamar.


"Keluar! Keluar! Keluar!" Putri Estelle menggoyang-goyangkan bahu pangeran Arshlan, namun sang pangeran tetap diam dalam posisinya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak keluar? Hah? Kelu-"


Cup


Karena tak ada yang bisa lagi yang ia katakan pada putri Estelle untuk menenangkan, akhirnya satu ciuman pun ia layangkan untuk wanita yang sedang menangis itu.


Meski berontak, namun sang pangeran memegang erat tubuh sang putri. Ia alirkan tenaga dalam secara diam-diam saat menyentuh tubuh putri Estelle.


Perlahan-lahan, perasaan hangat menyelimuti putri Estelle. Ia pun tenang dan memejamkan matanya. Membalas pagutan pada bibir atas pangeran Arshlan. Tenaga dalam yang dialirkan dari pangeran membuat sang putri merasa hangat dan nyaman.


Mereka berdua terlena dalam gejolak asmara dan melupakan sesosok yang tengah tersenyum memperhatikan keduanya.


"Ibu ...?" Sontak sang putri lepaskan ciuman itu ketika ia bisa melihat ibunya. Wajahnya merona, namun ia kebingungan.


"Ibu ...? Ibu ...?" panggilnya sambil mengucek sebelah matanya. "Ibu bisa bangun?"


Sebelum ia mendapat jawaban atas pertanyaannya, sang putri mengalihkan pandangannya ke atas ranjang. Ia pun masih melihat tubuh sang ibu terkulai lemas di sana.

__ADS_1


"I-ini ...? Bagaimana mungkin? Ini ...?" Sang putri menutup bibirnya, matanya menunjukkan tatapan tak percaya. Ia tak mengerti dengan apa yang ia lihat.


Pangeran Arshlan meremas bahu putri Estelle, lalu ia dekatkan wajahnya pada telinga sang putri. "Yang kamu lihat sedang tersenyum padamu, adalah energi roh ibumu."


Putri Estelle semakin terkejut. Lalu menatap pangeran Arshlan dan mencari kebenaran melalui matanya.


Sang pangeran menganggukkan kepalanya. "Bicaralah, dia adalah Yang Mulia Ratu!" titah pangeran Arshlan.


Dengan perlahan, putri Estelle melangkah. Ia ulurkan tangannya ke arah wanita yang sedang duduk di tepi ranjang ibunya. Ia merasa, apakah ini sebuah halusinasi dari pikirannya yang sangat merindukan ibunya?


"I-ibu ...?" lirih sang putri memanggil sosok yang jelas mirip sekali dengan Yang Mulia Ratu.


Energi roh Yang Mulia Ratu menganggukkan kepalanya. Ia menyambut uluran tangan putri Estelle perlahan.


Sang putri mulai terisak lagi. Ia merasa tak percaya saat tangannya bersentuhan dengan energi roh ibunya.


"Iya, sayang. Ini ibu ...," jawab sang ratu dengan senyum hangat. Ia pun mengusap air mata di pipi sang putri. "Jangan menangis, beginilah kenyataannya. Kamu harus kuat," pintanya lagi.

__ADS_1


Putri Estelle menggenggam tangan ibunya dan diarahkan ke pipinya. Ia gelengkan kepala karena merasa tak percaya. "Ibu ...," rintihnya lagi.


__ADS_2