Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Negosiasi


__ADS_3

Kejadian penculikan telah beberapa hari berlalu, namun kejadian itu masih belum bisa menghilang begitu saja dari pikiran putri Estelle. Apalagi ketika ia baru mengetahui, jika apa yang dikatakan oleh pangeran Arshlan memang benar. Sang pangeran bukan ingin menculiknya, melainkan hanya menyelamatkan dirinya.


“Masih mengelak?” ujar sang pangeran.


Putri Estelle memalingkan mukanya, tak ingin mengakui jika pangeran Arshlan memang menyelamatkannya. Dia berdiri sambil melipat tangannya. Rambutnya yang pirang dan bergelombang, sungguh cantik tergerai.


“Kau berhutang budi padaku.”


Angkuh. Begitulah pangeran Arshlan. Dia berusaha membuat perhitungan, meski itu pada seorang wanita seperti putri Estelle.


Tapi, dia yang bergaun putih itu tak ingin terlihat lemah. Mungkin keras kepala, ya, hanya karena ingin melindungi dirinya sendiri. Dia tak ingin menjadi mudah dimanfaatkan lagi bagi orang lain. Seperti dulu, saat bersama keluarganya sendiri.


“Harus dengan apa aku membayarnya? Uang? Kekuasaan? Wilayah? Dukungan politik?”


Mendongakkan kepala, dia benar-benar menunjukkan keberaniannya. Meski itu tak selaras dengan debar jantungnya yang benar-benar gugup.


Sang pangeran mengusap dagunya, sambil menundukkan kepala, ia tatap putri Estelle yang lebih pendek darinya. Ingin tertawa, tapi ia tahan. Sang pangeran mencoba menghargai usaha tuan putri di hadapannya yang ingin terlihat sebagai wanita pemberani.


“Ratu!” Satu kata dari pangeran Arshlan membuat sang putri semakin membelalakkan matanya.


Putri Estelle menggelengkan kepala seraya memundurkan langkahnya. Ia lepaskan lipatan tangannya, dan remas-remas gaunnya hingga keringat dingin pun menempel pada kain putih tersebut.


“Ma-maksudmu?” Kini kegugupan itu semakin menjadi nyata.

__ADS_1


“Aku mau ratu untuk kerajaanku!” tegas sang pangeran sekali lagi.


Kedua insan itu berada di taman istana Raisilian, bunga-bunga dan kupu-kupu menemani kesunyian di antaranya. Degup jantung sudah seperti genderang perang, putri Estelle berusaha mencerna perkataan sang pangeran.


“Emmm … kau … tidak bermaksud untuk men—“


“Kau benar!” potong pangeran Arshlan begitu saja. “Aku ingin menjadikanmu ratu di kerajaanku!”


Dada sang putri kembang kempis, ia semakin mundur dari pangeran Arshlan seraya menggeleng-gelengkan kepala.


“Aku … aku … aku tidak mencintaimu!” Jawaban putri Estelle spontan menyuarakan isi hati. Meski ia tak yakin dengan arti dari debar jantungnya, tapi yang ia yakini adalah arti dari semua itu bukanlah rasa cinta.


“Kau tidak butuh cinta untuk membantuku memimpin negara!” seru sang pangeran dengan tegas.


Sang pangeran menarik dan mengembuskan napas melalui mulutnya. Dia sudah merasa cukup untuk menakuti putri Estelle sore ini. “Aku tidak menerima penawaran lain. Jika kau menolak, aku kembalikan kau ke raja Morreno dan menjadi selir Danishian.”


Sambil tertawa mengejek, pangeran Arshlan berbalik dan menjauh dari putri Estelle.


Putri Estelle menatap punggung pangeran Arshlan yang menjauh darinya. Dari belakang, sang pangeran terlihat sangat tinggi dengan punggung yang lebar. Apa itu cocok untuk jadi sandaran?


“Haiiish!” Sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya, dia merutuki pemikirannya sendiri. “Apa yang aku pikirkan?”


Putri Estelle menggigit bibirnya, ia kebingungan dengan rencana pangeran Arshlan untuk menjadikan dirinya sebagai ratu di istana Yorksland.

__ADS_1


Dulu … saat di akademi, sang putri memang mendapat pelajaran khusus untuk menjadi ratu. Bahkan dia adalah murid dengan nilai tertinggi di akademinya.


Namun … untuk pengalaman, raja Jeremy tak pernah sedikitpun melibatkannya dalam urusan kerajaan, karena bagi sang raja, putri Emilda lebih kompeten dibandingkan putri Estelle.


“Apa aku mampu?”


*


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2