
“Kemarilah!” Rencana Eliana untuk keluar dari kamarnya pun gagal oleh satu kata yang mengandung perintah.
Berjalan perlahan, Eliana menghampiri Rajanya.
“Tidur!” titah sang Raja lagi.
“Anu … emm … tapi, saya tidak mengantuk, Yang Mulia.” Eliana beralasan.
“Kalau aku bilang tidur, ya tidur!” titah sang Raja.
Kemudian, Eliana melepaskan sandalnya. Perlahan-lahan gadis itu duduk di samping ranjang dan menaikkan kedua kakinya.
Raja Gerald menepuk-nepuk bantal di sampingnya. Memberi perintah agar Eliana segera merebahkan dirinya.
Eliana melirik sekilas pada bantal itu lalu menyimpan kepalanya di atasnya. Ia tidur sepinggir mungkin untuk menjaga jarak dari sang Raja.
“Saya tidak akan menggunakan guling, Yang Mulia. Silakan digunakan, jika Yang Mulia ingin menggunakan guling sebagai alas kepala,” ujar Eliana sambil menyodorkan guling pada sang Raja.
Ia tahu kebiasaan sang Raja yang selalu tidur menggunakan guling sebagai bantalnya.
“Kau sudah hapal dengan kebiasaanku rupanya,” ujar Raja Gerald dengan senyum yang cukup mengkhawatirkan Eliana.
“Kau sudah terlalu sering tidur bersamaku, sepertinya.” Sang Raja mendekati Eliana. Tidur menyamping menghadapkan wajahnya pada Eliana.
“Kau tau, besok adalah hari yang panjang dan akan banyak kegiatan yang akan kita lakukan,” kata Sang Raja lagi.
“Emmmh,” jawab Eliana.
__ADS_1
“Aku ingin kamu malam ini,” ungkap sang Raja lagi.
“Emmmh,” jawab Eliana lagi-lagi sambil menahan mulutnya.
“Kenapa?” tanya Sang Raja dengan senyuman nakal.
“Emmmh …,” desah tertahan terdengar lagi dari Eliana.
“Lepaskan saja suaranya, aku suka mendengar desahanmu!”
“Emmmh … emmmmh,” jawab Eliana yang ditahan lagi, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sang Raja terus tersenyum.
“Yang Mulia, aaah.” Pada akhirnya, gadis itu memberikan desahannya juga untuk Sang Raja.
*
Lelah mendera Eliana, namun apa mau dikata, ia harus bekerja dengan profesional untuk bisa bersanding dengan sang Raja. Raja Gerald tetap terlihat segar bugar meski ia telah berhasil membuahi Eliana beberapa kali. Ia ingin segera menikahi Eliana.
Pesawat telah menunggu mereka, bayi Kevin diserahkan pada ibu suri Paula dan tentunya dayang Odeth.
Perjalanan malam ini menuju Noirland. Ratu Allura dan Putri Estelle sebenarnya sangat ingin mengikuti mereka, namun harus ditahan hingga minggu depan, atau hingga Ratu Allura dinyatakan sembuh.
“Nanti kita bisa tidur di pesawat!” ujar Sang Raja menghibur Eliana yang terlihat sangat mengantuk.
Eliana hanya mengangguk sambil menapaki satu per satu anak tangga untuk menuju ke pesawat.
__ADS_1
“Selamat malam,” sapa pramugari pada mereka berdua.
Lalu kemudian mereka diarahkan pada kursi masing-masing.
“Tolong nanti, antarkan saja Eliana ke kamar tidur!” titah Sang Raja.
Pramugari itu pun tersenyum dan pada akhirnya mengantarkan Eliana menuju ke ruangan tidur yang ada di atas pesawat setelah pesawat itu melakukan take off.
Bukannya senang dan langsung tidur, Eliana malah terkagum dan kehilangan rasa kantuknya saat melihat kemewahan yang tak pernah ia duga sebelumnya. “Kenapa bisa ada kamar tidur di atas pesawat,” ucapnya lirih.
“Cepat kau tidur! Kalau tidak mau aku tiduri lagi!” Suara di belakangnya mengejutkan Eliana.
“Aku akan tidur, sampai jumpa,” ujar Eliana yang langsung menuju ke atas kasurnya.
Raja Gerald tersenyum dan menutup pintu kamar tersebut. Ia kembali ke kursinya dan ada Antony yang duduk di belakangnya.
“Antony, berikan padaku dokumen yang harus diperiksa!”
“Baik, Yang Mulia.”
Raja Gerald pun kembali bekerja dengan dokumen-dokumen yang harus ia selesaikan.
__ADS_1