
"Nona, masih mual?" tanya bibi Odeth yang baru datang dan melihat Eliana yang baru keluar dari kamar mandi.
"Hmmm," jawab Eliana singkat.
"Mari saya bantu, Nona," tawar bibi Odeth seraya menuntun Eliana.
Eliana memberikan sebelah tangannya pada sang dayang dan membiarkan dayang kesayangannya itu memapah tubuhnya.
"Bukannya mual ini biasanya hanya pagi hari? Kenapa sampai sekarang aku masih mual, Bi?" tanya Eliana seraya memijit-mijit dahinya.
"Sabar, Non. Semua wanita juga mengalaminya," ucap bibi Odeth. "Ya, bibi sih, belum tahu, karena bibi, kan belum merasakannya," tambah bibi Odeth lagi.
Eliana mencoba berbaring, ia menaikkan kakinya ke atas ranjang.
"Mau saya selimuti lagi?" tanya bibi Odeth seraya mengangkat selimut.
"Ah, tak usah, Bi. Nanti aku kesusahan untuk bangun," jawab Eliana seraya memiringkan tubuhnya.
"Baiklah." Bibi Odeth menyimpan lagi selimutnya di bawah kaki Eliana.
"Nona ...," panggi bibi Odeth.
__ADS_1
"Emmm ...?" jawab Eliana sambil memejamkan mata.
"Tadi ... bibi dipanggil oleh Yang Mulia Raja," jawab sang bibi.
"Lalu?" tanya Eliana tanpa membuka matanya.
"Emmm ... bibi ditanya tentang keadaan anda, Nona."
"Dan, bibi jawab apa?" Kali ini Eliana membuka mata dan menatap dayang kesayangannya itu.
"Emm, bibi jawab seadanya, Nona. Tak apa, kah?" tanya bibi Odeth yang takut Eliana kecewa padanya.
"Hmmm, tak apa," jawab Eliana yang langsung menutup matanya lagi.
"Nona tidak marah?" tanya sang bibi sekali lagi.
"Tidak! Untuk apa marah? Aku justru senang," jawab Eliana yang membuat sang bibi merasa aneh.
"Kok?"
Eliana berusaha untuk bangun dan duduk di ranjangnya. "Yang Mulia Raja sama sekali belum menemuiku, aku kesal sendiri dibuatnya. Aku semakin tidak berminat memberitahunya. Jika ada yang memberitahunya aku bersyukur, karena bagaimanapun juga dia harus tahu. Tapi tidak dari aku," jawab Eliana yang langsung kembali berbaring dan menutup matanya lagi.
__ADS_1
Bibi Odeth menganga. Ternyata Eliana sedang merajuk. Mungkin ini karena hormon, sehingga nona Eli mudah merajuk begini.
*
Sore itu, Ratu Allura dan Putri Estelle telah siap untuk meninggalkan istana Raisilian. Mereka harus kembali ke Noirland karena tahta kerajaan sedang kosong.
Entah bagaimana Noirland ke depannya, Ratu Allura mungkin tidak sanggup untuk menjadi ratu tunggal di sana.
"Tidak ada yang tertinggal?" tanya ibu suri Paula.
"Tidak," jawab sang ratu. "Terima kasih sudah menerimaku di sini, Paula. Aku harus pulang. Suatu saat aku akan membalas kebaikanmu," imbuhnya.
Ibu suri Paula tersenyum mengangguk. "Maaf, aku tidak bisa mengantarmu sampai bandara, berhati-hatilah kalian."
Ratu Allura dan putri Estelle segera masuk ke mobil untuk menuju ke bandara.
Sementara itu di kamar Eliana. Wanita itu membuang semua makanan yang masuk dalam perutnya. Ia benar-benar kesal pada Yang Mulia Raja karena pria nomor satu di Raisilian itu tak kunjung menemuinya.
Bukannya dia sudah tahu dari bibi Odeth? Tapi sekarang dia sama sekali tidak menemuiku. Dasar laki-laki tidak punya hati. Calon ayah macam apa dia?
Eliana bergumam seraya meluapkan amarahnya wajahnya benar cemberut karena sedang merasa kesal. Tidak biasanya ia merasa sekesal ini hanya karena tidak ditemui oleh raja Gerald.
__ADS_1
"Lihat saja! Aku tidak akan menggubrisnya kalau dia datang nanti! Biar dia aku tahu kalau aku sedang kesal!" Eliana memasang ekspresi jutek sambil meremas jemarinya sendiri.
"Kau, merasa kesal pada siapa?"