Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Menghindar


__ADS_3

“Pangeran Arshlan …,” panggil sang putri dalam gendongan sang pangeran.


“Iya …?” Sang pangeran menjawab seraya terus berlari membawa sang putri.


“Aku mencintaimu.” Perkataan sang putri lirih namun terdengar dengan jelas. Seandainya bisa terlihat, kini putri Estelle berkaca-kaca dan susah payah menahan jatuhnya air mata.


Namun, karena kalimat itu, ada sesuatu yang berubah. Itu adalah detak jantung pangeran Arshlan. Andai saja cahaya cukup menerangi, wajah memerah sang pangeran pasti terlihat dengan jelas.


"Kau bilang apa? Hujan dan angin membuat pendengaranku agak buruk, nanti saja kita bicarakan." Jelas sekali pangeran Arshlan hanya berpura-pura. Kalimat itu terdengar dengan jelas oleh telinganya. Namun, ini terlalu memalukan bagi dirinya.


Putri Estelle tak menggubris lagi, ia menyembunyikan wajahnya di dada sang pangeran. Dalam dekap hangat pangeran Arshlan, sang putri merasa jika dirinya sudah kembali aman.


Mobil milik Antony telah menunggu di gerbang masuk hutan tersebut. Ia telah siap dan membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Silakan masuk, Pangeran, Tuan putri."


Pangeran Arshlan dengan sigap memasukkan putri Estelle ke kursi penumpang, lalu dirinya pun ikut masuk dan menemani sang putri.


"Antony, kali ini kau yang mengemudikan lagi," ucap pangeran Arshlan.

__ADS_1


"Baik, Pangeran."


Antony pun langsung bersiap menyalakan mobil dan menjalankannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya pangeran Arshlan seraya merapatkan jas yang ia kenakan pada tubuh putri Estelle.


Sang putri melihat ke arah tubuhnya yang tertutupi oleh jas milik pangeran. Kemudian ia teringat akan gaunnya yang telah dirobek oleh prajurit buruk rupa yang berandal itu.


"Ah ...!" jerit sang putri seraya melepaskan tangan pangeran Arshlan yang tengah mendekapnya. Ia duduk menjauh dari sang pangeran dan hal itu membuat pangeran Arshlan bertanya-tanya.


"Ada apa, Putri?"


Putri Estelle tidak menjawab. Ia hanya bisa mengeratkan tangannya memeluk diri sendiri, wajahnya menunduk untuk menyembunyikan tatapan matanya yang penuh ketakutan.


Sang pangeran menggeleng. "Sepertinya putri Estelle masih trauma," jawab pangeran Arshlan.


"Di istana pasti ada dokter yang bisa menyembuhkannya. Kau tenang saja," hibur Antony pada sang pangeran.


Pangeran Arshlan menatap sang putri yang duduk di ujung dekat pintu mobil. Putri Estelle yang nampak ketakutan, terlihat seperti menghindar dari pangeran Arshlan.

__ADS_1


"Semua sudah baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan." Pangeran mencoba menghibur putri Estelle. Ia ulurkan tangannya dan mencoba mengusap kepala sang putri.


"Jangan sentuh!" tolak sang putri seraya menepis tangan pangeran Arshlan.


Sang pangeran menjauhkan tangannya, ia menghargai penolakan dari sang putri kali ini.


"Ada apa?" tanya pangeran Arshlan lagi.


Putri Estelle menggeleng, lalu ia meneteskan air mata dan menangis terisak.


"Apa baj*ngan itu berhasil menyentuhmu?" tanya pangeran Arshlan seraya mendekatkan wajahnya ke telinga putri Estelle.


Sang putri tak menjawab, namun isak tangisnya semakin deras. Ia juga semakin menjauhkan tubuhnya, walau semua sia-sia karena posisi dirinya sudah di ujung dekat dengan pintu.


"Tidak termaafkan, aku akan membunuh mereka!"


Antony melirik pangeran Arshlan melalui spion dalam. Ia pun bergidik melihat sang pangeran yang sedang marah.


"Kita sudah berada di lingkungan istana Raisilian, Pangeran," ujar Antony memberitahu.

__ADS_1


"Terima kasih, tolong antar sang putri ke tempat istirahatnya."


"Baik, Yang Mulia."


__ADS_2