Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Matahari Terbenam Tepi Pantai


__ADS_3

"Coba tebak, tempat apa ini?" Pangeran Arhslan menghentikan motornya di sebuah pantai, setelah ia mengajak putri Estelle naik motor menyusuri hutan sedikit lebih lama.


"Ini pantai, semua orang pun tahu," jawab sang putri dengan nada ketus seperti biasa.


Pangeran Arshlan tersenyum mendengar jawaban putri Estelle yang seperti biasa.


"Tapi aku yakin, kamu pasti belum pernah datang ke sini," ledek sang pangeran pada putri Estelle.


Mereka berdua sedang menikmati momen terbenamnya sinar matahari di pantai utara Noirland. Dengan posisi masih duduk di atas motor, dan sang putri bersandar di bahu pangeran Arshlan.


"Sok tau!" timpal putri Estelle seraya memukul belikat sang pangeran, namun setelah itu ia sandarkan kembali kepalanya pada punggung lebar pangeran Arshlan.


"Nyaman?"


Putri Estelle mengangkat kembali kepalanya karena pertanyaan sang pangeran. Lalu belikat itu lagi-lagi menjadi sasarannya.


Bug!


"Aaw!" Pangeran Arshlan meringis. "Kenapa kau memukulku lagi? Putri cengeng ini menyakitiku."


Sang putri turun dari motor pangeran Arshlan. Ia jejakkan sepatu cantiknya ke pasir pantai yang sedikit basah.


"Jangan berlebihan, pukulanku pasti tidak terasa apa-apa bagimu!" Sang putri berkacak pinggang di depan pangeran Arshlan yang sedang duduk di atas motor dan memeluk helmnya.


"Asalkan kamu tau, pukulanmu tadi itu ... terasa sampai ke jantungku," gombal sang pangeran.

__ADS_1


Putri Estelle memutar bola matanya, dia sudah sangat jengah karena hari ini menerima begitu banyak gombalan dari sang pangeran.


Orang yang bahkan bisa hampir membunuh puluhan lawan dengan tangan kosong, merasa kesakitan karena pukulanku? Jangan bercanda.


Putri Estelle tersenyum miring, menertawakan pangeran Arshlan yang masih meringis dan pura-pura kesakitan.


"Berhenti berpura-pura, aku muak melihatnya!" Putri Estelle berbicara dengan ketus.


"Apa kau selalu seperti ini pada orang yang telah menyelamatkanmu?" protes pangeran tak terima.


"Kalau bukan kau yang menyelamatkanku, mungkin aku tidak akan begini."


Sang pangeran tertawa melihat reaksi putri Estelle.


"Kenapa harus pulang, di sini sangat indah!" ujar pangeran Arshlan sambil memandang jauh ke arah matahari yang hampir terbenam seluruhnya.


"Para pengawal tidak mengikuti kita? Dayang juga tidak ada yang bersama kita?" rengek sang putri lagi.


"Kau tidak butuh pengawal jika bersamaku!"


"Kalau aku butuh sesuatu, bagaimana? Kau mau melayaniku?"


"Kau mau aku melakukan apa untuk melayanimu?" Sang pangeran ikut turun dan mengikuti langkah putri Estelle dari belakang.


Sang putri menoleh, dan memberi tatapan skeptis pada pangeran Arshlan. Setelah itu ia tersenyum meledek. "Seorang pangeran, menjadi pelayan? Yang benar saja!"

__ADS_1


Putri Estelle berjalan lagi ke depan.


Sang pangeran yang tersenyum mendengar ledekan putri Estelle pun langsung berjalan dengan agak berlari untuk mendahuluinya.


"Aku bersungguh-sungguh, aku bawa kau menjauh dari pengawal dan pelayanmu karena aku yang akan memerankan itu untukmu. Bagaimana?" tawar pangeran Arshlan seraya berjalan mundur di depan sang putri.


Putri Estelle menghentikan langkah dan menyilangkan tangan di depan dadanya. Ia pun menatap ke arah pantai dan matahari sudah tenggelam seluruhnya. Langit jingga sudah mulai ditelan malam.


"Jangan berkhayal! Ini sudah malam, ayo bawa aku pulang!" pinta putri Estelle.


"Di depan ada bungalow, kita bermalam saja di sana," goda sang pangeran lagi.


"Tidak ada pengawal! Di sana tidak aman!"


"Kalau ada pengawal, kau mau menginap denganku di sana?"


"Jangan bermimpi!"


"Oh, ayolah putri! Aku yang akan jadi pengawalmu!"


"Bawa aku pulang!"


"Besok, ya!"


"PANGERAN ARSHLAAAN ...!"

__ADS_1


__ADS_2