
Besar harapan sang pangeran agar sang dokter bisa melihat energi roh ratu Allura yang kini juga sedang menangis di samping putrinya. Lidah sang pangeran terlalu kaku untuk menjelaskan semuanya kepada putri Estelle yang sedang bersedih.
Tak lama kemudian, dayang pun kembali dengan salah seorang yang mereka sebut sebagai dokter senior di istana Noirland.
"Selamat siang, Pangeran dan Tuan Putri." Dokter paruh baya itu datang meyapa.
"Selamat siang," balas sang pangeran.
Sementara putri Estelle yang terkejut langsung mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang datang.
"Hamba mendengar kondisi ratu Allura dari para dayang. Bolehkah hamba memeriksa keadaan Yang Mulia Ratu?"
"Ah, iya, iya silakan!" ujar pangeran yang membuat sang putri menyingkir dari tempatnya untuk memberi ruang pada sang dokter agar memeriksa ibundanya.
"Silakan, Dok," ucap sang putri.
Pangeran Arshlan agak kecewa, karena ternyata sang dokter tak bisa melihat energi roh ratu Allura. Atau dia hanya pura-pura tidak melihat agar yang lain tidak shock? Sang pangeran tak berani menebak-nebak. Ia berdiri di samping sang putri dan hanya mnegamati jalannya pemeriksaan.
"Ini ...?" Dokter itu mengerutkan alis-alisnya. "Ini ...?" Sang dokter mengulang lagi ucapannya.
__ADS_1
"Ada apa, Dok?" tanya putri Estelle khawatir.
Sang dokter melepas stetoskop dari telinganya dan memasukkan benda itu ke dalam saku snellynya.
"Apa pangeran tidak merasakannya?" Dokter itu menatap lekat pada pangeran Arshlan.
Mendengar hal tersebut, sang putri pun juga menatap pada sang pangeran dengan berkaca-kaca.
"Ada yang kamu sembunyikan dariku?" Putri Estelle bertanya.
"M-maksud dokter?" Pangeran malah bertanya balik dan menghindari tatapan sang putri.
"M-maksudnya itu bagaimana?" Putri Estelle tak paham.
Dokter senior itu menghela napasnya terlebih dahulu, seakan sangat berat baginya mengatakan kebenaran ini pada sang putri. "Seseorang yang hidup, dia memiliki roh. Lalu semua roh memiliki energi agar bisa bertahan hidup. Sekarang, tubuh Yang Mulia masih memiliki roh-nya, namun roh itu terisi energi hitam. Sementara energi roh sang ratu telah terlepas dari tubuhnya."
"Jadi, apa ibuku masih bisa bertahan?" tanya sang putri.
Sang dokter terdiam, ia melepas kacamatanya dan menunduk.
__ADS_1
"Jawab aku dokter, kau bisa menyembuhkannya, kan?" sang putri bertanya lagi. Air matanya mengalir dan ia terisak.
Sang dokter juga masih tak kunjung menjawab. Ia pun malah ikut menitikkan air matanya.
"Jawab aku, dok!" Tiba-tiba sang putri mencengkeram kerah snelly sang dokter senior.
"Tuan putri," panggil sang pangeran yang ingin mencegah.
"I-itu, ha-hanya Tuhan yang bisa menyembuhkannya, Tu-tuan putri," jawab sang dokter terbata karena ia juga terkejut.
Putri Estelle melepas cengkeramannya saat pangeran Arshlan memisah mereka berdua. Namun setelah itu, dengan segera sang putri juga menepis tangan pangeran Arshlan. Ia tergugu dalam tangisnya, dan menjatuhkan tubuhnya hingga tersimpuh di atas lantai.
"Tuan putri," panggil sang dokter.
Putri Estelle tidak mendengar. Ia hanya menjerit dari tempatnya. "Tidak!"
"Putri, tenangkan dirimu," pinta para dayang.
"Kalau kau tidak bisa sembuhkan ibuku, keluar!" teriaknya. "Semuanya keluar!"
__ADS_1