
"Aww ...." Pangeran Arshlan mengusap-usap tulang hidungnya. "Beruntungnya aku seorang kapten, tubuhku sudah banyak diuji. Jika tidak, mungkin hidung ini sudah retak," keluh sang pangeran pada putri Estelle.
"Jangan manja! Mana ada orang sekuat dirimu kesakitan hanya karena dipukul benda ini?" Sang putri merasa tak percaya, ia mengacungkan benda merah muda itu ke depan wajah sang pangeran.
"Hiii!" Sang pangeran bergidik. "Kenapa kau dekatkan lagi benda itu padaku? Kau sudah tahu, kan, apa fungsinya. Letakkan jauh-jauh, aku mencium bau tidak enak dari benda itu!" Pangeran Arshlan mengibas-ngibaskan tangan agar sang putri menjauhkan benda itu darinya.
"Bau?" Putri mendekatkan benda itu ke hidungnya. "Aku tidak mencium apapun dari sini," ujarnya.
"Ya! Tapi kau bayangkan saja! Aiiish, bagaimana aku mengatakannya." Sang pangeran meraup wajah fruatasi. "Bukankah kau sudah tau, disimpan di mana benda ini, juga fungsinya apa? Kalau itu bekas milikmu ... ehm ... aku pun rela menjilatinya," seloroh pangeran Arshlan.
"Tapi ... ini bekas selir Sofi. Ah, putri kau menodai hidungku," keluh pangeran Arshlan lagi.
Putri Estelle yang tak paham, ia pun mengedikkan bahunya. Sang putri berniat keluar, meninggalkan pangeran Arshlan di kamar itu karena sepertinya, tidak ada sesuatu yang spesial dapat ditemukan di sana.
Kriing kriing
Ponsel putri Estelle berbunyi. Ia bergegas membuka ponsel tersebut dan membaca tampilan layar. "Ratu Eliana menelepon, kakak sepupu menelepon," jerit putri Estelle sambil berjingkat.
__ADS_1
"Oh, ya?" Sang pangeran menghampiri tuan putri.
"Halo, selamat pagi, sepupu ...." Putri Estelle menyapa dengan riang.
^^^"Hamba adalah dayang Yang Mulia Ratu Eliana, Tuan Putri."^^^
"Oh, kukira Yang Mulia Ratu Eliana. Ternyata dayang ratu Eliana. Ada apa?" tanya sang putri tanpa basa-basi.
^^^"Ratu Eliana telah melahirkan bayinya."^^^
"Apa?" Ia membelalak dengan jeritan histeris. "Yang Mulia Ratu Eliana telah melahirkan?" Wajah sang putri sangat antusias. "Ini berita heboh, aku sudah menunggu-nunggu momen ini sekian lama," ujar putri Estelle.
"Jadi anaknya ... laki-laki atau perempuan?" tanya sang putri penasaran. Ia menggigit bibir bawah dan meremas-remas telapak tangannya sendiri karena gemas.
^^^"Perempuan Tuan Putri. Yang Mulia Ratu melahirkan seorang Putri."^^^
"Perempuan? Benar perempuan?" Mata sang putri pun berbinar. "Akan sangat menggemaskan jika anak mereka perempuan memang, aku suka."
__ADS_1
^^^"Baik, Tuan Putri. Yang Mulia Ratu memang meminta hamba agar mengabari anda."^^^
"Ah, baiklah, terima kasih atas kabar yang sudah kalian berikan. Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi ibu suri Paula?
^^^"Sama-sama, Tuan Putri. Yang Mulia ibu suri masih sama sekali belum sadarkan diri, Yang Mulia."^^^
"Oh, masih belum sadarkan diri? Baiklah, semoga beliau cepat sembuh, karena cucunya sudah lahir."
^^^"Ya, Tuan Putri."^^^
"Baiklah, kalau begitu! Selamat siang!"
^^^"Selamat siang kembali, Tuan Putri."^^^
Setelah sang putri menutup telpon, ia pun meraih gagang pintu. Namun, sebelum ia tarik daun pintu, ia lepaskan lagi gagangnya dan ia pun melompat kegirangan.
"Ada bayi perempuan. Ini sangat menggemaskan. Aku harus segera menengok ponakan cantikku ini!" soraknya begitu antusias.
__ADS_1
"Kau mau ke Raisilian?" tukas sang pangeran yang sejak tadi hanya duduk di tepi kasur.
"Seharusnya begitu." Sang putri tersenyum lebar beberapa detik, namun setelah itu ia turunkan lagi ulasan senyum di bibir cantiknya tersebut. "Tapi itu, tidak mungkin. Ibu membutuhkanku."