Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Fitnah


__ADS_3

Aku udah bilang, ya. Kalau part-part sekarang akan banyak membuat emosi. Hihihi.


Sebelum lanjut ke cerita, aku mau ucapkan banyak terima kasih pada kalian yang sudah baca dan dukung cerita ini. Terima kasih untuk yang sudah memberi favorit, like, dan komentar positif untuk Gerald dan Eliana.


Terima kasih banyak juga untuk yang sudah memberi hadiah, vote, dan dukungan. Terus dukung cerita ini agar saya bisa tuntaskan karya ini sampai tamat dengan ending yang tidak mengecewakan.


*


Selamat membaca!


*


"Nyonya, ini makanan yang anda minta." Dayang Emma baru datang setelah sekian lama sejak Eliana meminta tolong untuk mengambil makanan.


Eliana terkejut melihat dayang Emma, bahkan kini dirinya sudah kehilangan selera makan. Seandainya dia bisa keluar, Eliana sangat ingin bertemu dengan kepala dayang istana dan mengganti dayang Emma dengan dayang lainnya. Jika meminta tolong pada Yang Mulia, mungkin Yang Mulia terlalu sibuk untuk menangani permasalahan ini.


Eliana melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Ini bahkan bukan sarapan, dibilang makan siang juga belum masuk pada waktunya. Tapi ia harus makan, demi menyusui bayi Kevin.


Tanpa meminta tolong pada dayang Emma, Eliana mengambil sendiri vitamin-vitamin yang diresepken untuknya pada saat program induksi laktasi dulu. Jika itu bibi Odeth, maka Eliana tidak perlu kerepotan begini.

__ADS_1


"Nyonya, apa tidak ada lagi yang perlu dibantu? Boleh saya pergi dulu?" pamit dayang Emma yang sepertinya geregetan sendiri melihat Eliana tidak segera menghabiskan makanannya.


Eliana hanya bisa mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia tidak menjawab, terserah saja itu dayang mau berbuat apa.


Dayang Emma menatap ke arah Eliana yang tidak kunjung memberi izin padanya. Dia mengamati Eliana yang sedang mengunyah makanan.


Tunggu, kalung itu ...?


Dayang Emma memperhatikan kalung yang dikenakan oleh Eliana. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk lebih menelisik pada benda itu.


Kalung emas putih dengan bandul setengah lingkaran? Jangan-jangan ... kalung itu adalah pasangan kalung yang kucuri. Bisa jadi, karena gadis ini adalah anak dari Louis, mengingat kalung ini juga buatan Louis untuk menjadi kunci pintu batu ruang bawah tanah di daerah Timur Raisilian.


Sejenak, dayang gadungan sedang memikirkan cara bagaimana untuk mengambil kalung yang ada di leher Eliana. Sebuah rombongan masuk ke dalam kamar Eliana dengan cara yang mengejutkan.


"A-aku ...?" tanya sang dayang.


"Ada apa ini?" Eliana yang sedang makan merasa terkejut.


"Maafkan kami yang menerobos masuk, Nona Eli!" ujar pria bertubuh gempal dengan seragam biru dongker penuh saku khas para anggota keamanan kerajaan. "Terkait pencarian kalung Yang Mulia Raja yang hilang, dalam cctv yang tersambung secara pribadi ke tablet sang Raja, kami mendapati dayang ini masuk ke kamar Raja Gerald dan terlihat seperti sedang memungut sesuatu," lanjutnya dengan tegas.

__ADS_1


"Emmmh itu ... aku memungut kotoran, kan ... aku sedang membersihkan kamar Ge- ... eeemh maksudku Raja Gerald!" Dayang tersebut membela diri.


Aku? Dayang Emma menggunakan kata Aku, untuk berbicara pada pejabat kerajaan? Sebenarnya apa pendidikan dayang ini? Dia semakin mencurigakan? Benak Eliana bertanya-tanya.


"Kau bisa menjelaskan itu semua di ruang interogasi, Dayang Emma!" seru sang kepala kemanan lagi.


Dayang Emma memutar cara, bagaimana agar ia tidak dibawa oleh kepala keamanan ini.


Dia pun menoleh ke arah Eliana, dan senyum licik terbit di sudut bibirnya.


"Tuan, Tuan! Aku bisa jelaskan, aku memungut kalung itu atas perintah seseorang. Iya ... aku cuma diperintah!" jawab dayang Emma dengan hati pongah merasa penuh kemenangan.


"Atas perintah? Siapa yang memerintahmu?" tanya sang Kepala keamanan.


"Tapi kau harus janji untuk melepaskanku setelah aku memberitahukan padamu!" ujar dayang tersebut mencoba bernegosiasi dengan cara licik.


Kepala keamanan terlihat berpikir sejenak. "Aku tetap harus membawamu meski kau hanya diperintah," jawab sang kepala keamanan tersebut.


Sang dayang itu mendecak.

__ADS_1


"Ayo jawab!" hardik para petugas keamanan lainnya.


"Aku disuruh oleh nyonya Eli! Kau lihat, di lehernya tergantung kalung milik Yang Mulia Raja. Dia yang menyuruhku!"


__ADS_2