Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Merawat Pangeran


__ADS_3

"Lepas ...," desis sang putri yang terkejut karena pangeran Arshlan tiba-tiba tersadar dan menggenggam tangannya.


Sang pangeran melonggarkan genggaman tangannya. Dia pun tersenyum. Ia merasa bahagia karena ketika ia tersadar, sang putri sudah berada di sampingnya.


"Dokter, sang pangeran sudah sadar," ujar putri Estelle pada dokter yang ada di belakangnya.


"Dokter?" Pangeran Arshlan menggeser sedikit posisinya dan terlihat seorang dokter berdiri di belakang putri Estelle. "Jadi ... kamu tidak sendiri? Ada dokter juga di sini?"


"Iya, Pangeran, hamba di sini sedang memeriksa kondisi anda."


Dia pikir aku bisa mengobati dia apa? Pastinya aku memanggil dokter, lah. Mana mungkin aku menemaninya di sini sendiri. Sang putri menggerutu dalam hati.


Sang dokter mendekat dan putri Estelle pun mundur. Ketika sang putri mundur, terlihat lah keberadan ratu Paula, ibu suri dan yang lainnya. Ekspresi pangeran Arshlan semakin kecewa.


"Akhirnya kau sadar, Pangeran."


"Syukurlah ananda sudah bisa bangun lagi."


"Ibu suri? Ratu Paula?"


"Iya, ini kami ...."


Sang pangeran terlihat kecewa, ia membanting tangan kanannya ke kasur perlahan. "Haiiish!"

__ADS_1


"Saya periksa lagi ya, Pangeran," ujar dokter meminta izin.


"Ya, terserah lah," jawab pangeran Arshlan skeptis.


Kenapa dia terlihat kecewa? Apa sebelum pingsan tadi kepalanya terbentur?


Sang putri memandangi pangeran Arshlan yang berperilaku aneh.


"Ramuan rumput Mandelish dan ginseng hutan ini sebaiknya segera diminum, Pangeran. Agar tenaga dalam pangeran lekas pulih. Lalu menurut saya, lebih baik pangeran Arshlan jangan dulu bertarung menggunakan tenaga dalam dan menunggu kondisi anda pulih sepenuhnya. Dengan bantuan ramuan ini, anda akan pulih lebih cepat."


Sang putri dan yang lainnya pun mendengarkan penjelasan dokter.


"Putri," panggil ibu suri Theresa.


"Berikan ramuan itu untuk calon suamimu!" titahnya.


Wajah putri Estelle langsung bersemu merah mendengar perkataan itu dari sang ibu suri.


Sementara itu pangeran Arshlan melebarkan senyumnya dan ia pun terlihat puas.


"Ayo! Kau tidak dengar saran dokter," titah sang nenek lagi.


"I-iya, Nek." Putri Estelle dengan terburu-buru mengambil gelas di atas nakas tersebut.

__ADS_1


"Nih!" Dia menyodorkan gelas itu ke arah pangeran Arshlan.


"Terima kasih, Putri." Pangeran tersenyum puas.


Pangeran Arshlan hendak mengambil gelas itu, namun ia tersenyum miring dan terpikirkan ide untuk menjahili sang putri lagi.


"Aaw!" Pangeran Arshlan menurunkan kembali tangannya. "Tanganku terasa sangat lemas. Putri, bisakah kau langsung menyodorkan ramuan ini ke mulutku?" pinta sang pangeran.


Putri Estelle merasa canggung. Ia melirik ke arah neneknya yang menatapnya dengan tajam. Melihat tatapan itu, sangat mustahil bagi dirinya menolak permintaan pangeran Arshlan.


"B-baiklah."


Sang putri mendekatkan gelas ke bibir pangeran Arshlan. Pria itu terlihat senang sekali dan tersenyum. Ia bahkan hampir menertawakan wajah putri Estelle yang terlihat memerah.


Apa itu tadi? Ekspresi selama satu per empat detik, dia terlihat menertawakanku, dia sengaja melakukan ini agar aku menuruti permintaannya? Dasar buaya, suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


Putri masih memegangi gelas untuk pangeran Arshlan, namun dalam hatinya ia merasa kesal pada pangeran Arshlan.


"Sluuurp, aaah! Ramuan ini terasa sangat enak," puji pangeran Arshlan. "Apa mungkin karena kamu yang memeganginya, Putri?" goda pangeran Arshlan dengan sengaja.


Dasar tidak tahu malu! Apa dia sudah terbiasa menggoda wanita di depan banyak orang seperti ini?


"Dokter, aku baik-baik saja! Kalian bisa kembali. Sudah ada putri Estelle yang akan merawatku."

__ADS_1


__ADS_2