
Di lahan konservasi, ratusan pohon yang sengaja baru ditanam pun rusak. Bahkan pohon-pohon pinus yang sudah lama pun ditumbangkan karena pangeran Aro yang mengamuk.
"Siapa yang membunuh prajuritku?" amuknya saat melihat salah seorang prajurit terkapar di bawah pohon pinus. "Orang yang membunuh itu juga membawa sandera yang berhasil kudapatkan."
Jlep
Pangeran Aro menancapkan pedangnya ke salah satu pohon yang masih berdiri.
"Aku akan membunuh siapapun orang itu. Berani-beraninya dia menantangku."
Dengan penuh amarah, ia cabut kembali pedang itu.
Sriiing
Ia ayunkan pedangnya menebas pohon.
Blug.
Pohon itu pun tumbang dalam sekali tebasan.
__ADS_1
"Ayo kita cari lagi tambang emas itu."
*
"Arshlan, aku tidak mau tau, kau harus hentikan pamanmu!"
Pangeran Arshlan diam tak berbicara. Sorot matanya bagai elang mencari mangsa. Dia mengunci rapat di bibirnya, karena rasa frustasi yang membuncah.
"Aku sudah mengirimkan Antony dan menyelamatkan kekasihmu! Sekarang giliranmu, kau harus selamatkan lahan konservasi bagian dari kerajaanku."
Sang pangeran tetap diam, tangannya fokus pada mobil yang ia kendarai. Banyak hal yang memenuhi pikirannya. Termasuk tujuan pamannya membongkar lahan milik kerajaan lain.
"Gerald?"
Pangeran Arshlan akhirnya membuka mulut saat mobil mereka hampir berada di lahan konservasi. "Apa benar di hutan itu ada tambang emas?"
"Aku masih belum memeriksanya. Tapi ... bila membaca dari tulisan yang kau kirim, jika benar itu adalah peta tambang emas milik Louis yang dicuri oleh mendiang selir Noirland, maka lokasi yang ditunjuk oleh peta itu memang benar di lahan ini."
"Apa lahan ini cukup luas?"
__ADS_1
"Tentu! Ini adalah kawasan hutan lindung, aku sengaja tidak membuat bangunan apapun di sekitarnya. Bahkan luas lahan ini hampir dua ratus hektar, kau tahu?"
Pangeran Arshlan diam tak menjawab. Lalu ia memarkirkan mobilnya di dekat pintu masuk kawasan ini.
"Ke mana para pengawal?" Raja Gerald terkejut mobil mereka sampai sendirian di kawasan itu. Sementara mobil para pengawal yang mengikuti mereka tidak ada di belakangnya.
"Mungkin satu jam lagi baru mereka sampai," jawab sang pangeran dengan santai. Lalu ia segera melompati gerbang dan masuk ke kawasan hutan tersebut.
Raja Gerald menunggu di dekat mobilnya. Ia tak mungkin mengikuti sang pangeran dengan kecepatan demikian. "Orang itu memang." Sang raja menggelengkan kepalanya.
Pangeran Arshlan terus melompat pohon satu dan yang lainnya untuk segera menuju ke atas bukit.
Tak lama kemudian, ia melihat area hutan tersebut gundul karena pohon-pohon di sana tumbang.
Pangeran mulai berjalan dengan pelan. Ia melihat pada pohon-pohon tumbang itu.
"Ini ... bekas pedang." Pangeran Arshlan melihat jejak potongan pada pohon-pohon itu. Lalu ia yakin jika pohon-pohon itu ditumbangkan menggunakan pedang dalam sekali tebasan.
Tidak orang di Raisilian yang dapat menumbangkan pohon besar hanya dalam sekali tebasan pedang. Sudah dipastikan ini adalah ulah pangeran Aro, karena jika itu para prajurit Yorksland pun, mereka tetap membutuhkan kampak untuk menumbangkan pohon dan tidak akan meninggalkan bekas semacam ini.
__ADS_1
Pangeran Arshlan melihat sekeliling. Area pohon yang ditumbangkan cukup luas. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Di mana otaknya? Apa ia mengajak berperang kerajaan lain dengan cara seperti ini? Memang orang itu menyusahkan saja," gerutu sang pangeran yang langsung berlari.
Ia menyusuri jejak pohon yang ditumbangkan, ia berharap dapat menemukan di mana paman dan para bawahannya berada di hutan itu.