Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Kesedihan Putri Estelle


__ADS_3

"Ketika berkunjung ke Noirland, nenek merasa jika Eliana ini mirip sekali dengan putri Alana, putri sulung nenek, kakak dari ayahku. Maka dari itu, nenek berinisiatif untuk melakukan tes DNA," jelas Putri Estelle. "Selain itu, nama ibu dari Eliana juga sama, yakni Alana," tambah sang putri.


Ibu suri mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Maka dari itu, aku berharap, jika Eliana adalah benar-benar anak dari sang Putri yang menghilang." Putri Estelle terlihat benar-benar berharap. Binar matanya sangat menunjukkan jika dirinya benar-benar ingin Eliana menjadi sepupunya.


"Kenapa tuan Putri bersedih seperti ini?"


Ratu Allura dan ibu suri Paula hanya memperhatikan interaksi dari keduanya tanpa merespon apa-apa.


Sejenak ruangan itu hening, sampai putri Estelle bangkit dan berkata, "Yang Mulia ibu suri, bisakah Yang Mulia menemani ibuku di sini?" tanyanya.


"Memang kau akan pergi ke mana?"


"Aku ingin berkeliling bersama Eliana sebelum pulang dari istana ini."


"Aku tak perlu kau temani, Paula. Kau bisa kembali, aku tak apa," sanggah Ratu Allura. "Lagi pula ada para dayang di sini," imbuhnya.


"Ah tak apa, aku akan menemanimu. Pergilah kalian," ucap sang ibu suri.

__ADS_1


"Kalau begitu, terima kasih, Yang Mulia." Putri Estelle membungkukkan badan sambil menggamit tangan Eliana.


"Saya pamit, Yang Mulia Ratu dan ibu suri," ucap Eliana terburu-buru sambil setengah berlari karena tangannya dipegang oleh putri Estelle yang mengajak berjalan dengan cepat.


Mereka berdua pada akhirnya berjalan dengan kecepatan normal dan beriringan setelah sampai di lorong istana.


"Ada apa tuan putri membawaku ke mari?" tanya Eliana.


"Emmmh, aku ingin berbicara padamu. Tapi jangan di sini, ayo kita bicara di taman Lilac milik ibu suri saja," ajak putri Estelle.


Mereka pun menuju ke bagian taman Lilac kesayangan ibu suri Paula, Eliana selalu mengagumi kecantikan bunga-bunga Lilac yang ada di taman tersebut.


"Kau bisa membuat yang lebih luas setelah kau menjadi ratu nanti," ujar sang putri sambil menarik sebuah kursi putih yang di bawah gazebo yang teduh.


"Ah, tuan putri berlebihan. Aku sama sekali tidak pernah bermimpi barang sedetik pun untuk menjadi ratu di Raisilian," ucap Eliana.


"Eliana, kau tahu? Aku benar-benar selalu berdo'a agar kau memang sepupuku."


Eliana mengernyit lalu menjawab, "Tanpa harus menjadi seorang sepupu, aku akan tetap menganggap putri Estelle adalah saudaraku."

__ADS_1


"Ada hal yang lebih penting mendasari keinginanku, El!"


"Apa?"


"Aku ingin kau bisa menjadi penggantiku ketika aku pergi nanti," lanjut putri Estelle seraya tersenyum yang malah jawabannya menyiratkan pertanyaan lain dalam benak Eliana.


"Tuan putri akan pergi ke mana?" Eliana bertanya-tanya.


Segurat senyum yang penuh kesedihan terbit dari wajah ayu sang putri. Entah apa yang ia rasakan saat ini, benar-benar membuat Eliana penasaran.


Putri Estelle berdiri lalu berjalan ke arah tepi gazebo, dia menyandarkan tubuhnya dengan lesu pada tiang gazebo yang diukir dengan sangat cantik.


"Aku akan menikah, Eli!"


Jawabannya benar-benar membuat Eliana terkejut. "Dengan siapa? Selamat, ya?"


Eliana berpikir ini adalah kabar bahagia. Namun dari wajahnya, Putri Estelle sama sekali tak merasakan seperti itu.


"Apa tuan Putri tidak senang dengan pernikahan ini?" tanya Eliana lagi karena putri Estelle masih terdiam dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


"Aku tidak mencintainya, El."


__ADS_2