
"Yang Mulia Ratu! Yang Mulia Ratu! Mohon perhatikan kandungan anda, Yang Mulia Ratu!" teriak dayang yang sedang menyusul Yang Mulia Ratu.
Namun Ratu Eliana tetap berlari ingin menuju mobil agar bisa pergi ke hutan konservasi di wilayah gunung barat. Sevda melihat kepanikan sang dayang karena memikirkan kandungan ratunya. Dia pun memikirkan cara lainnya.
Pada akhirnya, Sevda pun berlari ke arah yang berlawanan dengan ratu Eliana dan berkeliling memutar. Hingga ia bertemu dengan sang ratu, dan menghadangnya dari arah berlawanan.
"Yang Mulia Ratu, hamba mohon anda berhenti dulu!" Sevda berhenti tepat di tengah koridor dan berhadapan dengan ratu Eliana.
Sang ratu pun sontak berhenti. Dia menatap pada Sevda yang sedang terengah-engah mengatur napasnya. Kemudian dia berbalik ke belakang dan melihat dayang juga sedang melakukan hal yang sama.
"Yang Mulia, hamba mohon berhenti. Ingat pesan dokter untuk anda," ujar sang dayang.
Ratu Eliana merasa terjepit, dan pada akhirnya dia pasrah. "Kenapa aku tidak boleh pergi ke mana-mana?" keluhnya.
"Karena Yang Mulia sedang mengandung bayi," jawab para dayang.
"Yang Mulia Ratu tenang saja, karena Yang Mulia Raja Gerald tengah berbalik arah menuju ke mari." Sevda berjalan mendekat pada ratunya.
"Lagipula, Yang Mulia Ratu juga belum sarapan, ayo sarapan dulu," ajak sang dayang.
Kali ini, ratu Raisilian itu pun menurut dan mengikuti para dayang menuju ke ruangannya kembali.
*
__ADS_1
"Di mana sang ratu?" tanya Raja Gerald begitu ia sampai di istana.
"Ada di kamarnya lagi, Yang Mulia. Beliau sedang sarapan." Antony memberikan jawaban.
Tanpa basa-basi, Raja Gerald pun segera pergi ke kamar mereka dan ingin menemui ratunya yang sedang 'bandel' itu.
Brak
Suara pintu yang dibuka dengan agak keras mengagetkan seisi ruangan.
Para pengawal, para dayang, dan asisten Sevda langsung menuju ke luar untuk memberikan waktu bagi Yang Mulia Raja dan Ratu mereka.
"Aku dengar, ada yang menolak ketika diminta mempelajari bisnis kerajaan." Raja Gerald menghampiri ratu Eliana yang sedang menyantap kudapan miliknya.
"Hei, kau dengar aku?"
Ratu Eliana memalingkan wajahnya dari sang raja. Kemudian ia menunduk dan pura-pura fokus pada pudingnya.
"Hei, itu pudingku!" protes sang ratu ketika Yang Mulia Raja mengambil pudingnya.
Raja Gerald tersenyum, dan ia berkata, "Aku tak suka jika orang yang kuajak bicara tidak memperhatikanku."
Ratu Eliana pun mengalah dan pada akhirnya ia diam.
__ADS_1
"Aku juga ingin ikut meresmikan hutan konservasi," ujar sang ratu.
"Kau tidak boleh kelelahan, sayang."
"Tapi aku bosan, di sini!"
Raja Gerald pada akhirnya mengembuskan napasnya. "Baiklah! Habiskan dulu makananmu, tapi!" titah sang raja.
Ratu Eliana meminta kembali pudingnya namun sang raja menolak.
"Biar aku yang menyuapimu!"
"Emm, ti-tidak usah!" jawab Ratu Eliana malu-malu.
"Ayo buka mulutmu!" Sang raja memaksa istrinya untuk mau ia suapi.
Lagi-lagi ia mengalah dan membuka mulutnya.
"Emmm, Yang Mulia suamiku," panggil ratu Eliana setelah pudingnya habis.
"Hmmm?"
"Terima kasih telah kembali terlebih dahulu untuk menemuiku," ujar sang ratu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu," jawab singkat sang raja. Yang pada akhirnya keduanya saling berpelukan terlebih dahulu sebelum berangkat ke hutan konservasi.