Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Pembicaraan Ratu Maria dan Putri Estelle


__ADS_3

"Aku Ratu Maria, ingat?" Sang ratu tersenyum dan membelai rambut sang putri.


Putri Estelle seketika merona, ia malu sekaligus terkejut. Karena sedikit pun ia tak pernah menyangka jika perempuan yang terlihat muda di hadapannya ini adalah ibunda dari pangeran Arshlan.


"Y-Yang Mulia Ratu?" Putri Estelle yang tergagap pun langsung membungkukkan badan untuk memberi hormat.


"Tak perlu sungkan, sayang."


"Maafkan, hamba yang tak bisa mengenali anda, Yang Mulia Ratu." Putri Estelle benar-benar malu.


"Anakku, sayang. Tak perlu sampai seperti itu." Sang ratu malah memeluk putri Estelle tanpa canggung.


A-anakku?


Degup jantung putri Estelle bertambah kencang, ia semakin gugup karena ratu Maria memanggilnya dengan sebutan anakku.


Ini berbeda, meski ibu suri Paula juga menganggapnya sebagai anak sendiri, tapi ini terlalu berbeda.


"Aku turut berduka cita atas kematian ibumu. Sayangnya, pada saat upacara kremasi ratu Allura, kau sedang tak sadarkan diri waktu itu. Sehingga aku tak bisa menemuimu," ujar ratu Maria.

__ADS_1


Putri Estelle pun teringat saat ia langsung pingsan ketika melihat energi roh ibunya yang hilang saat itu. Lalu setelah itu ia tidak ingat apa-apa dan bangun beberapa hari setelahnya.


"Pasti saat itu kau terpukul sekali, kan? Kehilangan seorang ibu memang sangat berat bagi kita." Ratu Maria tersenyum sendu.


"Yang Mulia Ratu benar. Ibunda adalah ibuku yang sangat berarti dalam hidupku."


"Kalau begitu, bersemangatlah! Jangan bersedih, ibumu akan sangat bahagia melihatmu bangkit," hibur ratu Maria pada calon menantunya.


"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba hanya teringat saat ibu suri Paula memanggil nama ibunda. Hamba terharu, karena mengingat ibunda juga sangat menyayangi ibu suri Paula," ujar putri Estelle.


"Aku mengerti sayang."


Di lain tempat, ada yang sedang memasang telinga lebar-lebar dan mencoba memfokuskan pendengaran pada pembicaraan putri Estelle dan ibunda ratu Maria. Namun hal itu gagal akibat barrier yang dipasang ratu Maria, ia paham jika putranya pasti ingin sekali menguping pembicaraan mereka.


Sang ratu sesekali menertawakan usaha putranya yang selalu ia gagalkan tanpa putri Estelle sadari.


"Sayang, kau sudah menerima lamaran putraku, kan?" tanya ratu Maria tanpa basa-basi.


"Emmm ... itu .... Anu ... emmm ...." Putri Estelle kembali gugup mendengar pertanyaan itu. Wajahnya semakin matang karena hal tersebut.

__ADS_1


"Jadi ... dia belum melamarmu?" tanya ratu Maria terkejut.


"Itu ... kan, acara tunangan kami gagal," jawab sang putri.


Ratu Maria pun mengerti, ketika dia ingat saat insiden penculikan putri Estelle oleh pangeran Aro. Hal itu terjadi ketika hari pertunangan akan dilaksanakan.


"Emmm, iya ... aku tau. Lalu ... saat kalian berdua saja, apa Arshlan pernah menyatakan perasaannya padamu?" tanya ratu Maria lagi.


Putri Estelle terdiam. Yang ada justru dia yang pernah menyatakan perasaannya. Pangeran Arshlan hanya kebanyakan menggodanya.


"Jadi ... Arshlan belum mengatakan apa-apa untukmu?" ujar Ratu Maria bertanya lagi karena putri Estelle diam saja.


Sang putri hanya tersenyum tanpa berkata-kata.


"Tapi sayang, apa kau menyukai putraku? Dia pasti menyebalkan, kan? Tapi sebenarnya dia sangat baik. Aku bisa melihatnya dari caranya setiap ia membicarakanmu, dia terlihat sangaaat menyukaimu. Sebagai seorang ibu, aku yakin, perasaan putraku padamu itu ... sangatlah tulus. Kau bisa pegang kata-kataku."


Sang putri terdiam, wajahnya merona dan ia juga terus tersenyum.


Bersamaan dengan itu, ratu Maria melepaskan barrier agar pangeran Arshlan bisa mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Jika dia menyakitimu, aku yang akan memenggal kepalanya!"


__ADS_2