Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Benar-Benar Pergi


__ADS_3

"Tidak ...!"


"Ibu ...!"


*


"Tuan putri ...? Tuan putri ...?"


Wanita yang dipanggil tuan putri mulai menggerak-gerakkan kelopak matanya dan juga jari-jarinya.


"Tuan putri mulai sadar. Panggil dokter!"


Putri Estelle pun membuka matanya dan ia mulai mengamati di mana sekarang dirinya berada.


"Tuan putri ...? Anda sudah bangun ...?" Seorang dayang menghampiri putri Estelle.


"Ibu ...," lirih sang putri.


Para dayang yang ada di sana saling berpandangan satu sama lain.


"Di mana ibuku?" tanya sang putri dengan suara yang masih parau.


"Apa aku sudah lama tak sadarkan diri?" tanya putri Estelle lagi.


"A-anu ...."


"Putri Estelle? Cucuku? Kau sudah bangun?" Ibu suri Theresa terlihat muncul dari balik pintu. Sepertinya ia langsung bergegas begitu mendengar putri Estelle membuka matanya.


"Nenek ...? Di mana ibu?" tanya sang putri pada neneknya.


Ibu suri menghela napasnya, kemudian ia duduk di tepi ranjang sambil membelai tangan cucunya itu.


"Nenek ...? Apa benar ibu sudah ...?" tanya sang putri tak berani melanjutkan.

__ADS_1


Ibu suri menganggukkan kepalanya. "Iya, dia sudah tiada ...."


"Tidak ...!" Putri Estelle terbangun dan langsung menutup telinganya.


"Tidak, jangan katakan lagi. Aku tidak mau mendengarnya." Sang putri menolak kenyataan yang ada.


Ibu suri Theresa ikut menangis meluruhkan air mata melihat kondisi cucunya.


"Tenangkan dirimu, sayang. Tenangkan dirimu ...," pinta sang ibu suri.


"Apa ... jasadnya sudah ... sudah ... di-"


"Iya, tentu sudah. Jasad Yang Mulia Ratu sudah dikremasi." Sebuah suara tegas datang lagi dari arah pintu. Menyita perhatian semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Ke marilah! Pangeran!" Ibu suri meminta pangeran Arshlan bergabung dengan mereka.


"Kenapa aku bisa tidak sadarkan diri? Apa pertemuanku dengan ibu itu hanya mimpi?" gumam sang putri bertanya-tanya.


"Lalu?"


"Kau memang bertemu ibumu. Namun setelah energi roh ibumu lenyap, kau tak sadarkan diri."


"Apa yang terjadi dengan ibu setelah itu?"


"Ketika energi roh-nya lenyap, saat itu pula Yang Mulia Ratu Allura mengembuskan napas terakhirnya. Satu minggu sudah kau tidak sadarkan diri, Putri."


Tes


Putri Estelle memejamkan mata dan diiringi dengan tetesan air mata.


"Aku ... aku ...."


"Sssst ...."

__ADS_1


Pangeran Arshlan menenangkan sang putri. "Tak perlu bersedih, kau mendengar sendiri, kan, ucapan terakhir ibumu? Dia berharap kau lebih kuat dari siapapun."


Putri Estelle menggigit bibirnya yang pucat, air matanya tetap meluruh dalam isak tangisnya. Ada sesal dalam hatinya, ketika ia tak bisa menemani sang ibu di masa-masa terakhirnya.


Mungkin ini rencana terbaik dari Tuhan, Dia membuatku tak sadarkan diri agar tidak melihat ibu berubah menjadi abu.


"Di mana abu jenazah ibu dibuang?" tanya sang putri. "Sungai El-Fithr?"


Ibu suri Theresa menggeleng. "Kami belum membuangnya, sayang. Abu jenazah ibumu masih utuh. Kita akan membuangnya bersama-sama," ujar sang nenek.


Putri Estelle tersenyum tipis. "Terima kasih telah menungguku."


*


...Di hilir sungai dengan air yang jernih,...


...Jiwa yang terbakar telah melayang,...


...Menghapus dosa dan menyisakan kenangan,...


...Mengharap keikhlasan orang yang ditinggalkan....


...Aku berguru pada air yang tenang,...


...Tidak tau seberapa dalam hingga menyentuh dasar....


...Abu yang larut pada air tenang,...


...Tidak tau seberapa jauh jiwanya akan berkelana....


Semilir angin menemani rombongan istana di sungai El-Fithr. Tuhan memberkati pelarungan abu Yang Mulia Ratu Allura. Wanita Agung di Noirland telah tiada. Kerajaan ini berduka.


"Ibu .... Aku akan menjadi ratu yang kuat seperti yang kau harapkan."

__ADS_1


__ADS_2