
Sang pangeran yang masih terdiam di tempatnya dan mengamati sang putri, mulai berjalan menghampiri. "Lebih baik, kita lihat kejadian yang sebenarnya. Ayo!"
Putri Estelle mendengar ajakan pangeran Arshlan. Ia pasrah saat itu, dalam hatinya membenarkan sepertinya pangeran Arshlan tau sesuatu.
Mereka berdua bergegas menuju kamar Yang Mulia Ratu.
Blak
Sang putri benar-benar terburu-buru. Ia tak menunggu penjaga membuka pintu untuknya, bahkan sang penjaga masih membungkuk memberi hormat padanya ketika ia mendorong pintu kamar ibunya.
"Kenapa kalian kem-" Energi roh ratu Allura berbicara namun tak terdengar oleh sang putri. Ia telah berada di sisi tubuh ibunya yang terbaring.
Energi roh sang ratu melihat pada pangeran Arshlan satu-satunya orang yang bisa melihat dirinya.
__ADS_1
Sang pangeran mengangguk pada energi roh itu, tanda jika ia meng-iya-kan bila putri Estelle telah menyadari keanehan pada sang ratu.
Putri Estelle membelai tubuh ibunya yang sangat dingin. Ia masih melihat dada sang ibu yang kembang kempis tanda jika masih bernapas.
Bagi sang putri, Ratu Allura bukan hanya seorang ibu, melainkan teman, saudara, bahkan ayah. Orang yang sering mengajaknya bermain, bercanda dan bertengkar, tidak lain adalah sang ratu Allura, ibunya sendiri, orang yang telah melahirkan dirinya dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk sebuah kerajaan.
"Ibu ...!" Putri Estelle memeluk kepala ibunya. Dingin. Sangat dingin. Seluruh wajah ratu Allura sangat pucat, bibirnya pun tidak merah lagi, tidak ada rona lagi di pipinya. Sang putri meletakkan kepala itu ke dalam dekapannya, menempelkan kepala sang ibu pada dadanya. "Ibu ...," lirihnya merintih. "Bangun ...," usiknya sekali lagi berharap ibunya terbangun.
Putri Estelle sama sekali belum menyadari, jika yang ia temui sebelum ini hanya energi roh ibunya.
Pangeran menepuk pundak sang putri. Putri Estelle akhirnya meletakkan kembali kepala ibunya, lalu kini dirinya yang menunduk dan meletakkan kepala di dada sang ibu.
"Aku tidak akan pergi ke Raisilian. Aku akan menunggu ibu hingga sadarkan diri," ujar putri Estelle pada ibundanya. "Aku kembali lagi ke istana untuk ibu, aku merasa ada yang aneh dengan pertemuan terakhir kita."
__ADS_1
"Putri, lebih baik kau istirahat juga di kamarmy. Nanti kita temani lagi sang ratu." Pangeran berkata di belakang sang putri.
Menggelengkan kepalanya, sang putri benar-benar tak ingin berpisah dari ibunya.
"Setidaknya, ganti dulu bajumu," saran dari pangeran sekali lagi. Namun putri lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
Pangeran hanya bisa mengembuskan napasnya. Kini dirinya pun duduk di belakang putri Estelle dan menemani wanita itu sedang menangis.
"Kita panggil dokter saja, bagaimana?" saran pangeran Arshlan.
Sang pangeran tak bisa memberi tahu yang sebenarnya pada putri Estelle. Tapi menurutnya, dokter senior di istana ini, pasti bisa melihat energi roh sang ratu. Melalui dokter senior, sang putri bisa tahu yang sebenarnya.
Sang putri diam tak menjawab, akhirnya pangeran Arshlan meminta pada seorang dayang untuk memanggilnya.
__ADS_1