Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Gendongan Di Bawah Senja


__ADS_3

Tap tap tap


Hangat, mendebarkan, juga nyaman.


Tap tap tap


Langkah demi langkah, sang putri berada di atas punggung pangeran Arshlan. Tidak dapat dipungkiri, ia merasa cukup nyaman meletakkan kepalanya di ceruk leher sang pangeran.


Detak jantung sang pangeran, deru napasnya, dan setiap gerakan, semuanya terdengar oleh putri Estelle dalam jarak sedekat ini.


Saat itu, matahari hampir tergelincir dari puncaknya. Warna jingga mewarnai langit menandakan senja. Pemandangan bukit di tepi hutan Noirland begitu indah ditambah rumah-rumah mungil yang berjajar indah.


Jalanan sedikit becek oleh air yang menggenang, ditambah beberapa bercak kemerahan di atas kerikil yang berasal dari pertumpahan darah pertempuran tadi. Bercak-bercak darah itu, berkilau kehitaman karena sorot matahari dari arah barat.


Para pengawal dan dayang memperhatikan kedua petinggi kerajaan yang begitu mesra, hal itu menghadirkan rasa mengharu biru di bawah jingganya senja.


Ceruk leher pangeran Arshlan, tiada tempat ternyaman bagi putri Estelle untuk menyandarkan kepala saat ini. Hirup bau keringatnya, nikmati suara detak jantungnya, peluk hangat suhu tubuhnya, ini adalah hal pertama bagi sang putri diperlakukan begitu manis oleh seorang pangeran.


"Pangeran Arshlan ...?" panggil sang putri yang sedang berada dalam gendongannya.


"Jangan banyak bicara," larang sang pangeran seraya terus berjalan menggendong sang putri.

__ADS_1


"Pangeran Arshlan ...?" Seakan tidak mengindahkan larangan sang pangeran untuk diam, putri Estelle memanggil lagi nama sang pangeran.


"Pangeran Arshlan, kau tidak mendengarku?"


"Hmmm ...? Kubilang untuk diam!"


Sang putri menarik kepalanya dari bahu pangeran Arshlan. "Pangeran Arshlan!" panggil sang putri agak lebih keras.


"Hmmm?" jawab pangeran Arshlan tidak kalah kerasnya.


"Kau mau bawa aku ke mana? Mobilku sudah terlewat?" protes sang putri.


Tap tap tap


Putri Estelle menoleh ke belakang, ia melihat para pengawalnya semakin jauh dengan dirinya. "Kau tidak berniat menculikku, kan?" Sang putri menaruh curiga.


Pangeran Arshlan tiba-tiba berjongkok di tepi motornya terparkir. Putri Estelle spontan langsung turun dari punggung sang pangeran.


Namun ...


Grep!

__ADS_1


Kedua tangan sang pangeran memegang pinggang putri Estelle. Lalu tanpa tedeng aling-aling, pangeran Arshlan mengangkat tubuh ringan sang putri agar duduk di atas jok motornya.


"Aaaw!" jerit putri Estelle yang terkejut. "Aku mau turun!" Putri Estelle hampir melompat.


"Diam! Kau tahu, leher mereka taruhannya."


Mendengar ancaman dari sang pangeran, putri Estelle pun diam. "Dasar tukang mengancam ...," bisik putri Estelle lirih hampir tanpa suara.


Tersenyum miring, pangeran Arshlan selalu terlihat senang jika putri Estelle menjadi kesal seperti sekarang ini.


Motor sang pangeran pun langsung ia naiki. Putri Estelle membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Pegangan!" titah sang pangeran.


"Kau sengaja hendak mengebut untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, kan?"


Pangeran Arshlan mengurungkan niatnya untuk memakai helm, ia menoleh ke belakang lalu menatap wajah putri Estelle yang sedang cemberut.


"Aku tidak berbohong! Kau tau, bahkan dari Raisilian ke Noirland bisa kutempuh dalam waktu enam jam menggunakan motor ini. Bisa kau bayangkan betapa cepatnya aku mengendarai motor ini?" Sang pangeran mengerlingkan matanya.


"Jadi sekarang, peluk aku!"

__ADS_1


*


Jangan ada yang halu pingin ikut peluk-peluk ya! Hahahaha


__ADS_2