Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Mengaku pada Ratu


__ADS_3

Hari yang menegangkan seakan telah berakhir. Tiga kerajaan yang baru-baru ini mendapat kudeta karena pengkhianatan dari orang dalam, pada akhirnya mereka mampu bangkit kembali dan menyingkirkan para pengkhianat.


Mereka bekerja sama untuk saling membantu satu kerajaan dan yang lainnya. Tujuan mereka bukan hanya untuk kejayaan anggota keluarga kerajaan, melainkan juga untuk kesejahteraan rakyat mereka.


Setelah semalam adalah malam yang tegang karena terjadinya pembantaian para pengkhianat oleh pangeran Arshlan, pagi ini semua jasad pembelot itu dipulangkan ke Yorksland.


Sementara itu, pangeran Arshlan belum memutuskan untuk pulang karena putri Estelle masih berada di Raisilian.


Namun seperti biasa, pria yang menjadi putra mahkota kerajaan Yorksland itu tidak akan tinggal diam ketika proses pengangkutan peti jenazah. Meski ia tidak ikut kembali, namun setidaknya ia membantu mengantarkan para jasad itu ke bandara.


"Kau sudah bersiap ke bandara, Pangeran Arshlan?" Seorang perempuan sambil membawa bayi datang menghampirinya.


"Betul, Yang Mulia Ratu. Terima kasih atas kebaikan jasa dari kerajaan kalian. Saya tetap harus membantu para pekerja, setidaknya mengantar sampai bandara." Pangeran Arshlan menjawab pertanyaan ratu Eliana dengan lembut.


"Begitu?"


"Benar, Yang Mulia Ratu. Ada yang ingin anda sampaikan padaku? Tidak biasanya ratu Eliana bertandang ke depan paviliunku seperti ini?" tanya sang pangeran yang merasa aneh.


"Sebenarnya tidak ada, karena kau ingin pergi, aku tidak akan menahanmu." Sang ratu menepuk-nepuk bayinya untuk ia tidurkan sambil berdendang lirih. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan pangeran Arshlan.

__ADS_1


"Ratu Eliana?" panggil pangeran Arshlan sebelum sang ratu menjauh.


"Iya, kenapa?"


"Ada hal apa? Apa yang ingin Yang Mulia Ratu katakan? Apa perlu bantuanku?" tawar sang pangeran.


Namun ratu Eliana malah tersenyum sambil mengangkat alisnya. Hal itu membuat pangeran Arshlan malah mengernyitkan dahinya karena senyum sang ratu yang mencurigakan.


"Bukan apa-apa. Hanya tentang ... putri Estelle ...," bisik sang ratu dengan lirih.


"Putri Estelle?" Pangeran mengulangi perkataan sang ratu. "Ada apa dengannya?"


"Emmmh, tidak ada apa-apa. Tapi ... dia menjadi sedikit aneh saja sejak kemarin. Dia tidak mau makan, menyendiri di dalam kamar, tidak bicara. Dan ... dia sangat tidak mau membicarakan tentangmu. Sebenarnya apa yang kau perbuat padanya sebelum kau pergi dengan suamiku? Apa kau melakukan satu kesalahan?" Ratu Eliana mencoba menerka.


"Pangeran Arshlan?" panggil sang ratu lagi karena pangeran tampak sedang melamun.


"Ah, i-iya. Tidak. Tidak apa-apa. Aku tidak melakukan apa-apa dengan putri Estelle." Pangeran Arshlan menjawab dengan agak gugup. "Kenapa Yang Mulia Ratu menatapku demikian?"


"Memang seperti apa tatapanku?"

__ADS_1


"Yang Mulia Ratu pasti menuduhku melakukan yang tidak-tidak, kan?"


"Tidak."


"Aku benar-benar tidak melakukannya."


"Baik."


"Haha. Yang Mulia Ratu, kau terlihat tidak percaya padaku, ya?"


"Apa terlihat seperti itu?"


"Aiiish. Baiklah, aku mengaku. Kami ... kami ... kami memang ... hampir melakukannya. Hampir, tapi kami tidak melakukannya. Kami hanya ...."


"Anda bicara apa, Pangeran? Aku yang tidak mengerti sekarang." Ratu Eliana memotong penjelasan sang pangeran yang tergagap-gagap. "Coba jelaskan padaku, apa yang hampir kalian lakukan?"


"Ya ... itu .... Kami hanya hampir melakukannya."


Puk puk puk

__ADS_1


Sang ratu menepuk bahu pangeran Arshlan.


"Temui saja putri Estelle. Aku akan menidurkan bayiku dulu."


__ADS_2