
Kondisi kehamilan yang masih berada di usia semester pertama sungguh mengganggu indra penciuman Eliana. Bau setipis apapun di dekatnya, akan membuatnya langsung pening, muntah dan tak berselera. Satu-satunya bau yang sangat disukai Eliana adalah, bau badan bayi Kevin yang seperti bau susu ketika baru bangun tidur.
Eliana benar-benar gemas dan selalu menciumi bayi Kevin di pagi hari saat bayi itu baru bangun tidur. Sampai-sampai bayi itu menangis karena merasa geli oleh ibu susunya sendiri.
Namun pagi ini, Eliana benar-benar mual oleh bau parfum sang raja yang menempel di gulingnya. Padahal sehari kemarin sang raja sama sekali tidak datang apalagi tidur di kamar Eliana.
“Bibi Odeth ….” Eliana mengarahkan guling itu sambil memanggil dayangnya.
“Iya, Nona? Kenapa gulingnya?” Bibi Odeth sedang menyuapi bayi Kevin sarapan, dia menghampiri Eliana dan menerima guling itu dengan sebelah tangannya.
“Apa perlu bibi membuang ini?” tanya sang bibi.
Eliana mengangguk sambil berlari ke arah kamar mandi untuk kembali melakukan rutinitas paginya. Muntah-muntah mengeluarkan seluruh isi perutnya.
“Bibi, ini menjengkelkan sekali? Apa sampai sembilan bulan aku akan terus muntah-muntah begini?” keluh Eliana sambil mengusap-usap perutnya.
“Sabar, Nona. Biasanya hanya di trimester pertama saja. Selanjutnya Nona akan baik-baik saja,” jawab bibi Odeth seraya dirinya menyendoki bubur untuk disuapkan pada bayi Kevin.
__ADS_1
“Kevin …,” panggil Eliana mendekati bayi mungil yang didudukkan pada kursi makan khusus untuk miliknya.
“Maa … maaa ….” Bayi itu terlihat gemas dan meremas wajah Eliana menggunakan tangan mungilnya.
“Maafkan mama ya, sayang. Mama tidak bisa mengajakmu bermain.” Eliana mengusap pipi lembut bayi Kevin.
Bayi itu terlihat tertawa bahagia mendengar Eliana mengajaknya berbicara, meskipun dirinya sendiri tidak tahu apa yang dibicarakan Eliana.
“Sudah habis yang ada di mulutnya?” tanya bibi Odeth seraya memperhatikan isi makanan dalam mulut bayi Kevin.
“Aaaaa ….” Bibi Odeth memeragakan cara membuka mulut setiap kali ia menyuapkan makanan pada bayi Kevin.
“Kamu selalu makan dengan lahap, ya? Kalau begini, kan, mama menjadi tenang hatinya.” Eliana kembali berdiri.
“Terima kasih, ya, Bibi Odeth,” ucap Eliana dengan tulus pada dayangnya itu.
Eliana berjalan ke arah jendela. Ia melihat pemandangan di luar istana dari kamarnya. Matanya menatap nyalang menuju pada dua orang manusia yang sedang mengobrol di luar sana. Dari jendela kamarnya yang berada di lantai atas, Eliana bisa dengan jelas melihat salah satu di antara mereka berdua.
__ADS_1
Sreeeeek.
Tirai jendela ia tutup dengan kasar. Lalu Eliana langsung melipat tangannya di depan dada, mengerucutkan bibirnya dan duduk di ranjang.
Bibi Odeth bertanya-tanya. Ada apa lagi dengan nonanya? Kenapa tiba-tiba dia cemberut dan menutup tirai pagi-pagi, di kala semua orang ingin mendapat cahaya matahari untuk masuk ke dalam ruangan.
“Maa … maa …,” panggil bayi Kevin yang terkejut akan perubahan cahaya.
Bibi Odeth langsung menggendong bayi Kevin seraya mengelap mulutnya yang belepotan oleh buburnya. Ia agak bingung karena suasana dalam kamar menjadi redup. Bibi Odeth sendiri tak berani bertanya, apakah ia perlu menyalakan lampu atau tidak?
“Maa … maa ….” Bayi Kevin melambaikan tangannya pada Eliana karena meminta digendong.
Eliana menatap bayi Kevin dan menyambut uluran tangan bayi itu. Serta merta bibi Odeth memberikan bayi Kevin pada ibu susunya tersebut.
“Bibi, tinggalkan kami sendiri. Aku ingin berdua saja dengan bayi Kevin,” pinta Eliana.
“Baik, Nona.”
__ADS_1