
"Apa aku bermimpi?" Raja Gerald menggenggam tangan Ratu Paula yang sedang tersenyum lemah.
"Jangan terlalu keras pada ibu suri, Yang Mulia Raja. Beliau masih dalam keadaan lemah pasca koma," saran dokter yang berdiri di belakangnya.
Sang raja mengangguk. Tentu saja ia juga tahu, ia tidak ingin ibu yang sudah lama ia tunggu-tunggu kesembuhannya menjadi tidak sadar lagi karena perilakunya.
"Aku senang sekali karena ibu sudah sadar." Ratu Eliana pun duduk di samping ibu suri Paula sambil menitikkan air mata.
"All ... lura ...."
Suara ibu suri terdengar sangat lirih.
"Iya, Bu? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Yang Mulia Raja Gerald.
Ibu suri hanya mengedipkan mata. Baru setelah beberapa saat ia mengeluarkan suara lagi. "Allura ...."
Bersamaan dengan itu, pangeran Arshlan dan putri Estelle tiba di kamar ibu suri Paula.
"Ibu suri ...." Sang putri ikut mendekati, sementara itu raja Gerald mundur guna memberi ruang pada putri Estelle.
"Ibuku ... sudah tiada ...." Isak dan tangis sang putri tak dapat dicegah. "Maaf, maaf aku malah menangis di momen bahagia ini. Maafkan aku ...."
__ADS_1
Putri Estelle pun langsung berlari ke luar kamar. Sementara itu, ibu suri Paula yang mendengar itu pun menitikkan air matanya. Semua yang menyaksikan kejadian itu, ikut bersedih karena teringat lagi kematian wanita nomor satu di Noirland sekaligus sahabat ibu suri Paula itu.
Mereka semua teringat akan kegigihan dan kesabaran ratu Allura saat merawat ibu suri Paula, padahal saat itu penyakit beliau juga tidak kalah parahnya.
*
Berlari menyendiri, putri Estelle kembali menangis. Ia teringat lagi akan ibunya. Kehilangan ibu bagaikan kehilangan sebelah sayapnya. Seakan ia tak bisa lagi terbang untuk tersenyum mengelilingi dunia.
Sakit yang ia rasa masih belum terobati.
"Ibu ...," rintih sang putri sambil terisak. Ia memegangi dadanya yang sesak karena rasa sakitnya.
Mengawasi dari kejauhan, menjaga dalam keheningan. Ia hanya ingin memastikan wanitanya baik-baik saja.
"Menangis adalah cara yang terbaik melepaskan rasa sakit."
Puk
Seseorang menepuk pundaknya. Sontak pangeran Arshlan menoleh setelah mendengar suara dan merasakan ada tepukan di pundaknya.
"I-ibu?" Sang pangeran terkejut.
__ADS_1
"Ssst!" Ratu Maria tiba-tiba datang dan menepuk pangeran Arshlan.
Ingin pangeran bertanya, sejak kapan sang ibunda ada di Raisilian, namun ratu Maria trlah melangkah maju mendekati sang putri.
Sebelum memanggil putri Estelle, ia melambaikan tangannya ke bawah, pertanda bahwa ia meminta pangeran Arshlan pergi dan tidak menguping pembicaraan mereka.
Sementara itu, sang pangeran menyebik sambil menjauh dari ibunda dan kekasihnya.
"Tuan Putri," sapa Ratu Maria dengan lembut.
Putri Estelle yang terkejut langsung mengusap air matanya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita yang sangat cantik dan berpenampilan cukup seksi dengan pedang tersarung di balik punggungnya.
Memang, penampilan ratu Maria sedikit berbeda dari ibu suri Paula dan mendiang ratu Allura. Saat ini sang ratu menggunakan jubah panjang yang terbelah hingga paha atasnya. Sontak saja hal itu membuat putri Estelle tak menyangka jika yang di hadapannya adalah ratu Maria.
"Maaf. S-siapa, ya?" Putri Estelle ragu-ragu untuk bertanya karena takut menyinggung orang di hadapannya.
"Terakhir kita bertemu, saat itu kau memang masih sangat kecil. Sekarang kau lupa padaku?"
Sang putri mencoba tersenyum canggung. "M-maaf."
"Aku Ratu Maria, ingat?"
__ADS_1