
"Aku curiga, ini sangat mencurigakan," gumam Putri Estelle sambil mondar mandir di balik kamarnya.
"Aku yakin, ada yang disembunyikan oleh Raja Gerald di kamar itu," yakinnya lagi.
Tok tok tok
Suara pintu kamar putri Estelle diketuk.
"Dayang! Lihat siapa yang datang!" titah Sang Putri.
"Baik, Tuan Putri." Sang dayang langsung mengintip melalui celah pintu yang dibuat khusus. "Pengawal pribadi anda, Putri," jawab Sang dayang.
"Suruh masuk!" perintahnya. "Dan kau, keluarlah!" titahnya lagi.
"Baik, Tuan Putri." Sang dayang pun membukakan pintu.
"Silakan!" ujarnya mempersilakan dua orang pengawal itu masuk. Sementara itu dirinya sendiri keluar dan langsung menutup pintu.
"Apa kalian berhasil masuk ke dalam ruangan Sang Raja?" tanya Sang Putri pada dua orang pengawal itu.
"Setelah anda membawa Antony pergi dari sekitar ruang kerja Raja Raisilian, kami mampu melumpuhkan para penjaganya dan berhasil masuk," jawab sang pengawal Putri Estelle.
"Bagus!" puji Putri dengan rambut ikal kecoklatan tersebut. "Lalu apa kalian berhasil menemukannya?" tanya Sang Putri lagi.
__ADS_1
"Maaf Tuan Putri, kami tidak berhasil menemukan kalung tersebut." Pengawal tersebut menjawab dengan penuh penyesalan.
"Iiiish! Bagaimana ini? Kalian bo doh! Tidak bisa diandalkan!" umpat Sang putri lagi.
"Maafkan kami, Tuan Putri." Kedua pengawal itu menunduk menyesali kegagalannya.
"Aku harus berkata apa pada ayahanda?" Tuan Putri terlihat bingung. "Kalau begitu, apakah ada petunjuk dimana kalung itu berada?"
"Sepertinya Raja membawa kalung itu pergi, dan kami hanya melihat tempat menyimpan kalung itu tanpa mengambilnya," jawab salah satu pengawal tersebut.
"Kenapa tidak kau ambil saja itu?" Sang Putri terlihat semakin marah.
Para pengawal semakin kesulitan bicara. Tujuan mereka tidak mengambil wadah kalung itu adalah agar pihak kerajaan Raisilian tidak curiga jika mereka mengincar kalung tersebut.
Setelah para pengawal tadi berhasil melumpuhkan penjaga dari ruang kerja utama Sang Raja, maka dapat dipastikan istana kerajaan Raisilian akan mendapat berita heboh dan mereka akan semakin mengencangkan ikat pinggang untuk tingkat keamanannya.
"Setidaknya kalau kalian mengambil wadah kalung itu, aku punya hal yang bisa dilaporkan pada ayahanda. Aku tidak malu di depan orangtuaku nanti," gerutunya lagi. Sang putri hanya memikirkan reputasinya sendiri tanpa berpikir bagaimana runyamnya kondisi yang akan terjadi setelahnya.
"Aduuuh! Aku mendadak pening!" Sang Putri menjadi aga limbung.
"Tuan Putri." Kedua pengawal itu dengan sigap langsung menyangga Sang Putri dari kerajaan mereka dan mendudukkannya di atas ranjang.
"Pergilah, aku benar-benar pusing!" perintahnya sambil mengibaskan tangan.
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia," jawab Sang pengawal sambil mundur dan berbalik.
"Hei pengawal!" panggilnya lagi.
"Iya, Tuan Putri?"
"Jaga penyamaran kalian!"
"Baik, Tuan Putri," jawab Sang Pengawal.
Mereka pun keluar dari kamar Sang putri dan kembali berbaur dengan anggota keamanan kerajaan Raisilian yang lain.
Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, bahwa setelah ini akan ada kegaduhan di istana kerajaan Raisilian ini.
Tak dapat dielak lagi, berita itu pun sampai ke telinga Yang Mulia Raja.
"Apa?" Raja Gerald terlihat panik saat mendengar berita dari Antony.
"Benda apa yang hilang dari dalam sana?" tanyanya lagi.
"Tidak ada yang hilang, Yang Mulia. Sepertinya mereka mencari sesuatu dan tidak berhasil menemukannya." Antony menjawab.
"Apa mereka mencari ...." Sang Raja menjeda ucapannya.
__ADS_1
Antony terdiam, bahkan ia tak bisa menebak benda apa yang sekiranya dicari oleh pencuri. Karena ia hanya menemukan para penjaga yang tiba-tiba sudah tergeletak di atas lantai.
Raja Gerald merogoh ke dalam sakunya dan memegang sebuah benda yang ada di dalamnya. "Sepertinya mereka mencari ini ...."