Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Aku Punya Saudara 2


__ADS_3

“Seharusnya sudah. Salinan dari laporan hasil tes DNA ini sudah dikirim melalui surel ke Raisilian. Lebih baik kau hubungi saja Eliana.” Ibu suri Theresa memberi saran.


“Ini akan menjadi kabar yang amat sangat baik bagi Eliana. Besok dia akan menikah dengan raja Gerald. Dia sudah pasti akan menjadi ratu di Raisilian,” tambah ratu Allura.


“Ya, dan kita bisa memberi pernyataan terbuka untuk seluruh rakyat jika ratunya itu adalah seorang putri dari Noirland.”


“Ini akan termasuk sebagai salah satu pernikahan royal dua kerajaan.”


Ucapan dari ratu Allura menyadarkan ibu suri akan sesuatu yang terlewat. “Ya ampun!” serunya sambil menutup mulut.


“Ada apa, Nek?”


Ibu suri terlihat seakan sedang menimbang sesuatu. “Kalau begitu, kita harus berpartisipasi atas pernikahan mereka. Apa kau punya koneksi vendor untuk mengatur pernikahan?”


Putri Estelle mengerutkan dahi. “Nenek, pernikahan sepupu Eliana sudah akan dilaksanakan esok hari. Mana mungkin mereka masih kekurangan vendor atau pernak pernik lainnya. Raisilian pasti sudah menyiapkan segalanya.”


“Lagipula, kas kerajaan kita sedang dalam angka merah, Bu. Kita  belum bisa memanjakan putri Eliana kita dalam waktu dekat,” timpal sang ratu sedih.


Kas kerajaan menjadi dalam zona merah diakibatkan kerja sama yang dilakukan oleh raja Jeremy. Kerja sama itu hanya menguntungkan sekilas, namun akan merugikan dalam jangka panjang. Karena raja Jeremy sudah meninggalkan mereka terlebih dahulu sehingga kerugian itu akan dirasakan oleh orang yang ditinggalkannya.

__ADS_1


Namun, karena kelihaian ratu Allura, meski keuangan belum sepenuhnya pulih, setidaknya kerajaan mampu untuk menutupi kebutuhan hidupnya tanpa berhutang dalam setahun ke depan. Itu sebabnya, ratu Allura mengingatkan pada ibu suri jika mereka belum bisa memberi apa-apa pada Eliana di hari pernikahan mereka selain hadiah yang sederhana saja.


“Sudah, tidak perlu sedih. Bagaimana kalau kita beri mereka sebuah paket bulan madu di Noirland saja?” saran sang putri.


“Boleh juga!” Ibu suri Theresa sangat antusias.


“Kalau menurut ibu, bagaimana?” tanya putri Estelle karena ratu Allura diam saja.


Menatap kosong sejenak, setelah itu barulah ia berkata. “Boleh.”


“Yes!” sorak ibu suri dan putri Estelle bersamaan.


Seketika putri Estelle dan ibu suri menyudahi tawa mereka.


“Kita kirim hadiah seperti biasanya saja. Untuk saat ini, kita belum bisa membelanjakan kas kerajaan di luar kebutuhan untuk di dalam kerajaan. Apa kita tidak akan membayar gaji para dayang dan pengawal?” tanya ratu Allura dengan tegas yang membuat dayang-dayang penunggu mereka membelalakkan matanya.


“Iya, kau benar Allura,” ujar ibu suri lirih.


“Besok kalian akan pergi ke Raisilian. Sebagai seorang ratu, saya tidak bisa membiarkan kerajaan tanpa ada pemimpinnya. Saya tidak akan ikut,” ucap ratu Allura.

__ADS_1


“Aku mengerti, Allura. Aku sudah menjadwalkan penerbangan kita ke Raisilian.”


“Terima kasih pengertiannya, ibu. Sampaikan salamku untuk Paula dan kedua mempelai.”


“Itu pasti!”


“Kau sedang apa, Sayang?”


Mereka melihat putri Estelle memegang ponselnya.


“Aku sedang menelepon Eliana.”


Sementara nada tunggu berbunyi tuut tuuut. Mereka bertiga memperhatikan layar ponsel, menantikan panggilan mereka tersambung ke Raisilian.


“Salam hormat hamba, Tuan Putri. Ada yang bisa saya bantu?”


Seorang dayang Raisilian mengangkat panggilan itu. Siapa lagi jika bukan dayang Odeth yang mengangkatnya. Dayang tersebut mengatakan jika calon ratu di istananya sedang bermain bersama anaknya, hingga tak lama kemudian sang dayang pun menyerahkan tablet itu pada putri Eliana.


“Haaai …!”

__ADS_1


__ADS_2