Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Rayuan Sang Kumbang


__ADS_3

"Eemm ... emmmh ...," rintih sang putri.


Pangeran pun sengaja mengarahkan tangannya ke arah yang tadi, lalu dalam sekali gerakan ... ia pun meremasnya dengan cukup kuat.


"Aaaw!" Sang putri menjerit lagi hingga terbukalah bibir yang tadinya tertutup dengan rapat.


Tanpa ragu lagi, sang pangeran tidak ingin menyiakan kesempatan itu. Ia susupkan lidahnya agar bertemu dengan milik sang putri. Namun tangan sang putri menjegal dada pangeran Arshlan dengan kuat.


"Eeemmh ... aaemmh ...." Geraman dari keduanya terdengar. Meski sang putri terlihat menolak, namun setengah bagian dari dirinya ikut menikmati permainan yang memabukkan ini.


Meski ada tangan sang putri yang menghalangi, namun tak surut bagi sang pangeran untuk memegang dan meremas bongkahan itu lagi. "Pangeran ... emmh," rintih sang putri yang merasakan miliknya diremas dengan begitu kuat dari luar gaunnya.


Kali ini sang pangeran lebih agresif lagi, ia sama sekali tak memberi ruang bagi sang putri untuk mengeluarkan selain erangan kenikmatannya.


"Emmmh ...." Lidah mereka saling bertautan. Sulit bagi pangeran Arshlan mendapatkan kesempatan ini. Maka dari itu, ia manfaatkan sebaik mungkin dan membuai lidah putri Estelle dengan sentuhan-sentuhan yang memabukkan.


Cecapan yang penuh dengan saliva saling membasahi bibir satu sama lain. Aroma mint dan vanila yang menyegarkan tereguk dalam lembabnya kenikmatan yang sedang dicari oleh masing-masing.

__ADS_1


Seiring dengan isapan-isapan di antara kedua lidah dan bibir yang tengah menyatu, ada pula remasan-remasan yang semakin mengundang api di antara keduanya.


"Emmmh ...." Sang putri melenguh, kala benda yang mencuat di balik gaun malam disentuh oleh sang pangeran dengan gerakan yang sensual.


Seakan ada kupu-kupu yang menggelitik, tangan itu berusaha menyusup untuk mencari nektar yang manis. Dibelainya dengan lembut putik yang penuh dengan madu.


Sang kumbang pun memberanikan diri untuk mengisap madu setelah ia berusaha menyibak mahkota sang bunga.


Manisnya begitu terkenang, indahnya begitu terbayang, nikmatnya begitu terasa di ambang batas-batas kesadaran. Hampir saja luluh sang bunga dalam bujuk rayu.


Akan tetapi, basah si kumbang berpeluh, juga basah si bunga berair mata.


Pangeran Arshlan melepaskan ci*umannya, ia menyudahi kegiatan yang menggelitik asmara dengan dekapan hangat. Ia satukan dahi mereka berdua, lalu dengan jelas sang pangeran dapat melihat genangan air di pelupuk mata sang putri.


Tangan kekar itu berpindah dari posisinya. Urat-urat jemari yang menonjol dengan jelas sedang menuju ke arah pipi sang putri. Mengusapnya dengan penuh kelembutan, mencoba membuang jejak-jejak kesedihan yang tertinggal dan disebabkan olehnya.


Isakan sang putri mulai terdengar, bulir yang tadinya hanya menggenang kini pun mulai menetes. Tidak hanya pipi, tangan pangeran Arshlan pun ikut terbasahi.

__ADS_1


"Apa kau sedih?"


Sang putri diam saja tak menjawab.


"Maaf," ucap sang pangeran dengan tulus. "Tapi ... asal kau tahu, aku pun sedih jika kau berkata tidak mencintaiku seperti tadi."


Putri Estelle mendongak, menatap manik mata sang pangeran dan mencari-cari titik kebohongan.


Pangeran Arshlan membalas tatapan putri Estelle. Ia dapat melihat cairan yang cukup tebal menjadi kabut bagi pandangan sang putri. Bola mata yang kehitaman itu bergoyang-goyang memantulkan bayangan dirinya. "Aku ... mencin- ... maafkan aku! Aku minta maaf!"


Sang pangeran melepaskan pelukannya pada sang putri.


"Kembalilah ke kamarmu, biar pelayan saja yang membuat ramuan untukku. Ini sudah malam, kembalilah!"


*


Kira-kira si putri balik nggak, ya? Gemes banget aku sama part ini. Bantu aku ya, dengan follow akun noveltoonku yang ini. Terima kasih. 😘

__ADS_1


__ADS_2