
"Maukah kau menjadi Ratuku?" Pertanyaan itu tepat berdengung di telinga Eliana.
Dengan mantap, gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Eli. Aku mencintaimu," ujarnya.
"Hamba juga mencintai Yang Mulia Raja."
Perlahan sang Raja terpejam di atas bahu Eliana dengan posisi yang tetap berdiri dan memeluk Eliana dari belakang.
"Yang Mulia, Yang Mulia, apakah anda sudah tertidur?"
"Hmmm?" Sang Raja sangat terkejut, kala ia membuka mata dan mendapati bahwa sekelilingnya masih malam hari dan mereka bukan berdiri di tepi jendela, melainkan di tepi box bayi Kevin, persis seperti semalam.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan polos.
"Yang Mulia sudah bangun?" Eliana bertanya dengan pertanyaan yang membingungkan sang Raja.
"Apa maksudmu? Terbangun? Apakah aku sudah lama tertidur dengan posisi seperti ini?" Sang Raja melepas pelukannya pada Eliana.
Gadis itu berbalik menghadap sang Raja lalu menganggukkan kepalanya.
"Jadi ... kejadian yang itu, juga cuma mimpi?" tanya Raja Gerald.
__ADS_1
Eliana mengerutkan dahinya lalu menggelengkan kepalanya. "Memangnya kejadian apa, Yang Mulia?"
"Aaah, sepertinya aku semakin gila jika lama-lama bersamamu." Raja Gerald menepuk dahinya. "Aku harus pergi!"
"Yang Mulia tidak jadi tidur di sini?"
Sang Raja tak menjawab dan langsung pergi.
*
Sementara itu, pagi hari di kamar Putri Estelle.
"Hei, Tuan Putri! Ayo bangun pagi! Apa karena kau berada di negara orang lain, lalu kau bermalas-malasan. Sebagai kakakmu, aku sudah memperingatkanmu, ya!" tegur Putri Emilda yang sudah berganti penampilan menjadi dayang dan wajah yang juga sudah bukan lagi sepertinya.
"Bagaimana? Aku sudah sangat mirip dengan dayang Raisilian bukan?" ujar Putri Emilda sambil berputar-putar di depan cermin.
Putri Estelle terdiam tak ingin menjawab.
"Kau harus ingat, adikku. Aku menyamar menjadi dayang istana yang bernama Emma, dan tugasku menjadi pelayan milik calon istri Raja," ucapnya tanpa filter yang membuat Putri Estelle menautkan alisnya.
"Calon istri Raja? Maksudnya?" tanya sang Putri Estelle tak mengerti.
Putri Emilda menyunggingkan senyum miring penuh ejekan. "Aku sudah bisa menebak jika kau tidak akan tahu apa isi dari kamar sebelah kamar Raja, ya, kan?"
__ADS_1
Putri Estelle menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku ... aku memang tidak tahu," jawabnya lemah.
"Untung aku datang ke sini lebih cepat," ujarnya.
"Lalu, bagaimana jika pengawal yang di depan tahu kedatanganmu kemari?"
"Tenang saja, aku sudah membunuh mereka dan mengganti para pengawal bodoh itu dengan pengawal dari kerajaan kita!" jawab Putri Emilda secara tegas.
"Putri Emilda, kau ... kau jahat sekali?" Putri Estelle tak habis pikir pada saudaranya yang satu ini, kenapa semudah itu menghilangkan nyawa seseorang hanya untuk kelancaran rencananya.
"Aku yang terlalu jahat? Atau kau yang terlalu lembek?" ejeknya pada adiknya itu. "Bahkan pengawal yang tertangkap dan ditahan oleh Raisilian pun sudah kubunuh. Aku tak ingin mereka membocorkan identitas mereka pada orang yang menangkapnya!"
"Kenapa kau bunuh juga mereka? Mereka adalah orang-orang kita!" marah Putri Estelle tal terima. "Mereka ditangkap karena menjalankan rencanaku, kenapa tidak kau bebaskan saja daripada kau bunuh mereka, Putri Emilda?"
Dengn kaki terangkat ke tepian meja, Putri Emilda memakai stoking dan menaikkan kaus tipis itu agar membungkus kakinya hingga mencapai lutut.
"Merepotkan! Mereka akan menjadi buronan Raisilian! Biarkan saja mereka mati, sudah kubuat seolah-olah mereka bunuh diri, jadi kau tak perlu khawatir!"
*
Bersambung ...
Yah, ternyata ehm ehm kemarin itu cuma mimpi. Haha.
__ADS_1