
"Lebih baik kau pulang saja! Kau membuat ayah malu saja!" Suara yang didengar dari video call begitu memekakkan telinga. Wajah garang dari seorang yang menggunakan pakaian bangsawan khas Noirland terlihat pada layar.
Seorang gadis di depan layar itu tampak menangis menyucurkan air matanya. Ia menunduk dan tak berani menghadap ke layar dan bertatapan dengan ayahnya.
"Untung ayah mengirimkan putri Emilda untuk menyusulmu, karena ayah ragu terhadap keberhasilanmu! Jika tidak ada Putri Emilda, mungkin rencana ini semuanya akan gagal!" sentak Raja Noirland pada putrinya melalui video call.
Sementara itu, putri Estelle hanya diam saja, sambil menyimpan rasa kesal pada saudara tirinya itu.
"Kau tau? Jika kau gagal, maka yang gagal adalah seluruh kerajaan Noirland! Jadi kau, sebaiknya cepat pulang saja atau kau akan mengacaukan rencana saudaramu di sana!"
Setelah berkata demikian, sambungan video yang menghubungkan ayah dan anak itu pun terputus.
Putri Estelle benar-benar kesal dibuatnya, bisa-bisanya Putri Emilda mengadu pada ayahnya, lalu ayahnya itu dengan terang-terangan memarahinya dan memintanya pulang, dengan alasan takut mengganggu langkah putri Emilda.
Gadis nomor satu di Noirland itu tak terima, jika Putri Emilda mengambil alih perhatian ayahnya seperti ini. Namun bila sang ayah sudah terang-terangan berkata dan memberi pembelaan untuk putri Emilda tanpa mau lagi berpihak padanya, maka tidak ada jalan lain.
__ADS_1
"Lebih baik aku di penjara sekalian, dan rencanamu tak akan berhasil, Putri Emilda!" geram putri Estelle.
*
Keesokan harinya
Semalam Raja Gerald sama sekali tidak bisa tidur, ia kepikiran ke mana dayang Emma kabur? Kenapa rencana kaburnya dayang Emma bisa semudah itu? Siapa dalang yang melancarkan kaburnya dayang Emma?
Tanpa menunggu sang Fajar bangkit dan duduk pada singgasananya, Raja Gerald sudah memutuskan berangkat dan bekerja sejak dini hari.
"Ada apa memang dengan kematiannya?" tanya Sang Raja. Karena sebenarnya hal-hal seperti ini bukan menjadi hal yang penting untuk dilaporkan pada sang raja, namun karena Yang Mulia Raja sedang mencari keberadaan seorang dayang yang kabur dari penjara, maka berita seperti ini menjadi hal yang penting untuk dilaporkan pada sang Raja.
"Dayang yang meninggal itu adalah ... dayang Emma!" jawab Antony dengan mantap.
Raja membelalakkan matanya tak percaya lalu menengok ke arah Antony. "Jangan bercanda kau Antony?" tanya Sang Raja untuk memastikan.
__ADS_1
"Hamba berbicara apa adanya, Yang Mulia. Hasil pemeriksaan DNA dari mayat dayang tersebut hamba simpan di ruang kerja Yang Mulia, silakan Yang Mulia Raja baca sendiri nanti." Antony memberi penjelasan lagi.
Sang Raja mengerutkan dahinya, kenapa semua menjadi serba rumit begini.
"Jika benar itu dayang Emma, maka, ada di mana kalungku itu berada? Ada orang lain yang merampasnya dari dayang Emma?" Raja bertanya-tanya. "Apakah setelah ia kabur dari penjara, ia langsung bunuh diri atau dibunuh begitu saja?"
Antony terdiam dan setia berjalan di belakang sang Raja.
"Silakan, Yang Mulia," ujar Antony mempersilakan Raja Gerald masuk ke ruangannya. "Yang Mulia akan mendapat jawabannya setelah membaca sendiri laporan itu," sambungnya.
Dengan penuh rasa penasaran, Sang Raja pun membuka dokumen tersebut. Ia baca secara seksama dari atas ke bawah, lalu ia pun meremas geram kertas itu.
"Jadi, mayat dayang Emma ini, diperkirakan sudah satu bulan lebih? Itu artinya dayang Emma yang ada di sini selama ini, bukanlah dayang Emma yang asli?" Sang Raja mengungkapkan kesimpulannya setelah membaca dokumen tersebut.
"Betul, Yang Mulia!" jawab Antony disertai dengan anggukkan kepala.
__ADS_1