
"Ini hanya kunjungan dadakan, kebetulan calon istriku ingin melihat-lihat Arshville. Dia bilang, jika dia banyak menghabiskan waktu kecilnya di tempat ini," jawab sang raja hanya beralasan, hal itu membuat Eliana mengerutkan dahinya.
"Ah, hormat hamba untuk calon Yang Mulia Ratu. Semoga proses pernikahan kalian nanti lancar dan diberkati oleh Tuhan," ujar Perdana menteri Arshville. "Kalau begitu, silakan melihat-lihat Arshville, Yang Mulia. Tanah tersubur di daratan Raisilian." Perdana Menteri Arshville membanggakan daerah yang dipimpinnya.
"Terima kasih untuk do'anya." Sang Raja lantas tersenyum.
Eliana bersedih dalam hati. Bahkan Arshville dulu lebih subur daripada ini.
"Di depan adalah pusat perkebunan warga. Silakan dilihat-lihat, Yang Mulia," ucap perdana menteri Arshville lagi.
"Kami akan melihat-lihat sendiri, perdana menteri. Silakan kau lanjutkan pekerjaanmu, kalau ada sesuatu aku akan memanggilmu lagi," tukas Yang Mulia Raja.
"Oh, baiklah, Yang Mulia. Terima kasih atas pengertiannya kalau begitu." Perdana menteri itu pun berbalik badan setelah pamit pada snag raja.
"Eliana, semua pohon sayur dan buah tumbuh subur di sini. Luas pusat perkebunan ini, ada sekitar ratusan hektar, bahkan lebih luas dari tempat pemukiman warga itu sendiri," jelas sang raja.
"Kau mau, buah mangga itu?" tanya sang Raja.
__ADS_1
Eliana terdiam, tidak menggeleng atau mengangguk.
"Atau, jika kau mau, ada buah jeruk di sana. Kau mau?" tawar sang raja lagi.
Karena Eliana terus terdiam, sang Raja pun menepi mendekati salah satu pohon mangga. Tangannya terangkat mencoba meraih sebuah mangga yang menggantung. Namun ....
Set!
Eliana menarik tangan sang raja hingga tidak jadi mengambil buah tersebut.
Eliana menggeleng.
Raja Gerald lalu mengernyit.
"Itu milik warga, jangan diambil, kita mencurinya!" tegas Eliana pada sang raja.
Raja Gerald menyadari kekeliruannya. "Maaf, maafkan aku!" jawabnya.
__ADS_1
"Aku melihat ada intimidasi dari pemimpin tadi terhadap para warga. Apa Yang Mulia sadar, sepanjang perdana menteri itu ada mengikuti kita tadi, tidak ada lagi rakyat yang memberi hormat sepanjang jalan. Mereka langsung masuk ke rumah, mereka sembunyi. Aku sudah menyadari ada yang salah dengan tanah Arshville," jelas Eliana lebih lanjut.
"Lalu bagaimana dengan pusat perkebunan ini menurutmu? Perkebunan ini adalah terobosan baru-baru ini dari perdana menteri yang sekarang," timpal sang raja.
"Perkebunan ini terkesan dipaksakan. Dulu warga bebas menanam apa saja di atas tanahnya. Mereka berkreasi dan berinovasi sesuai dengan kemampuan mereka. Para lahan tumpang sari tersebar di mana-mana. Pohon-pohon hasil perkawinan silang mudah sekali ditemukan. Tidak seperti sekarang, di kebun ini semua tanaman seakan dipaksa seragam." Eliana berhenti melangkah, ia mendekati sebuah pohon mangga.
"Buah mangga ini memang lebat, tapi buah mangga yang dulu lebih lebat lagi." Dia mengusap sebuah pohon mangga yang tergantung dan menjuntai ke bawah, hingga buah itu berada tepat di depan wajah Eliana.
"Bahkan dulu buahnya juga lebih besar dari ini." Kini Eliana membelai buah mangga di hadapannya. Seakan ada perasaan sedih yang disampaikan dari buah itu pada Eliana.
"Semua pohon yang di sini terlihat bersedih, aku bisa merasakannya," ujar Eliana yang kemudian berjalan merentangkan tangannya di antara pepohonan.
Lalu gadis itu berbalik dan mendekat pada sang Raja hingga wajah mereka berhadap-hadapan bahkan hampir saling menyentuh hidung. "Ini bukan Arshville, Yang Mulia Raja ...," bisik Eliana.
Sang raja mendekatkan wajah hingga bibirnya menempel pada telinga Eliana. "Sekali lagi kau seperti ini, aku akan menciummu di tempat umum sekalipun ...."
"Dasar pencuri kesempatan dalam kesempitan!"
__ADS_1