
Akhirnya setelah berhari-hari tak melihat gundukan milik Eliana, hari ini Raja Gerald berhasil mengeluarkannya.
Eliana meneguk salivanya, ia cukup terkejut saat Sang Raja menyentuh kuncup ranum itu. Biasanya, Raja Gerald akan menghindar dari bagian itu, namun saat ini pria nomor satu di kerajaan Raisilian itu malah seakan dengan sengaja memelintirnya dan membuat Eliana merasa geli-geli keenakan.
Kali ini Sang Raja mendekatkan wajahnya ke sana. Sudah lama ia ingin mencecap bahkan menghisap hal yang selalu menggodanya. Apalagi jika melihat bayi Kevin dengan rakusnya meminum dari sana.
Jantung Eliana sudah serasa tak di tempatnya lagi. Ingin sekali ia menjerit dan berlari ke bibi Odeth untuk meminta pertolongan, tapi entah kenapa lidahnya seakan kelu seperti dipatuk ular. Gadis itu diam memasrahkan dirinya sambil menikmati sentuhan dari Raja Gerald.
Cup. Rasa geli bercampur lembab menyentuh ujung kuncup itu. Eliana menahan napasnya saat Sang Raja hendak mengurung titik sensitif itu dengan mulutnya. Ujung-ujung sarafnya menegang saat lidah itu hampir menyentuh ujungnya.
Hanya saja ....
Tok tok tok
Sang Raja menghentikan aktifitasnya. Lidah yang terulur itu gagal mencecap buah mengkal siap petik di hadapannya.
Rahangnya mengeras, giginya beradu satu sama lain saling bergemeletuk menahan amarah. "Antony ...!" teriaknya geram.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu terdengar lagi.
"Siapa?" teriak Raja Gerald dengan sangat gusar.
__ADS_1
"A-ampun, Yang Mulia. Hamba, Antony," jawab suara dari luar itu dengan gugup.
"Ada apa?" tanya Raja Gerald sekali lagi.
"Maaf, Yang Mulia. Para pengawal yang ditugaskan untuk berjaga di mansion timur menemukan sesuatu. Kami harap Yang Mulia bisa melihatnya sendiri," jawab Antony agak keras agar terdengar oleh Yang Mulia.
"Tsk!" Sang Raja berdecak lagi. "Baiklah, tunggu!" Dengan berat hati, Raja Gerald harus menyudahi aktifitasnya. Ia membetulkan kembali posisi penutup berenda itu dan menarik resleting gaun tidur milik Eliana. Seakan tak rela dan mengucap perpisahan pada bongkahan menggiurkan itu.
Jantung Eliana sudah berdetak tak karuan, entah mengapa ia seperti merasa kecewa dengan perginya Yang Mulia Raja.
Raja Gerald pun berdiri. "Eli ... aku pergi dulu," pamitnya pada gadis yang masih duduk di ranjangnya itu.
Cup
*
"Apa yang mereka temukan, Antony?" Raja Gerald bertanya pada Antony yang sudah berdiri di depan kamar Eliana.
"Hamba juga tidak mengerti tempat dan benda apa itu, namun sepertinya tempat itu adalah pintu menuju ke ruang rahasia dan benda itu adalah sebuah kunci untuk membuka pintu tersebut," terang sang penasihat kerajaan itu.
"Apa mereka bisa membawa benda yang menjadi kunci itu kemari?" pinta Sang Raja.
"Sayangnya tidak, Yang Mulia. Benda itu sangat berat dan seperti tertanam pada tanah yang ada di sana," jawab Antony lagi.
__ADS_1
Raja Gerald mengangguk-angguk. "Kalau begitu, siapkan keberangkatan kita ke mansion timur sekarang!" titahnya.
*
Sementara itu, ada seseorang yang bersembunyi di balik lorong sambil memperhatikan gerak-gerik Antony dan Sang Raja.
"Mereka baru menemukan tempat itu sekarang, kita harus segera mengambil dan mendapatkan kalung itu!" titah wanita yang bersembunyi itu pada dua orang pengawalnya.
"Siap, Tuan Putri!"
Lalu ia pun menyeringai.
"Dan ada satu lagi yang tak kalah penting. Bahwa aku sudah menduga! Yang Mulia Raja menyembunyikan sesuatu di kamar itu!"
*
Hai guyz, yang belum follow ig ku, follow ya.
Ig nya: kak.ofa
Dan buat kalian pembaca mendadak khitbah, pasti kenal Ardan-Sasha, doooong...
Nah, aku udah buat part dewasanya untuk Ardan-Sasha. Emang nggak sesuai dengan alur, ini cuma short story tentang mereka aja.
__ADS_1
Cuz liat di story aku.