Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Raja Gerald yang Marah


__ADS_3

"Nah, begini contohnya," ujar Eliana dengan girang sambil mengangkat botol yang telah ia rangkai untuk menjadi media tanam hidroponik.


"Ini bagus sekali. Kebetulan, kita juga memiliki banyak sampah botol yang tidak terpakai." Para warga pun ikut senang dengan cara yang ditunjukkan oleh Eliana.


"Kekurangan dari media ini, kita hanya bisa menanam tanaman-tanaman yang perdu, ringan, dan tidak boleh terlalu tinggi. Rawan juga terserang patogen dari golongan bakteri dan jamur. Maka dari itu, resikonya, kita harus rajin membersihkan botolnya." Eliana menjelaskan kembali.


"Benar sekali, Nona. Saya pun berpikir begitu. Tapi, itu tak apa, cara ini pun sudah sangat membantu." Nyonya Edmund menjawab penjelasan Eliana.


"Kalau begitu, selamat berkarya, ya. Tanaman apa saja yang ingin kalian tanam?" tanya Eliana.


Seorang warga hendak mengacungkan tangannya untuk intruksi menjawab pertanyaan Eliana, namun hal tersebut urung karena seorang pengawal datang mendekati Eliana dan membisikkan sesuatu.


"Nona, Yang Mulia Raja sudah menunggu di mobil. Anda diminta untuk ke sana sekarang," ujar pengawal tersebut.


"Ah, begitu? Baiklah," ucap Eliana yang menyayangkan keberadaan mereka di Arshville hanya sekejap saja.


"Ibu-ibu, bapak-bapak semua. Saya diminta oleh Yang Mulia Raja untuk segera kembali. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa temani kalian. Semangat berkreasi, ya! Setidaknya, tanaman-tanaman yang kalian tanam di pekarangan adalah tanaman yang bisa memenuhi kebutuhan kalian sehari-hari. Semoga berhasil!" Eliana mendo'akan pada para warga lalu ia berbalik dan mengikuti sang pengawal.

__ADS_1


Sementara itu, dari kejauhan, Eliana dapat melihat Yang Mulia Raja dari balik jendela mobil.


Gadis itu tersenyum menyadari jika dirinya telah membuat sang raja menunggu lama.


"Dari mana saja?" tanya Raja Gerald begitu Eliana naik ke mobil.


Wanita itu dengan santainya membenarkan posisi duduknya, membersihkan gaun yang sempat terkena kotoran, lalu membiarkan pengawal menutup pintunya.


"Hey, kau dengar ucapanku!" hardik Yang Mulia pada Eliana.


Wanita itu pun menoleh dengan segera. "Ah, iya, maafkan hamba, Yang Mulia," jawab Eliana sambil tertawa.


"Hamba pun sudah menunggu Yang Mulia, setiap hari. Terkurung dan diam dalam kamar, hamba tak pernah marah. Jadi, hamba berpikir jika Yang Mulia tak akan marah jika hanya menunggu hamba sebentar saja seperti tadi," timpal Eliana tanpa merasa berdosa.


Raja Gerald mengerutkan dahinya. Bahkan kini Eliana berani menyerangnya balik.


Eliana sendiri tersenyum-senyum karena berhasil mengungkapkan uneg-uneg nya pada Yang Mulia Raja, meski dengan sedikit bercanda.

__ADS_1


Namun ternyata, yang tersenyum-senyum bukan hanya Eliana. Melainkan ada Antony yang duduk di depan. Juga menertawakan pembicaraan Eliana dan Raja Gerald.


"Pffft ...." Antony menutup mulutnya, agar tawanya tak terdengar oleh sang raja.


Namun tetap saja raja Gerald mampu mengetahuinya.


"Kau menertawakanku?" bentak raja Gerald dari jok belakang.


"Maaf, Yang Mulia." Antony langsung membenarkan kembali ekspresinya menjadi terlihat serius seperti sedia kala.


"Kenapa Yang Mulia marah pada Antony?" tanya Eliana pada sang Raja.


"Kau tak suka aku marah padanya? Dia menertawakanku!" jawab Raja Gerald terdengar kesal.


"Ya, kalau hanya begitu, Yang Mulia tak perlu marah." Eliana memalingkan wajahnya.


"Kau membelanya?"

__ADS_1


"Iya!"


"Calon suamimu itu aku atau dia?"


__ADS_2