Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Aku Lebih Beruntung


__ADS_3

Hari-hari menjadi ibu baru sungguh melelahkan. Bahkan lebih menyita waktu ketimbang saat sang ratu Eliana mengurus Kevin dulu.


Pasalnya, mengurusi Kevin pada saat itu, sang bayi sudah berusia tiga bulan. Sementara untuk mengurusi putrinya sendiri yang baru saja dilahirkan ternyata membutuhkan tenaga yang lebih banyak.


"Suamiku ...," panggil sang ratu setelah dirinya menidurkan sang putri.


"Iya ...?" Seperti biasa, raja Gerald sibuk dengan laporan-laporan yang ia baca melalui laptop miliknya.


"Aku bangga padamu." Sang ratu memuji suaminya, meski ia tahu jika raja Gerald sedang tidak benar-benar mendengarnya.


Benar saja, raja Gerald diam saja. Bahkan alisnya masih tetap bertaut menunjukkan jika dirinya sedang sangat serius dengan pekerjaannya.


Namun ratu Eliana kali ini tidak marah saat dia diabaikan. Sang ratu malah semakin mendekati raja Gerald dan menyimpan dagunya di atas bahu sang raja.


"Kamu adalah laki-laki yang kuat tapi juga paling lembut yang pernah aku temui," puji sang ratu.

__ADS_1


"Tidak akan pernah ada, seorang raja yang rela mengurus bayi tanpa bantuan orang lain seperti dirimu." Ratu Eliana menyusuri dada Yang Mulia Raja yang hanya tertutupi oleh kaos tipis berwarna biru navy favoritnya.


"Aku sekarang benar-benar merasakan, jika mengurus bayi itu sama sekali tidak mudah. Apalagi untuk seorang laki-laki yang juga memiliki kewajiban lain untuk mengurus kerajaannya." Ratu Eliana masih ingin melanjutkan kata-katanya. "Aku benar-benar tak bisa membayangkan hal itu. Aku sungguh salut pada dirimu."


Ratu Eliana merubah posisinya, dirinya menyimpan kepalanya kembali di bantal dan mencoba memejamkan matanya sebelum sang bayi terbangun dan mengganggu waktu tidurnya lagi.


Tiba-tiba, sebuah gerakan yang begitu agresif menarik tubuh ratu Eliana. Tangan yang kekar memeluk tubuhnya dengan erat.


"Terima kasih," bisik suara berat itu terdengar dari belakang.


Ratu Eliana urung menutup matanya. Dia berbalik dan pada akhirnya hidung miliknya bersentuhan dengan dada bidang sang raja.


Sang raja menunduk, mengecup pucuk kepala ratu Eliana. "Aku mencintaimu. Sangat-sangat, mencintaimu."


"Aku pun begitu. Terima kasih sudah mau menerimaku." Ratu Eliana membalas pelukan sang raja dengan sangat erat.

__ADS_1


"Hanya laki-laki bodoh yang tak mau menerima dirimu," ucap sang raja.


"Hamba hanya seorang gadis miskin. Bahkan hamba, diperlakukan layaknya pembantu oleh keluarga hamba sendiri. Tapi ... Yang Mulia sama sekali tak memandang status sosial hamba. Terima kasih sudah mau melindungi hamba." Sang ratu sesenggukan berlinang air mata saat mencurahkan isi hati pada suaminya tersebut.


Sang raja tersenyum mendengar perkataan istrinya, ia semakin ingin memeluk istrinya itu dan melindunginya dengan segenap jiwa raganya.


"Yang Mulia, ayah hamba hanyalah seorang pemilik hutang kerajaan dengan jumlah yang tak terkira banyaknya. Tapi Yang Mulia sungguh murah hati mau menutupi semuanya," ujar Ratu Eliana yang semakin terharu.


"Itu bukan hutang ayahmu sebenarnya. Ayahandaku lah yang sebenarnya memanipulasi dana penelitian untuk kepentingan pribadinya. Dia bersimpang paham dengan ayahmu, sehingga ayahandaku berusaha menyulitkan paman Louis," jelas sang raja.


"Justru aku yang harusnya merasa bahagia, karena bisa mempersunting gadis luar biasa. Yang ternyata, dirinya adalah seorang putri mahkota kerajaan Noirland. Namun meski begitu, dia tetap lugu dan rendah hati. Maka, siapa yang lebih beruntung di antara kita?"


"Aku lebih beruntung, pokoknya!" Sang ratu menatap mata Raja Gerald dalam-dalam. "Karena ... suamiku seorang raja!"


*

__ADS_1


Bersambung ...


Bersiap ya, sebentar lagi ini tamat.


__ADS_2