
"Hei, aku, kan sudah bilang minta maaf."
Pangeran Arshlan tiba di Noirland saat dini hari bersama ratu Allura. Kini setelah memastikan ratu Noirland itu beristirahat dengan tenang di kamarnya, dirinya kembali menuju ke kamarnya. Namun, ia telah melupakan janji pada seseorang yang telah menunggu sejak berjam-jam yang lalu. Sehingga, beginilah jadinya malam ini ....
"Kalau tau begini, untuk apa kau memintaku memasak?" Putri Estelle datang dan menemui sang pangeran untuk marah-marah.
"Aku memang benar-benar ingin memakan makanan hasil masakanmu. Apa yang salah?"
Putri Estelle cemberut, dia silangkan tangan di depan dadanya dan berdiri membelakangi sang pangeran.
"Yang salah itu, karena kau ingkar janji. Kau tidak pulang tepat waktu, dan masakanku sudah terlalu dingin untuk dimakan. Kalau kau akan datang selarut ini, kenapa minta dimasakan olehku?" Putri sungguh-sungguh marah, dia terlihat kecewa.
"Ah, bukannya aku sudah bilang dalam pesan jika aku akan pulang larut malam bersama ibunda ratu?" Pangeran Arshlan menjawab karena tak ingin disalahkan. "Tapi, kan, aku sudah minta maaf. Aku akan tetap memakan makananmu walau sudah dingin," lanjutnya.
Putri Estelle cemberut tanpa menjawab perkataan sang pangeran. Dia bahkan sudah pergi tanpa pamit, lalu dia juga tak mengabariku beberapa waktu lamanya, dan sekarang dia memberiku harapan palsu.
Putri Estelle juga menggerutu dalam hatinya.
"Semua makanan sudah kubuang, kuberikan pada pelayan agar mereka habiskan. Kenapa? Kau masih ingin? Terlambat!" Sang putri masih terlihat kesal.
"Bagaimana kalau kau memasak lagi kali ini?"
__ADS_1
"Selarut ini? Aku harus pergi ke dapur selarut ini?"
"Aku akan menemanimu."
"Tidak!"
"Oh, ayolah, aku rindu pada ayam bakar buatanmu!"
"Itu hanya ayam bakar biasa, tanpa bumbu atau racikan spesial apapun. Kau bisa mendapatkannya di mana saja!"
"Tidak, buatanmu sangat spesial. Aku bisa merasakan perbedaannya."
Putri Estelle segala beranjak pergi dan meninggalkan pangeran Arshlan.
"Hei, aku ini calon suamimu!"
Sang putri berjalan terus tanpa mau mendengar permintaan pangeran Arshlan.
"Tuan putri yang cantik, aku sudah meminta maaf, kan? Apa itu kurang?" pinta pangeran Arshlan dengan berjalan mundur di depan sang putri.
Sang putri tetap berjalan tanpa melihat pangeran Arshlan.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya aku memang harus mengatakannya segera," ujar sang pangeran.
Putri tetap tak bergeming dari tempatnya langi ini.
"Tuan putri, aku akan pergi ke Raisilian lagi karena aku akan memberi terapi pada ibu suri Paula. Jika kau tidak mau memasak untukku, mungkin satu atau dua bulan lagi aku baru bisa memakan masakanmu," ratap sang pangeran yang tiba-tiba merayu sang putri.
Putri Estelle langsung berhenti di tempatnya mendengar perkataan terakhir sang pangeran.
Ia pun berbalik dan merubah arah tujuannya.
"Putri, kau hendak ke mana?" tanya sang pangeran yang terkejut karna putri Estelle tiba-tiba pergi.
"Ke dapur!" Sang putri menoleh terlebih dahulu. "Ayo! Bukannya kau ingin kubuatkan sesuatu yang biaa mengganjal perutmu?"
Sang pangeran membelalakkan matanya. "Kau benar-benar akan melakukannya?" Hal ini terdengar begitu menyenangkan bagi sang pangeran.
Mereka berdua pun berdua berjalan ke arah dapur istana.
"Aku berjanji akan menemanimu malam ini di sini untuk melihat dirimu membuat sebuah kue sendirian."
"Atau bahkan, aku bisa membantu."
__ADS_1