
"Apa yang dokter katakan tentang perkembangan program ini?" tanya Raja Gerald pada Eliana.
"Anu ... emm ...." Gadis itu masih saja gugup bila bertemu sang Raja.
Raja Gerald memperhatikan Eliana yang terus menunduk dan enggan menatapnya. "Apa begini caramu berbicara dengan seorang Raja?" Suara Raja Gerald terdengar sangar.
"Ampuni hamba, Yang Mulia," jawab Eliana takut.
"Lihat aku!" gertak Raja Gerald.
Glek glek
Eliana menelan ludahnya. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Terlihat bulir-bulir menetes di punggungnya yang masih terbuka. Kenapa seperti ini? Aku kan tidak melakukan kesalahan pada Yang Mulia Raja.
Raja Gerald mendekat pada Eliana. Dia mengulurkan tangannya, kemudian dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya, dia mengapit dagu Eliana, mengangkat wajah gadis itu dan memaksa Eliana untuk menatap padanya.
Mata hazel milik Sang Raja bersirobok dengan mata kecoklatan milik Eliana. Satu dengan tatapan tajam penuh dominasi dan satu lagi dengan tatapan sendu berselimut ketakutan.
"Aku Yang Mulia Raja Gerald sedang berbicara padamu! Dan aku paling benci ketika lawan bicara memalingkan wajahnya dariku," ucapnya sambil melepaskan cengekeramannya pada dagu Eliana dengan kasar. "Kau sekarang tau salahmu?"
__ADS_1
Eliana mengangguk. "Hamba mengerti Yang Mulia," jawabnya.
Yang Mulia memang selalu begini, kadang dia sangat baik padaku. Terkadang juga dia seperti ini. Eliana mengeluh dalam hati.
"Sekali lagi aku tanya, bagaimana perkembangan program induksi laktasi ini?" Raja Gerald bertanya dengan nada lebih santai.
Kali ini Eliana memberanikan diri menatap mata hazel yang memesona itu sebelum ia menjawab. "Programnya berjalan dengan lancar, Yang Mulia. Dokter berkata tubuh hamba sedang dalam proses memproduksi ASI."
"Apa benar kau sudah bisa memproduksi ASI? Tunjukkan padaku!" titah Gerald yang sepertinya ia salah paham.
"Maksud hamba masih dalam proses, Yang Mulia," ralat Eliana. Apa sang Raja ini tak bisa membedakan antara masih dalam proses dan kata sudah?
"Belum, Yang Mulia."
"Kenapa kau bilang sudah?"
"Maksudnya masih dalam proses, Yang Mulia." Eliana menahan kekesalannya karena Gerald yang tak kunjung paham kali ini. Untung dia Yang Mulia, seandainya bukan .... Eliana merutuk dalam hatinya.
"Bagaimana kita bisa tahu jika semua itu dalam proses produksi?"
__ADS_1
"Emm, semuanya terlihat pada perubahan fisik hamba, yang Mulia." Eliana agak malu mengakuinya.
"Apa yang berubah darimu? Aku tak melihat tanda-tanda apapun?" Raja Gerald berkata sambil menilik-nilik Eliana untuk mencari perubahan itu. Ia lihat dari ujung kaki hingga ubun-ubun, dari depan lalu diputar ke belakang. Tidak ada yang berbeda, setidaknya itu menurut Sang Raja Raisilian VII itu.
"Perubahan itu ada di sini," jawab Eliana, namun ia tak berani menunjukkan apapun.
"Di sini? Di mana, Eli?" tanya Raja lagi dengan penuh selidik.
"Di ... di ... pa ... pa yu da ra saya," jawabnya dengan gugup.
Kali ini Raja Gerald yang menelan ludah. "Biar aku lihat!" perintahnya.
Terakhir Sang Raja memijat Eliana pada satu minggu yang lalu. Namun Sang Raja masih mengingat bagaimana bentuk dan ukuran pa yu da ra Eliana saat itu.
Perlahan, Eliana menyingkirkan tangannya. Aku tidak boleh canggung. Jika Sang Raja bisa melakukan ini dengan profesional, maka aku juga harus bisa.
Dada kenyal sang perawan kembali terekspos di hadapan sang Raja yang juga masih bujangan.
Berkali-kali Sang Raja menelan ludah. Ia melihat ukuran milik Eliana membesar hampir tiga kali lipat dari yang ia ingat. Kalau begini, apa aku bisa tahan tanpa melakukan yang lain padanya?
__ADS_1