
"Aku disuruh oleh nyonya Eli! Kau lihat, di lehernya tergantung kalung milik Yang Mulia Raja. Dia yang menyuruhku!" Dayang Emma menunjuk arah kalung platina yang sedang dikenakan Eliana.
Eliana terkejut, ia menelan semua sisa makanan dalam mulut tanpa mengunyah. "I-ini peninggalan ayahku," jawab Eliana terbata-bata karena saking kagetnya.
"Bohong! Jangan percaya!" Dayang Emma mencoba menghasut para anggota keamanan. "Nyonya Eli, kenapa anda ingkar janji? Bukankah nyonya yang berkata akan bertanggung jawab bila pegawai kerajaan menangkapku?" Dayang Emma mengeluarkan air mata palsu.
Eliana menggeleng-geleng kepalanya tak mengerti, apa yang dibicarakan dayang Emma dan tiba-tiba menuduhnya? Apa kalung miliknya ini mirip dengan kalung Yang Mulia Raja yang hilang?
"Apa maksudmu dayang Emma? Aku tak pernah memerintahkanmu melakukan itu, aku cuma meminta tolong untuk kau ambilkan makanan," bela Eliana terhadap dirinya yang merasa tak bersalah.
"Ayo pengawal, cepat kau ambil kalung itu dari nyonya Eli dan segera periksa, itu pasti sama persis dengan kalung milik Yang Mulia Raja!" celoteh Dayang Emma sekali lagi.
Para petugas keamanan saling berpandangan, mana mungkin ia berani mengusik wanita milik Rajanya.
"Tangkap dulu dayang Emma! Kita periksa kalung milik Nona Eli kemudian!" perintah kepala keamanan pada bawahannya.
"Baik!"
Dua dari mereka memegangi tubuh dayang Emma, lalu satu orang mengambil borgol dan memborgol tangan dayang itu.
Namun dayang Emma tersenyum, dia bisa melakukan apa saja justru di ruang penjara. Seorang gadis yang lama tinggal di jalanan, sangat mengetahui seluk beluk lingkungan penjara, tak sulit baginya untuk kabur dari penjara bawah tanah Raisilian.
__ADS_1
Hanya saja untuk sekarang, dia harus berpura-pura tak bersalah sampai para petugas menyadari kalung milik Eliana. Baru kemudian ia akan dibebaskan dengan sendirinya, tanpa perlu bersusah payah kabur dari penjara. Begitu rencana dayang Emma dalam hatinya.
Sesampainya di ruang interogasi, dayang Emma dipaksa masuk ke sana, dan beberapa orang detektif akan mulai memberinya beberapa pertanyaan.
*
Sementara itu, Eliana yang ditinggalkan di kamarnya merasa terkejut. Keributan tadi pun membuat bayi Kevin terbangun dan menangis. Sehingga Eliana harus menenangkan sang bayi terlebih dahulu.
"Sssssh .... Sssssh ...! Cup cup cup!" ujar Eli sambil menggendong bayi Kevin.
Tok tok tok
Suara pintu yang diketuk membuat Eliana menoleh. "Iya, siapa?"
"Masuklah! Ada apa?" ujar Eliana.
Petugas itu pun masuk dan membungkuk memberi hormat terlebih dahulu.
"Ada apa? Apa kalian masih mencurigai saya?" tanya Eliana.
"Maafkan kami, Nona. Tapi kami harus memeriksa kalung milik Nona. Karena kepala keamanan, melihatnya memang mirip dengan milik Yang Mulia Raja."
__ADS_1
Eliana tak punya pilihan lain. Ia letakkan bayi Kevin ke dalam box-nya kembali, meskipun bayi menangis karena tak ingin lepas dari pelukan Eliana, namun Eliana tetap akan melepas kalungnya dan membiarkan sang bayi di dalam box-nya terlebih dahulu.
Beruntungnya, tak butuh waktu lama, Eliana berhasil melepas kalung pemberian ayahnya itu dan memberikannya pada petugas keamanan.
"Ini kalung pemberian ayah saya! Sama sekali saya tidak ada menyuruh dayang itu untuk mencuri kalung milik Yang Mulia Raja. Lagipula, saya tidak tahu kalung Yang Mulia itu bentuknya seperti apa," jawab Eliana.
"Kami akan memeriksanya terlebih dahulu. Nanti kami akan memberikan hasil pemeriksaan pada Nona, maaf untuk ketidaknyamanan ini."
Petugas itu pun pamit undur diri, dan kembali meninggalkan Eliana.
Eliana kembali menggendong bayi Kevin yang terus menangis, sepertinya bayi itu merasa tak tenang seperti yang dirasakan Eliana saat itu.
*
Bersambung ...
Apapun yang terjadi ke depannya, persiapkan hati kalian, ya. Kalau emosi, tolonglah emosi dg sopan. Wkwkwkwk.
Yang pastinya, saya selalu menulis cerita happy ending. Percayalah!
Jangan ding! Jangan percaya ama saya, musyrik entar. Hahaha.
__ADS_1
Dah, sambung lagi nanti, mau bantu mamak beli gas.