Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Haruskah Aku Memenggal Mereka?


__ADS_3

Ctrek


Sang pangeran membuka pemantik gas dan menyalakannya. Kemudian ia sulut batang rokok yang telah terselip di ujung bibirnya.


Fyuuuh


Sembari bersandar pada motornya, pangeran Arshlan mengepulkan asap rokok dari bibirnya. Dia kini sibuk melihat pihak lawan yang lari terbirit-birit.


Sang pangeran tetap santai, meski ia tahu bahwa pimpinan dari kelompok tersebut sedang komat-kamit mengucapkan sumpah serapah untuknya.


"Pangeran, apakah anda baik-baik saja?" Salah seorang pengawal berlari menghampiri.


Pangeran Arshlan tak menjawab, ia menghirup dan mengembuskan lagi asap rokoknya. Baru kemudian ia menoleh untuk melihat ke belakang sang pengawal. Pangeran mengamati bagaimana kondisi para dayang istana Noirland, dan tentunya kondisi calon ratunya, putri Estelle.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya pangeran Arshlan tanpa menjawab pertanyaan sang pangeran.


Pengawal menoleh dan mencari apa yang ditunjuk oleh sang pangeran.


Seorang gadis cantik berambut panjang bergelombang yang sedang mengerucutkan bibirnya dan membersihkan lumpur yang menempel di sekujur gaun peach-nya.


"Emm ... maksud Yang Mulia Pangeran, apa itu putri Estelle?" tanya sang pengawal seraya tersenyum.


Sebelum sang pangeran dan pengawal melanjutkan obrolan mereka, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah pangeran Arshlan menunjuk tadi.

__ADS_1


"Hey! Pangeran mes*m, jika bukan karena kau memintaku untuk mencari ginseng hutan, maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi," teriak sang putri pada pangeran Arshlan.


Sang pangeran tersenyum ke arah pengawal yang sedang mengajaknya bicara tadi. "Dia baik-baik saja! Aku sudah tahu!" ujarnya seraya menepuk-nepuk bahu pengawal tersebut lalu berjalan meninggalkannya.


Pluk


Sebuah batang rokok yang masih tersisa setengahnya jatuh di hadapan putri Estelle.


Srek Srek Srek


Sepasang kaki dengan sepatu boot menginjak rokok tersebut hingga baranya padam.


Putri Estelle mendongak, siapa gerangan pemilik kaki jenjang itu. Walau ia pasti sudah bisa mengira jika itu adalah tidak lain tidak bukan si pangeran Arshlan.


"Ada apa?" ujar sang putri dengan nada dinginnya.


Pangeran Arshlan mengulurkan tangan kirinya, mengapit dagu sang putri menggunakan ibu jari dan telunjuknya.


"Haruskah aku memenggal kepala mereka? Aku sudah berjanji agar kulit ini jangan sampai tergores sedikit pun."


Tatapan mata pangeran Arshlan sangat tajam dan mengerikan. Kini kedua jarinya terlepas dari dagu sang putri, namun punggung tangannya yang kali ini membelai kelembutan pada pipi milik putri Noirland tersebut.


Putri Estelle mematung dan hanya bisa diam saja. Ia tak bisa mengartikan debaran dalam dadanya. Antara perasaan senang dan ... mengerikan.

__ADS_1


Kemudian sang pangeran berdiri, mengelap kacamata dengan ujung jasnya, lalu ia pun mengenakannya kembali.


"Berdiri!" Tangannya terulur ke arah putri Estelle.


Sang putri hanya mendongak namun tak menyambut uluran tangan itu.


Pangeran Arshlan tetap menyodorkan tangannya. "Ayo!"


Namun putri Estelle masih ragu dan enggan memegang tangan sang pangeran.


"Ka-kakiku sakit," keluh putri Estelle menunjukkan mata kakinya yang kemerahan dan lecet.


"Haiiish!"


Akhirnya sang pangeran pun kembali berjongkok, namun kali ini membelakangi sang putri.


"Naik!" titah pangeran Arshlan seraya menepuk-nepuk punggungnya.


Putri Estelle diam.


"Naik! Atau kupenggal kepala para pengawal dan dayang-dayangmu ini karena tidak becus menjagamu!"


Sang putri pun melihat ke sekelilingnya. Para pengawal dan dayang semua menegukkan ludahnya. Seluruh tatapan mereka seakan berkata, "Ayo putri, naiklah!"

__ADS_1


__ADS_2