Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Berangkat Lagi


__ADS_3

"Apa ibu suri Paula benar-benar parah kondisinya?" tanya sang putri ketika mereka sedang makan bersama.


Pagi itu, seperti biasa, para anggota keluarga kerajaan sarapan seperti biasa. Mereka berkumpul di ruang makan istana, ditambah dengan keberadaan pangeran Arshlan di sana.


"Benar, dia sangat parah. Namun, setelah pangeran Arshlan memberi terapi padanya, kondisi vital Paula sudah menjadi lebih baik," jawab ratu Allura.


"Oh, jadi itu sebabnya, pangeran Arshlan akan kembali ke Raisilian lagi?" Ibu suri Theresa ikut bicara.


"Benar, ibu suri," jawab pangeran Arshlan itu sendiri.


Putri Estelle terdiam, ia tidak ikut berbicara lagi. Namun matanya melirik pada pangeran Arshlan.


Pangeran Arshlan menyadari tatapan putri Estelle padanya, namun ia berpura-pura tidak tahu, diam dan terus makan.


*


Seusai sarapan bersama, mereka kembali ke kegiatannya masing-masing. Sementara itu, pangeran Arshlan sedang bersiap untuk ke bandara dan hendak ke Raisilian lagi. Kali ini ia tidak membawa motor atau kendaraan apapun, sehingga ia menggunakan pesawat jet milik kerajaan Noirland untuk kembali lagi dari Raisilian.


Namun pagi itu, sang putri sedang belajar dengan nyonya dosen Arumi. Dan mereka sedang berada di kamar belajar sang putri.


Tok tok tok


Pintu ruang belajar putri Estelle diketuk.

__ADS_1


"Siapa?" tanya nyonya Arumi karena putri Estelle sedang sibuk membaca dan mengerjakan tugas.


"Ada pangeran Arshlan, Nyonya," jawab sang dayang setelah mengintip ke luar pintu.


"Pangeran Arshlan?" teriak putri Estelle antusias. Dia langsung menyimpan alat tulis dsb menutup bukunya.


"Apa anda tidak mengatakan pada kekasih anda, jika saat ini anda sedang belajar dan tidak dapat diganggu, tuan putri?" tanya nyonya Arumi dengan sangat tegas.


Putri Estelle menunduk dan hanya diam. Wajahnya merona bersemu merah kala ia mendengar nyonya Arumi menyebutkan bahwa pangeran Arshlan adalah dosennya.


"Di-dia, bukan kekasihku," cicit sang putri mencoba mengelak.


Tok tok tok


"Ny-nyonya, bolehkah, a-aku menemuinya sebentar?" Putri Estelle mencoba berpamitan untuk sejenak. Nyonya Arumi hanya diam.


"Tunggu sepuluh menit lagi, tuan putri bisa menemuinya setelah mengerjakan satu soal ini!" tegas nyonya dosen Arumi pada mahasiswanya.


Putri Estelle gelisah. Ia tak mendengar lagi ketukan pintu di kamar belajarnya.


Apa dia tidak mau menungguku?


Sang putri berbicara sendiri dalam hatinya. Ia pun mencoba fokus dan mengerjakan soal sebisanya.

__ADS_1


Sementara itu di luar ruang belajar sang putri, pangeran Arshlan kembali dengan perasaan kecewa. Ia tak bisa berpamitan dengan putri Estelle sebelum ia pergi ke Raisilian.


Dia sendiri tak bisa menunggu lebih lama, karena pesawat akan segera berangkat.


"Tolong berikan ini pada tuan putri," pinta sang pangeran seraya berlalu dari depan kamar belajar sang putri.


*


"Sebelah sini, Tuan Putri." Sang dayang mengarahkan pada putri Estelle.


"Apa pangeran Arshlan sudah berangkat?"


"Seharusnya belum, karena pangeran pasti masih dalam perjalanan menuju ke Raisilian."


Putri Estelle panik dan ingin segera pergi setelah menerima surat kecil dari pangeran Arshlan.


"Itu mobil yang membawa pangeran Arshlan, dia sedang berhenti di tepi jalan. Kita harus menyusulnya."


"Kami tak sanggup jika harus menyusul sang pangeran dengan laju mobilnya. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan yang tak masuk akal."


Para pengawal hampir menyerah saat hendak menyusul pangeran Arshlan.


*

__ADS_1


"Sudah kuduga, kau pasti akan mengejar sampai ke mari!"


__ADS_2