
Hanya melihat seperti itu, Eliana merasa sedih, marah, dan kecewa. Ia menyalahkan dirinya sendiri kenapa ia menjadi se-mellow ini? Padahal apa yang ia lihat adalah sesuatu yang biasa saja.
“Kevin …. Mama sedih sekali …,” ucapnya pada bayi Kevin yang bermain-main dengan mengemut punggung tangannya.
“Mengapa Yang Mulia Raja seakrab itu dengan wanita tadi? Apakah dia merupakan seorang kerabat kerajaan?” Lagi-lagi Eliana mangajak bayi Kevin mengobrol dengan lelehan air mata.
“Mama tidak seharusnya berpikiran aneh-aneh, kasihan adikmu dalam perut mama,” ujar Eliana kemudian.
Sambil mendekap bayi Kevin, kemudian wanita itu berdiri dan kembali ke arah jendela. Dia mengintip lagi apa yang terjadi di luar sana dengan membuat sedikit celah pada tirai.
Eliana melihat wanita itu sedang tersenyum kepada sang Raja. Wanita itu nampak malu-malu dan sesekali menutup mulutnya saat sedang tersenyum.
Kini sang wanita membungkuk pada sang Raja. Dia bahkan juga mengobrol dengan tuan Antony? Kenapa wanita itu seakrab ini dengan anggota kerajaan? Apa mungkin dia saudara Yang Mulia.
Eliana pun semakin kesal dibuatnya, dia kembali menutup tirai dan menggerutu di baliknya. Tapi … tak dapat dipungkiri jika dirinya tetap penasaran apa yang terjadi selanjutnya. Dirinya pun mengintip lagi apa yang terjadi.
Tuan Antony sudah tidak ada lagi, tinggal Yang Mulia Raja dan wanita itu saja berdua.
__ADS_1
Tok tok tok
Tak lama kemudian, Eliana mendengar suara pintu kamarnya diketuk.
“Siapa?” teriak Eliana.
Kemudian pengawal yang berada di luar pun menjawab, “Tuan Antony ingin bertemu anda, Nona.”
Pantas saja tuan Antony tidak ada lagi di bawah, ternyata Yang Mulia memintanya ke mari.
“Masuk saja!” jawab Eliana.
Pintu kamar terbuka, dan pria paruh baya yang menjadi penasehat kerajaan itu pun masuk ke kamar Eliana.
Antony terkejut melihat kondisi kamar Eliana. Ia mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan tersebut yang bercahaya redup. Dalam hatinya Antony bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan nona-nya ini? Kenapa dia membuat ruangan dalam kamarnya gelap? Apakah terlalu silau untuk membuka tirai?
“Ada apa?” Pertanyaan Eliana menghentikan tanda tanya dalam benak Antony, pria paruh baya itu membungkuk memberi salam untuk Eliana.
__ADS_1
“Hamba diminta untuk menjemput Nona agar ikut untuk turun dengan saya?” ucap Antony dengan sopan.
Eliana memalingkan muka dengan perasaan kesal.
Apa maksudnya? Apa dia ingin aku menyaksikan perselingkuhan Yang Mulia Raja di depan mata kepalaku sendiri? Mereka suda gila.
Eliana menggerutu merutuki sang raja dan wanita yang dilihatnya itu dalam hatinya.
“Mari, Nona!” ajak Antony sekali lagi.
Kemudian dayang Odeth masuk seperti biasa dan meminta bayi Kevin agar bersamanya lagi. Dia adalah dayang yang memang paling pengertian.
“Biar bayi Kevin bersama saya, Nona.” Bibi Odeth mengambil alih sang bayi ke dalam gendongannya.
Eliana memberikan bayi Kevin, namun ia tetap duduk di ranjang seraya memijit kepalanya.“Ah, aku merasa pusing. Apa aku harus ke sana sekarang?” keluh Eliana pada Antony.
“Ya, Yang Mulia Raja akan marah bila Nona tidak ke sana sekarang,” jawab Antony tanpa ragu yang semakin membuat Eliana kesal.
__ADS_1
Dia marah? Karena aku menolak melihatnya sedang selingkuh? Yang benar saja?
Karena Eliana diam saja, pada akhirnya Antony yang berkata lagi. “Kalau begitu bagaimana jika Nona digotong dengan tandu atau naik kursi roda? Untuk memudahkan anda, Nona? Bagaimana?”