Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Tidak Jadi Pergi


__ADS_3

Sang putri sangat terkejut ketika melihat pesawat telah dipersiapkan untuk kepergiannya ke Raisilian. Ia bertemu dengan pangeran Arshlan yang telah berada di pintu pesawat.


"Aku tau kau akan pergi ke Raisilian, jadi aku sudah menunggumu di sini." Sang pangeran membawa sang putri untuk duduk bersamanya.


Putri Estelle tersenyum getir, ia hanya mengikuti ke mana pangeran Arshlan membimbing tangannya.


"Silakan duduk, tuan putri," ujar sang pangeran yang telah mempersiapkan tempat duduk eksklusif untuk putri Estelle.


"Te-terima kasih," jawab sang putri canggung. Entah kenapa hatinya sangat berdebar. Tapi ... bukan debaran berbunga-bunga karena pangeran Arshlan. Melainkan debaran yang terasa amat sakit dan penuh kekhawatiran.


Putri Estelle duduk, namun ia terlihat gelisah. Pramugari nampak sedang memeriksa kondisi terakhir pesawat dan juga seluruh barang bawaan.


Sang putri tak dapat duduk dengan tenang, tangannya gemetaran, kakinya tak bisa diam.


Perasaan apa ini? Seharusnya aku bahagia karena aku hendak menemui keponakanku yang baru lahir di Raisilian, dan ibu pun sudah terlihat baik-baik saja. Harusnya aku bahagia.


Putri berusaha menenangkan pikirannya.


Aku harusnya merasa senang, tapi ... kenapa hatiku gelisah seperti ini.


Pramugari pun memberitahukan jika pesawat mereka akan lepas landas dalam beberapa detik lagi. Mereka memastikan pangeran Arshlan, putri Estelle para pengawal dan para dayang yang mengiringi sang putri telah memakai sabuk pengaman.


Ctak


Semua menoleh ke arah sang putri.


"Tunggu!" teriak putri Estelle.

__ADS_1


"Ada apa, Putri?"


"Kenapa, Tuan Putri?"


"Apa ada yang salah, Tuan Putri?"


Para dayang dan pramugari bertanya-tanya.


"Aku tidak akan pergi ke Raisilian!" Putri Estelle berdiri dan berlari ke arah pintu.


"Buka pintunya!" titahnya pada seorang pramugari.


Sang pangeran mengikuti ke mana sang putri berlari.


Pramugari telah membuka pintunya. "Hati-hati, Putri!"


Sang putri melotot dan melihat ke bawah, hampir saja ia terjun dari pintu pesawat yang belum diberi tangga.


"Hamba akan menelepon petugas agar memasang tangganya," ujar sang pramugari.


"Terima kasih," ujar sang putri.


"Kamu mau ke mana?" tanya pangeran dengan nada khawatir.


Sang putri meneteskan air matanya. "Aku tidak bisa pergi ke Raisilian," ujarnya.


"Ke-kenapa?" Pangeran Arshlan benar-benar gugup, ia takut yang sebenarnya terjadi diketahui oleh sang putri.

__ADS_1


*


Kembali saat putri Estelle dan pangeran Arshlan menerima telepon dari Raisilian dan berada di kamar selir Sofi. (Eps 309)


"Ada bayi perempuan. Ini sangat menggemaskan. Aku harus segera menengok ponakan cantikku ini!" sorak sang putri begitu antusias.


"Kau mau ke Raisilian?" tukas sang pangeran yang sejak tadi hanya duduk di tepi kasur.


"Seharusnya begitu." Sang putri tersenyum lebar beberapa detik, namun setelah itu ia turunkan lagi ulasan senyum di bibir cantiknya tersebut. "Tapi itu, tidak mungkin. Ibu membutuhkanku."


Putri Estelle langsung bangun dan kembali membuka pintu.


"Haa ...?" Pangeran Arshlan teperanjat begitu melihat seseorang di depan pintu.


"Kau ... kenapa?" Sang putri merasa aneh melihat tuan putri yang terkejut.


"Kau ... itu ... tidak lihat?" Pangeran Arshlan kebingungan.


Sang putri mengedikkan bahu dan memutar bola mata karena ia tidak melihat apapun yang bisa mengejutkannya. "Aku pergi dulu, maaf tidak bisa membantumu, suasana hatiku sedang buruk," pamit sang putri.


Pangeran Arshlan hanya tercengang melihat putri Estelle yang mengabaikan sosok di depan pintu yang jelas tengah berdiri tegak menyapa mereka.


"Ya-Yang Mulia Ratu Allura."


*


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2