Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Tangkap Ayam atau Tangkap Kamu


__ADS_3

"Aku ingin ayam, kenapa kau membuat kue?" tanya sang pangeran ketika melihat sang putri sedang mencetak adonan.


"Tidak ada ayam yang bisa dimasak larut malam begini," jawab sang putri tanpa memedulikan celotehan pangeran.


"Ah, aku ingin makan ayam," keluh sang pangeran lagi.


"Ya, sudah! Tangkap ayamnya saja sana kalau kamu ingin makan!" Putri Estelle menjawab dengan nada yang dingin.


Pangeran Arshlan pun bangkit dan berjalan menuju ke arah pintu dapur.


"Jangan bilang kau benar-benar ingin menangkap ayam malam ini?"


"Kau memintaku menangkap ayam bukan?"


"Iya, tapi ayam siapa yang akan kau tangkap? Di istana ini tidak ada ayam. Kau akan mencuri?" tanya sang putri sembari menyelesaikan adonan terakhir untuk ia cetak.


"Oh, begitu, ya?" Pangeran Arshlan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Putri Estelle memutar bola matanya, lalu ia mengangkat loyang dan menyimpannya di dalam oven untuk ia masak.


Sang pangeran kembali berjalan mendekati putri Estelle yang sedang membungkukkan badan karena mengintip kue yang baru saja ia masukkan dalam oven.


"Aku tangkap kau saja kalau begitu," ujar pangeran Arshlan ikut membungkuk dan memeluk sang putri Estelle dari belakang.


"Hey, lepaskan, apa yang kau lakukan?" tanya sang putri sambil meronta-ronta ingin dilepaskan.


"Kau bilang, tangkap ayam bila aku ingin makan ayam. Maka aku tangkap kamu karena aku ingin memakanmu," ujar sang pangeran seraya tersenyum dan membalikkan badan sang putri agar menghadap ke arahnya.


Putri Estelle mendongak, melihat wajah tampan pangeran Arshlan dari bawah seperti sekarang ini. Tangannya mendorong dada sang pangeran. "Apa maksudmu?"


"Anggap saja sebagai hidangan pembuka," ucapnya seraya membelai lembut pipi sang putri.


Putri Estelle memundurkan wajahnya dan berpaling ke arah kiri agar menjauh dari wajah sang pangeran. "P-pangeran mes*um! Turunkan aku!" pinta sang putri.


Namun, bukannya turun, pangeran Arshlan malah memegangi tengkuk sang putri dengan sangat erat. Tanpa menunggu kesempatan datang dua kali, ia pun mendekatkan wajahnya ke arah sang putri.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan ini ...," desis sang pangeran di depan wajah putri Estelle seraya membelai lembut bibir ranum sang putri menggunakan jempolnya.


Kemudian, bibir cantik milik sang putri pun segera terkurung oleh bibir milik pangeran Arshlan.


Meski putri Estelle memberontak, namun sang pangeran memiliki tenaga yang besar untuk menahan putri agar tidak terlepas.


Ia benar-benar menikmati penyatuan saliva dari keduanya. Sang putri lagi-lagi merasakan debaran itu, kala pangeran Arshlan mendekatkan wajahnya.


Di awal memang putri Estelle agak kaku bahkan cenderung menolak, namun kehangatan dan kelembutan sang pangeran yang membelai tubuhnya, membuatnya luluh. Tanpa menunggu waktu lama, dirinya memberi akses pada pangeran Arshlan agar bisa menyentuh rongga mulutnya semakin dalam.


Tangan sang putri menggelayut manja di leher pangeran Arshlan, ia juga membalas pagutan sang pangeran dengan pagutan amatir sebisanya. Namun, seamatir apapun putri Estelle, pangeran Arshlan tetap menikmatinya.


Jangan lupakan tangan sang pangeran yang berusaha menyentuh bukit milik putri Estelle. Sang putri meronta menghalangi tangan sang pangeran yang berusaha menyusup di balik gaunnya.


"Ssst ... ssst ...."


"Ada apa ...?"

__ADS_1


"Itu ... bukankah itu adalah putri Estelle dan pangeran Arshlan ...?"


__ADS_2