Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Berita Kematian


__ADS_3

"Allura!" panggil ibu suri Paula pada rekannya yang sedang mengobrol di teras bagian timur istana.


"Iya?" Ratu dari Noirland itu menoleh.


"Hari ini kau sungguh-sungguh ingin menjenguk anak tirimu itu ke penjara gua reruntuhan?" tanya Ibu suri Paula meyakinkan.


Ratu Allura mengangguk dengan mantap. "Iya, biar pengawal pribadiku saja yang menemani. Kamu tidak perlu repot menyediakan pengawal atau kendaraan untukku," jawab Ratu Allura.


"Bukan begitu, Allura," balas sang ibu suri sambil menggelengkan kepalanya.


Ratu Allura mengernyit. Ada apa dengan sahabatnya ini? Begitu pikirnya.


"Emilda sudah tiada," ujar Ibu Suri Paula dengan singkat.


Ratu Allura menganga, ia menunjukkan ketidak percayaannya. Begitu pun dengan Putri Estelle yang sangat terkejut mendengar berita dari ibu suri.


"Kamu tidak berbohong, kan, Paula?" Ratu Allura menatap manik mata sahabatnya mencari-cari seandainya ada kebohongan di sana.


Ibu suri Paula menggeleng lemah. "Dia berhasil melarikan diri dari penjara, namun mobil mengalami kecelakaan di area tebing cadas dan mengalami ledakan yang cukup parah. Dia tidak terselamatkan."


Ratu Allura tiba-tiba tersungkur, namun ia masih bisa berpegang pada kursi yang tadi didudukinya.


"Aku ... bagaimana aku mengatakan ini pada suamiku ... aku ... aku ...." Ratu Allura tiba-tiba sesak napas dan itu membuat Putri Estelle terkejut bukan main.


Sang Ratu Noirland itu menepuk-nepuk dadanya hingga akhirnya ia tersungkur dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ibu, ibu, ibu." Putri Estelle bingung bagaimana mengangkat ibunya. Namun para pengawal yang ada di dekat mereka pun sigap.


"Allura!" Ibu suri juga tidak kalah panik seperti sang putri. "Pengawal, ayo angkat Ratu Allura ke kamar!" titah sang ibu suri.


Putri Estelle berlari mengikuti para pengawal itu membawa ibunya.


"Panggil dokter istana, cepat!" Ibu suri memberi perintah pada salah satu dayang.


Seakan tak mau ketinggalan, ibu suri Paula akhirnya juga berlari dengan diiringi para dayang di belakangnya.


"Ibu ... kematian putri Emilda bukan salah ibu, apa ibu merasa terbebani hingga ibu terkejut seperti ini?" ujar Putri Estelle sambil menangis di samping ibunya yang masih belum sadar.


Drap drap drap


Ibu suri akhirnya juga sampai ke kamar Ratu Allura bersama seorang dokter wanita di sampingnya.


"Silakan, dokter." Putri Estelle bangkit dari samping ibunya, ia mundur beberapa langkah untuk memberi ruang bagi dokter yang hendak memeriksa sang Ratu.


Dikeluarkan stetoskop dari balik snelli-nya, kemudian ia memasang earpieces dari benda tersebut di kedua telinganya. Setelah terpasang dengan baik, sang dokter mulai menempelkan bagian diafragma stetoskop ke dada Ratu Allura.


Sejenak sang dokter terlihat berpikir sambil memindah-mindahkan tangannya yang memegang stetoskop.


"Beliau hanya mengalami shock. Dan sepertinya, asmanya juga kambuh." Sang dokter melepaskan tangannya dari dada sang Ratu.


"Saya akan memberi obatnya untuk Yang Mulia Ratu. Juga ada tabung portable untuk konsentrator oksigen, bisa diberikan sebagai pertolongan pertama bila Yang Mulia mengalami kekambuhan," imbuh sang dokter sambil mengeluarkan beberapa obat dan sebuah tabung ke atas nakas.

__ADS_1


"Terima kasih, dokter," ucap Putri Estelle.


"Sama-sama, saya sudah juga sudah menuliskan dosis untuk masing-masing obat." Dokter itu pun membereskan peralatannya. "Saya permisi, Tuan Putri dan Yang Mulia ibu suri."


"Sekali lagi terima kasih."


*


Setelah membuat pingsan Ratu Allura, berita kematian putri Emilda juga telah sampai ke Noirland.


"Kurang ajar! Sofiiiiiiiii!" teriak sang Raja.


"Iya, Yang Mulia Raja?" Wanita yang dipanggilnya itu langsung bersimpuh di hadapan sang Raja Noirland.


"Bodoh! Kenapa anakmu bisa sampai mati? Kau tidak becus mendidiknya, hingga ia tidak bisa menghindari kematian? Hah!"


Plak plak


Selain hardikkan, dua buah tamparan juga mendarat di kedua pipi wanita.


"Kenapa kau selalu salahkan aku ...? Aku juga bersedih karena kehilangan putriku, jika bukan karena dirimu yang merupakan seorang raja, aku sudah lama akan meninggalkanmu ...," gumam wanita itu dengan lirih sambil menahan sakit karena siksaan sang raja.


Buk


"Pergilah!" hardik Raja setelah menendang selirnya sendiri.

__ADS_1


Teruslah siksa aku, Raja biadab! Maka itu artinya kau sedang menggali kuburanmu sendiri. Setelah kehilangan Emilda, tak ada lagi artinya hidupku. Tapi sebelum aku mati, kau harus menuju ke neraka terlebih dahulu.


__ADS_2