Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Konsultasi Laktasi


__ADS_3

"Hamba memberi hormat pada Yang Mulia Raja Raisilian VII," sapa seorang dokter cantik berbalut baju merah tua dan sebuah snelly putih. "Perkenalkan saya dokter Arabella, saya yang akan mendampingi Nona Eli agar bisa menyusui bayi Kevin."


Dokter tersebut tidak datang sendiri, seorang wanita berambut pendek dan ikal juga datang bersamanya. "Hamba Ammy, hamba memberi hormat pada Yang Mulia Raja Raisilian VII. Hamba adalah seorang konselor laktasi yang akan membantu Nona Eli."


"Aku terima hormat kalian, terima kasih telah datang memenuhi panggilanku!"


"Ini merupakan kehormatan bagi kami, Yang Mulia."


"Sepertinya Antony sudah menjelaskan segala sesuatunya pada kalian berdua," ujar Raja Gerald. "Aku harap Eli bisa segera menyusui Kevin."


"Kami akan berusaha sekeras mungkin," jawab dokter Arabella.


"Dan satu lagi, kalian harus merahasiakan hal ini. Kevin adalah Rahasia di kerajaan ini."


"Hamba mengerti Yang Mulia."


"Kalau begitu, mari kita mulai konsultasinya." Dokter Arabella memulainya. Ammy sebagai seorang konselor mengambil sebuah catatan.


"Tapi sebelumnya, bisakah kita melakukannya secara privat?" Dokter Arabella menginterupsi sambil melirik pada Antony.


Pria tua itu pun menyadarinya. "Ehm ... ehm ...." Antony berdehem. "Saya ... permisi terlebih dahulu," pamitnya sambil meninggalkan kamar.


"Jadi ... berapa usia bayi Kevin ini, jika saya boleh tahu?"

__ADS_1


"Tiga bulan, tepat minggu depan dia menginjak usia tiga bulan." Raja Gerald yang menjawab.


"Apa sebelumnya bayi Kevin sudah minum menggunakan botol susu?" tanya Ammy lagi.


"Kalian pikir, kalau tidak menggunakan botol susu aku harus bagaimana memberikan susu untuknya?" Raja Gerald menjawab dengan agak sinis.


"Tenang, Yang Mulia ...," bisik Eliana.


Dokter Arabella dan Konselor Ammy agak terkejut. Ia takut menyinggung Raja mereka.


"Emh, Ammy lanjut ke pertanyaan berikutnya," pinta dokter Arrabella.


"Ehm ... baiklah. Sejak kapan Nona Eli bertemu dengan bayi Kevin?"


"Baru kemarin," jawab Raja Gerald menyela Eliana.


"Sudah seberapa dekat Nona Eli dengan Bayi Kevin?"


"Belu--


"Belum terlalu dekat, mereka kan baru bertemu." Lagi-lagi Raja Gerald menginterupsi.


"Kami memang belum terlalu dekat, tapi ... aku menyayangi bayi Kevin. Sangat menyayanginya," sela Eliana yang tidak ingin didahului oleh Raja Gerald. Ia pun mencium kening bayi Kevin yang sedang berada dalam gendongannya.

__ADS_1


"Jadi ... sebenarnya, Kevin sangat sulit untuk dekat dengan orang lain. Waktu itu ... aku yang menyelamatkannya di hari kematian ibunya, mungkin dia memiliki ikatan batin denganku sebagai penyelamatnya, mungkin," jelas Raja Gerald.


Sementara itu, Dokter Arabella dan konselor Ammy menyimak penjelasan sang Raja dengan seksama.


Kemudian Raja Gerald melanjutkan kata-katanya. "Jadi ... dia selalu ingin bersamaku semenjak hari itu. Banyak pengasuh yang kudatangkan untuk mengasuh Kevin, tapi dia selalu menangis dan tidak mau bersama mereka," lanjut Raja Gerald.


"Namun ... Nona Eli adalah pengecualian untuk bayi Kevin, bukan begitu?" Dokter Arabella menebak.


Sang Raja pun mengangguk.


Eliana melihat gurat sedih dalam wajah Raja Gerald. Dia Raja yang sangat baik, hatinya sangat lembut, di balik ketegasan dan wibawanya, siapa yang tahu jika dirinya mengasuh bayi dengan penuh kasih sayang seperti ini.


"Jadi ... sejauh mana kesiapan Nona Eli untuk menjadi ibu persusuan bayi Kevin?" tanya konselor Ammy.


"Dia sangat siap, bukan begitu, Eli?" Raja Gerald menatap Eliana.


"A ... apa? Iya?" Eliana gugup.


"Aku melihatmu mencoba menyusui Kevin tadi pagi, bukankah itu artinya kau bersedia menjadi ibu susu Kevin?" Raja Gerald keceplosan.


Mendengar perkataan Rajanya seperti itu, wajah Eliana langsung memerah, dari pipi hingga ke telinganya. Kepalanya terasa sangat panas.


"Jadi ... Yang Mulia telah melihatnya?" Eliana refleks memegang dadanya. "Tidaaaak!"

__ADS_1


__ADS_2