Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Putri Estelle Di Luar Kamar


__ADS_3

Dengan pulasnya, Sang Raja tidur sambil memeluk bayi Kevin di atas ranjang yang seharusnya menjadi milik Eli.


Setelah semalam ia menempuh perjalanan pulang pergi dari mansion timur menuju ke istana Raisilian dan tidak sempat tidur, kemudian pagi harinya dia malah menggoda Eliana sambil bermain-main dengan gadis itu, hingga sekarang Sang Raja tepar dan langsung ambruk dalam lelapnya.


Sementara itu, Eliana terdiam seorang diri di kamarnya karena bibi Odeth telah pergi sejak tadi.


"Aku harus apa kalau begini?" gumam Eliana.


Lama Eliana melamun dalam kamarnya, ia duduk di atas sofa sambil memakan buah-buahan sisa Sang Raja tadi, berusaha untuk tidak bersuara demi kenyenyakan dua pria yang terlelap di atas ranjangnya. Lalu, ia menatap ke arah pintu karena seakan mendengar kegaduhan dari balik sana.


"Pengawal! Biarkan aku masuk!" Sebuah suara teriakan terdengar dari luar pintu.


"Maaf, Tuan Putri, tidak semua orang diizinkan masuk ke dalam ruangan ini," jawab sang pengawal melarang.


Eliana penasaran, ia pun berdiri dan menghampiri pintu. Dengan jantung berdegup kencang, ia tempelkan telinganya ke arah pintu untuk lebih mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana.


"Memangnya ini kamar siapa? Apa ada anggota keluarga lain yang tinggal di sini?" tanya Sang Putri dengan sedikit ngeyel.

__ADS_1


Tidak ada suara pengawal yang terdengar menjawab. Eliana semakin merapatkan telinganya pada pintu.


"Ok, aku tidak akan memaksa masuk, tapi katakan apa yang ada di dalam sini?" Sang Putri mencoba mendesak para pengawal.


Kedua pengawal masih diam saja, tak terdengar ada jawaban dari telinga mereka.


"Di sana adalah bekas ruang kerja Raja Raisilian V." Jawaban ini terdengar dari suara Antony, Eliana masih mendengarkan dengan seksama. "Sebelum Sang Raja meninggal, dia mewasiatkan jangan sampai ada orang yang masuk ke kamar tersebut kecuali anggota keluarga kerajaan." Ini adalah alasan yang mengada-ngada dari si tuan penasihat Raja Raisilian.


"Benarkah itu tuan Antony?" Suara Sang Putri terdengar sangat terkejut.


"Tanyakan saja pada para pengawal!" Antony memberi perintah.


Beberapa detik hening, lalu suara yang Eliana kenali sebagai suara dari sang pengawal terdengar. "Dulu ... anu ... kami ... maksudku ... sang pelayan, iya sang pelayan pernah mencoba membersihkan ruangan ini. Namun dia ... emm ...." Pengawal tersebut terdengar ragu menceritakan kebohongannya.


"Namun dia saat itu langsung kejang-kejang dan dari mulutnya keluar busa. Sangat mengerikan." Sang pengawal yang lain menimpali dengan kebohongan yang lebih lancar.


"Tuan Putri bisa dengar sendiri, kan?" Antony masih mencoba merayu Tuan Putri. "Di sana sangat berbahaya. Ayo kita pergi dari sini, nanti bila Yang Mulia sudah tiba, saya akan segera mengabari Tuan Putri," lanjut Antony.

__ADS_1


"Baiklah," jawaban dari wanita yang dipanggil Tuan Putri itu terdengar tak rela.


Setelah suara di luar kamarnya tidak terdengar lagi, Eliana kembali duduk di sofa.


"Itu tadi ... tuan putri siapa, ya?" Eliana bertanya-tanya.


Gadis itu mengerutkan dahinya. "Apa jangan-jangan Tuan Putri Estelle yang dimaksud bibi Odeth?"


"Jadi ... dia yang akan menikah dengan Yang Mulia Raja Gerald?" Suara Eliana terdengar lesu dan tatapan matanya berubah menjadi sendu.


"Aku tidak akan menikah dengan siapapun." Sambil menyembunyikan wajahnya dari guling yang ia jadikan sebagai bantalan kepala, Raja Gerald menyahut kata-kata Eliana.


Gadis itu langsung menatap ke atas ranjang. Terlihat sang Raja sedang telungkup dengan wajah yang ia sembunyikan dalam guling.


"Jangan sedih, tenang saja aku tidak akan menikah dengan siapapun." Raja mengangkat sedikit wajahnya hingga bagian matanya terlihat oleh Eliana.


"Aku tidak sedih ...," elak Eliana dengan lirih.

__ADS_1


__ADS_2