Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Jamur Di Belakang Mansion 2


__ADS_3

"Yang Mulia Raja, semua jamur yang anda minta telah kami kumpulkan," ucap sang pengawal begitu ia menghadap pada Rajanya.


"Simpan semuanya. Serahkan jamur-jamur itu pada laboratorium utama kerajaan Raisilian nantinya!" perintah Raja Gerald sambil pergi menuju ke luar mansion.


Ia melewati banyak sekali kain putih yang menjulang karena menutupi furniture-furniture. Langkah tegap sang Raja diikuti oleh pengawal-pengawalnya.


Kemudian pria pemimpin Raisilian tersebut masuk ke dalam kamar pertama yang ia masuki. "Kakak, aku pergi dulu! Aku janji akan merawat mansion ini." Raja Gerald berucap sambil menatap foto kakaknya yang terpajang di atas meja. "Aku juga sepertinya menemukan sesuatu atas kematian kalian berdua," lanjutnya. "Semoga kalian bisa tenang di alam sana jika semua kebenaran terungkap." Raja Gerald terdengar berharap.


Tak lama ia menatap potret Raja Raisilian VI dan langsung keluar kembali dari kamar.


"Ayo kita pergi!" ajaknya pada para pengawal.


Raja Gerald keluar dan menemui empat orang pengawal yang menunggu di luar.


"Bagaimana keadaan di sini?" tanya Raja Gerald.


"Semua aman terkendali, Yang Mulia." Pengawal yang di depan pintu menjawab.


"Ayo sekarang kita kembali ke istana!" Raja Gerald berjalan menuju ke mobilnya.


Sementara para pengawalnya menuju ke kendaraannya masing-masing.


Perjalanan dari Istana Kerajaan Raisilian menuju ke Mansion di bagian timur kerajaan, memerlukan waktu sekitar empat jam perjalanan.

__ADS_1


Akan diperkirakan jika rombongan kerajaan ini akan tiba di istana pada pukul tiga dini hari.


Sementara itu, seorang gadis yang baru berpindah dari kamar Yang Mulia Raja menuju ke kamar barunya, sedang menikmati suasana baru pada ruangan itu.


"Bibi Odeth! Apa Yang Mulia Raja terganggu karena keberadaanku di kamarnya?" tanya Eliana sambil menyusui bayi Kevin menggunakan SNS.


Bibi Odeth menggelengkan kepalanya. "Sepertinya bukan begitu, Nona!"


"Kalau begitu, lalu kenapa?" tanya Eliana penasaran.


Bibi Odeth tersenyum melihat kepolosan Eliana. "Sudahlah, Nona Eli! Bukankah jika Nona dipindahkan dari kamar Yang Mulia itu lebih baik? Tidak perlu Nona bertanya-tanya apapun penyebabnya," jawab dayang Odeth agar Eliana tak berpikiran buruk pada sang Raja.


"Iya, benar juga apa yang dikatakan bibi!" Eliana kembali fokus pada bayi Kevin daripada memikirkan sang Raja.


"Kenapa, Nona?"


"Raja Gerald katanya sedang pergi?"


"Mungkin, tadi aku melihat Antony menyiapkan pasukan pengawal untuk menemani Yang Mulia Raja. Sepertinya, memang benar Yang Mulia Raja Gerald sedang bepergian."


"Apa bibi tahu?"


"Tahu apa?"

__ADS_1


"Tahu kemana Yang Mulia Raja pergi?"


"Tidak!" Dayang Odeth menjawab seadanya.


"Hmmm," jawab Eliana dengan wajah sedihnya.


"Memangnya kenapa, Nona?" Dayang Odeth bertanya-tanya.


"Tidak. Tidak apa-apa!" Eliana mencoba biasa saja. Namun jujur saja, ia malah merasa ada yang hilang dalam dirinya.


Apalagi sekarang ia sudah berada dalam kamar yang terpisah dari Yang Mulia. Kenapa rasanya seperti pasangan suami istri yang sedang pisah ranjang?


Dayang Odeth menatap Eliana yang sedang termenung sambil menggendong bayi Kevin dengan perangkat SNS yang menggantung di dadanya. "Nona ...?" panggilnya.


"Kenapa, Bibi?" Eliana menatap pada dayang Odeth.


"Apa Nona jatuh cinta?"


"Jatuh cinta? Pada siapa?"


"Pada Yang Mulia Raja? Ya, 'kan?"


Eliana menganga. Nggak mungkin! Bibi Odetg memang suka sembarang kalau bicara.

__ADS_1


"Bibi, aku ini hanya dayang, pelayan, pengasuh bayi. Mana mungkin aku boleh jatuh cinta pada Yang Mulia Raja?"


__ADS_2