
Sementara Putri Estelle dan Ibu suri saling berbincang-bincang. Antony, di ruang tahanan bawah tanah, sedang digegerkan dengan kematian dua orang tahanan mereka yang baru saja ditangkap beberapa hari yang lalu.
Mayatnya tergantung di atas langit-langit ruang tahanan. Bahkan tahanan lain dengan ruangan sel yang bersisian pun sama sekali tak menyadarinya. Kapan dan bagaimana mereka berdua mati.
"Interogasi mereka bahkan belum selesai, namun mereka sudah melakukan bunuh diri," kesal Antony yang sedang berada di tempat kejadian perkara. "Bagaimana aku mengabarkan berita buruk ini pada Yang Mulia ...?" khawatirnya.
Menatap dengan takut, semua tahanan yang berada pada sel lainnya saling menunduk tak ada yang berani mendongak.
Antony terkejut dengan atmosfer dingin dan mencekam yang tiba-tiba ini.
Drap drap drap
Derap langkah menuju ke ruangan itu membuat Antony dan para penjaga tahanan yang ada mendongak.
"Yang Mulia? Anda sudah mendengar kabar ini?" Apa yang dikhawatirkan Antony pun terjadi.
"Sepertinya ada orang yang sengaja membunuh mereka!" geram Yang Mulia Raja tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaan Antony yang sebelumnya.
__ADS_1
Mengeratkan rahang dan mengepalkan tangan, Sang Raja menunjukkan kegeramannya.
"Tapi ... Yang Mulia, seluruh anggota forensik menyatakan jika keduanya mengalami kematian bunuh diri, bukan dari korban pembunuhan," ralat Antony tanpa berusaha menyinggung Sang Raja. "Memang hasil autopsi belum keluar, namun dugaan sementara seperti itu," imbuhnya.
Yang Mulia Raja melirik pada Antony lalu berkata pada penasihatnya itu. "Jika tidak terbunuh, maka ada yang mendesak dan mengancam mereka untuk bunuh diri!" seru sang Raja dengan yakin.
"Kalau begitu, saya setuju. Karena sejak awal, mereka juga sama sekali tidak mau berkata apa-apa. Saya curiga, jika ada yang menekan mereka agar tidak membuka mulutnya," timpal Antony.
"Minta tim forensik agar bergerak cepat! Aku ingin segera mengetahui hasil autopsi kedua jenazah tersebut!" titah Sang Raja. "Dan segera berikan padaku hasil rekaman cctv," pinta Raja Gerald lagi.
"Segera dilaksanakan, Yang Mulia." Antony menjawab dengan khidmat.
Satu rencananya untuk mengetahui siapa orang yang menginginkan kalung itu pun gagal.
Sang Raja merasa harus semakin waspada karena ternyata pencuri itu tidak menyerah dengan rencananya.
Raja Gerald duduk di singgasananya, menumpu dagu menggunakan sebelah tangannya. Sebisa mungkin ia tidak boleh kalut dengan masalah yang terjadi saat ini.
__ADS_1
"Sepertinya kalung peninggalan kakanda Gerry sangat berarti." Raja bergumam sambil menegakkan kembali tubuhnya.
Ia meraba pada saku celana bagian kanannya, lalu merogoh untuk mengambil benda peninggalan kakaknya itu.
Ditatapnya kalung dengan bandul setengah lingkaran itu, ukiran angka 6 terdapat pada bandul yang terbuat dari platina tersebut.
"Apa istimewanya kalung ini?" gumam Raja Gerald bertanya-tanya.
Kalung platina bukanlah perhiasan yang langka, mudah didapat dimana saja. Namun jika sang pencuri mengorbankan banyak hal hanya untuk kalung ini, bahkan hingga menyusup ke istana, sepertinya kalung ini memang bukan kalung smebarangan.
Raja Gerald memasukkan kembali kalung tersebut pada sakunya.
"Yang Mulia, Antony menghadap dan memberi hormat." Antony datang dan bertekuk lutut di hadapan singgasana Raja.
"Hormat diterima, ada laporan apa?" tanya Sang Raja tanpa basa-basi.
"Rekaman cctv pada saat waktu kejadian tidak ditemukan. Semua file hilang dan dinyatakan rusak. Tim digital forensik sedang menanganinya."
__ADS_1
"Sehebat apa pencuri ini? Mengapa mereka bisa melampaui kemampuan teknologi kerajaan kita?"