
"Baiklah, kalau begitu." Sang putri mengangguk dan berbalik arah, namun baru dua langkah ia meninggalkan sang pangeran, putri Estelle kembali berbalik menatap pangeran Arshlan.
"Jika memang kedekatan kita tidak seberarti itu, batalkan saja semuanya. Sesukamu, aku tidak peduli!"
Putri Estelle mulai menitikkan air matanya. Gelombang dalam hatinya itu mulai surut dengan teratur, mundur untuk menghitung waktu.
"Aku ... aku pikir kau tulus mencintaiku, dan pernikahan politik itu hanya akal-akalanmu saja untuk mendekatiku. Tapi teryata aku ... aku terlalu naif. Aku yang terlalu naif, kau tidak pernah bersungguh-sungguh sedikitpun saat bersamaku."
Sang putri mulai tak bisa mengontrol napasnya. Ia mulai sesenggukan ditengah kata-katanya. Gelombang itu kini mulai pasang, naik dengan begitu tinggi sangat tinggi dan tak terkendali.
"Baiklah, jadi selama ini aku bodoh. Aku yang terlalu terbawa perasaan atas setiap perilakumu. Aku menganggap serius atas semua kebaikan dan kelembutanmu padamu, pada keluargaku ...."
Pangeran berdiri membelakangi sang putri, ia mendengar kata-kata yang merupakan pengakuan dari putri Estelle untuk pertama kali. Hatinya cukup bergetar, hingga membuat langkah kaki dan tubuhnya bergerak di luar kemauannya.
Sang putri pun melanjutkan ucapannya. "Maafkan aku, aku sudah salah paham. Kau berhak membatalkan semua ini. Aku su-"
Cup
__ADS_1
Pangeran Arshlan bergerak ke arah sang putri tanpa disadari oleh sang putri itu sendiri. Sang pangeran tiba-tiba sudah berada di hadapannya, dan membungkam bibirnya yang sedang berusaha untuk melanjutkan kata-katanya.
Ia berusaha meredakan kembali gelombang pasang yang sudah terlalu tinggi.
Putri Estelle terlalu terkejut kala bibir basah sang pangeran mel*umat bibirnya. Namun lambat laun, ia pun mulai membalas pag*utan dari sang pangeran.
Mereka berpelukan di trotoar pinggir jembatan. Siang itu, di tengah matahari yang sedang terik. Sebongkah salju mendinginkan hati masing-masing.
Gelombang itu meluruh dan berubah menjadi buih-buih yang beriak dengan halus.
Pangeran menci*um sang putri dengan penuh kelembutan, ia bisa merasakan air mata sang putri yang bercampur dengan peluh dan saliva.
Pangeran Arshlan ingin sekali menghisap seluruh madu yang disajikan oleh putri di hadapannya. Namun, ia menyadari jika sang putri mulai kehabisan napas dan berusaha melepaskan pertautan mereka.
"Aku ... hanya takut kau tertekan dengan perjodohan kita." Sang pangeran berkata setelah ciuman mereka selesai. Pangeran Arshlan menyatukan dahi mereka berdua dan berusaha menghapus jejak air mata di pipi sang putri.
Putri Estelle terdiam, ia masih menunduk dan tidak berhenti menangis. Namun tangannya, masih belum melepas pelukannya pada sang pangeran.
__ADS_1
"Jika kamu ingin bertemu dengan pria yang kau cintai, kau bisa menemuinya sekarang," lanjut sang pangeran.
"Bod*oh! Pangeran Arshlan, aku benci kamu!" umpat sang putri yang menjadi kesal pada pangeran di hadapannya karena berhasil meluluh lantahkan perasaannya.
"Aku membebaskanmu dan kau malah membenciku?"
"Iya, karena kamu - kamu bod*oh!"
Sang pangeran tersenyum. "Sepulang dari Raisilian, aku akan membawa ibuku menemui keluarga kerajaan Noirland."
Sang putri tersipu. "U-untuk apa?"
"Ayo kita menikah."
*
Uhuk, aku ... aku ... kadar gula dalam darahku naik. Tolooooong! Author gejala diabetes.
__ADS_1
🤣